
Arin terduduk lemas di toilet pagi ini. Baru saja dia melihat kenyataan pahit bagi dirinya. Dua garis merah di testpack yang dia gunakan sebelumnya.
"Aku hamil," ucapnya sambil bergetar di bibir wanita itu. Dia tidak tahu harus senang atau sedih. Meski malam itu dia begitu menginginkan Arman. Namun dia tidak menyangkan hubungan semalam sudah bisa membuatnya positif hamil.
"Gimana ini? Aku belum siap?" gumamnya khawatir pada dirinya sendiri.
Di sisi lain Geo memilih tidak pergi ke kantor hari ini. Karena dia ingin mengantar istrinya melakukan pemeriksaan kandungan.
"Udah siap?" tanya Geo pada istrinya sebelum mereka berangkat ke rumah sakit.
"Iya, ayo berangkat," ajak Kiara. Geo mengangguk dan segera membukakan pintu mobilnya. Mempersilahkan sang permaisurinya untuk masuk ke dalam mobil.
Kiara tersenyum melihat perhatian Geo padanya. Mereka segera menuju ke rumah sakit dimana Kiara memeriksakan kandungannya.
Ketika sampai di sana, Geo dan Kiara segera menuju ke ruang dokter kandungan.
"Sayang, bukannya itu sahabat kamu ya?" tunjuk Geo kepada seseorang yang baru saja keluar dari ruang dokter kandungan.
"Arin?" Kiara segera mengenali siap yang di tunjuk Geo. Segera Kiara melangkah menuju ke arah Arin. Menghentikan langkah wanita itu.
"Arin!" panggilnya.
Arin seketika terkejut dengan suara yang memanggilnya itu.
"Mbak Kiara, mas Geo," sapa Arin panik. Dia segera menyembunyikan hasil pemeriksaannya di belakang punggungnya.
"Kamu ngapain di sini Rin?" tanya Kiara.
__ADS_1
"Ah itu mbak tadi cuma nganter teman kok, ya nganter teman aja," bohong Arin.
"Nganter teman, terus apa yang kamu sembunyikan itu?" Kiara penasaran dengan sikap Arin yang terlihat sangat gugup. Seolah wanita itu tengah menyembunyikan sesuatu.
"Oh ini, hanya kertas biasa aja kok mbak." Arin masih saja mencari alasan untuk bisa lepas dari kecurigaan Kiara.
Tapi Kiara masih saja penasaran. Dia merebut kertas itu dari tangan Arin yang masih berada di belakang punggungnya.
"Mbak jangan!" cegah Arin. Namun Kiara dengan cepat membacanya.
"Apa? Kamu hamil!" Kiara terkejut melihat apa yang tertulis di dalam kertas itu.
"Arin, katakan siapa dia?" tanya Kiara sambil mengguncang kedua pundak Arin.
Arin masih diam, dia takut mengatakan kenyataannya pada Kiara.
Geo hanya bisa menahan istrinya untuk melepaskan Arin.
"Tenang dulu Kiara, Arin sepertinya masih tertekan," ucap Geo menenangkan istrinya.
"Huuuh, ayo pulang, bawa Arin juga!" ucap Kiara.
"Ayo Rin ikut kami," pinta Geo.
Arin hanya bisa mengikuti keduanya, dia pasrah jika Kiara akan memarahi dirinya kali ini. Toh semua sudah terjadi. Dan sekarang dia harus menanggung konsekuensi dari apa yang dia lakukan saat malam itu.
Ketika ketiganya sampai di rumah milik Geo dan Kiara. Arin terduduk diam di sofa ruang tamu. Di depannya Kiara bersiap mengadili Arin. Sedangkan Geo tengah sibuk mengambil minuman untuk keduanya.
__ADS_1
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi Rin? Katakan sama mbak?" bujuk Kiara.
Arin menatap jauh ke dalam kedua mata Kiara.Ada kepedulian yang begitu besar di sana. Arin tahu wanita di depannya ini sudah seperti kakak baginya.Pantas bagi Kiara untuk khawatir ketika sang adik mengalami hal buruk seperti sekarang.
"Maafin Arin mbak, udah membuat mbak kecewa," jawab Arin pelan sambil tertunduk lesu.
Kiara menghela napas panjang. Berat rasanya melihat Arin harus hancur seperti ini.
"Siapa dia Rin?" tanya Kiara.
"Biarkan dia bertanggung jawab, jika tidak mau mbak yang akan memaksanya!" lanjut Kiara ketika melihat Arin tak meresponnya. Wanita itu masih ragu untuk mengatakan siapa pria yang menghamilinya.
"Dia, kak Arman mbak," ucap Arin menyerah. Biarlah Kiara mengetahuinya, hanya dia yang peduli dengan Arin saat ini.
"Apa! Arman?" Kiara tidak percaya dengan pendengarannya. Dia bersandar lemas di sofa. Arin hanya bisa menganggukkan kepalanya. Semua menjadi hening, ketika Geo datang sambil membawa dua gelas minuman.
"Kalian baik-baik saja?" tanyanya.
Kiara tiba-tiba berdiri, lalu menarik lengan Geo.
"Ayo cari Arman sekarang!" pinta Kiara. Arin terkejut mengapa Kiara tiba-tiba ingin mencari Arman. Bahkan pria itu saja belum tahu jika dia sedang hamil anaknya.
"Mbak, jangan mbak! Arin belum siap!" ucap Arin memohon.
Geo kebingungan dengan situasinya saat ini. Dia mencoba menebaknya.
"Apa anak itu milik Arman?" tebaknya. Kiara menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Dia harus bertanggung jawab Geo, kasihan Arin. Dia sendirian di sini!" ucap Kiara. Geo tahu betul hubungan Arin dan istrinya. Kiara sangat peduli dengan wanita itu. Jelas saja Kiara ikut merasakan sakitnya.