
Kiara dan Geo sudah berada di sebuah rumah makan yang secara khusus mereka pesan untuk bertemu dengan pria misterius itu.
"Apa kamu mau mempercayainya?" tanya Geo pada Kiara.
"Entahlah, tapi aku ragu jika hanya mendengar penjelasan dari satu pihak saja," jawab wanita itu.
"Baiklah, mari kita tunggu. Seharusnya dia sudah hampir sampai."
Tok tok tok.
Suara seseorang mengetuk pintu ruang itu terdengar. Geo dan Kiara saling memandang.
"Masuklah!" ucap Geo.
Seorang pria yang kemarin Kiara temui. Dan seorang ibu yang tak lagi muda berada di depannya. Dengan memakai kursi roda,pria itu mendorongnya dengan hati-hati.
"Silahkan duduk," Geo mempersilahkan mereka duduk.
"Terima kasih, maaf saya sedikit terlambat karena harus menjemput nyonya ini," jelasnya.
Kiara merasa tidak asing dengan wanita yang di bawa oleh pria misterius itu.
"Tidak masalah, mau pesan sesuatu terlebih dahulu?" tanya Geo.
"Tidak perlu! Saya merasa ada yang mengawasi kita. Terutama anda nona Kiara," ucapnya lagi.
__ADS_1
"Siapa sebenarnya anda pak?" tanya Kiara,akhirnya dia membuka mulutnya.
"Perkenalkan saya pak Rahman, dan beliau, nyonya Tania. Beliaulah ibu kandung nona Kiara," jelasnya, seketika membuat Kiara terkejut.
"Apa, ibu kandung? Bukankah ayahku bilang dia sudah meninggal saat kecelakaan mobil bersama ayah kandungku?" tanya Kiara tidak bisa mengerti.
"Dia berbohong padamu," balasnya.
"Anakku, ini mama nak!" nyonya Tania akhirnya berbicara juga.
"Sudah lama sekali mama merindukanmu, maafkan mama tidak berada di sampingmu saat kamu dalam kesulitan. Mama juga punya kesulitan sendiri nak," jelasnya sambil kedua matanya berkaca-kaca.
"Apakah benar anda ibu kandung saya?" tanya Kiara lagi. Nyonya Tania menganggukkan kepalanya.
"Benar, saat kecelakaan itu. Hanya ibu yang selamat. Sedangkan ayahmu tidak nak. Mobil kami masuk jurang. Dan kebetulan ada pak Rahman ini yang menyelamatkan mama, jika tidak ada beliau mungkin mama juga akan meninggal." Ucapnya sambil terisak mengingat masa kelam bertahun-tahun itu.
"Bisa kah kalian di percaya?" tanya Geo setelah mendengarkan penjelasan dari keduanya. Nyonya Tania memang sedikit mengalami perubahan pada wajahnya karena kecelakaan itu.
"Saya bisa melakukan tes DNa jika kalian tidak percaya. Kiara adalah darah daging ku," ucap Tania.
"Tidak,tidak perlu tes. Kiara percaya kok. Karena Kiara yakin anda adalah mama Kiara."
"Bagaimana kamu yakin Kiara? Mungkin saja mereka memiliki niat buruk padamu!" Geo tidak mau istrinya di jebak oleh orang yang ingin berbuat jahat padanya.
"Tenanglah suamiku, aku bisa yakin karena aku baru mengingat bahwa di tangan kanan mamaku ada tanda lahir. Dan aku melihatnya pada ibu ini," ucap Kiara.
__ADS_1
Tania semakin terisak, Kiara berjalan menuju ke kursi roda. Kemudian memeluk tubuh Tania. Kiara ikut terisak bersamanya.
"Mama, maafkan Kiara tidak mengingat mama saat itu."
"Sudah nak, kamu jangan menyalahkan diri sendiri. Karena kamu memang masih kecil waktu itu."
"Ya, sekarang kita bisa bersama ma," Kiara melepaskan pelukannya.
"Benar, tapi mama harus melakukan sesuatu nak. Merebut kembali hak-hak kita dan memenjarakan Tanan!" ucapnya.
"Memenjarakan ayah? Kenapa ma?" tanya Kiara.
"Dia bukan ayahmu, jangan pernah panggil dia ayah lagi. Karena dialah pembunuh ayah kandungmu nak, kecelakaan itu tidak murni. Ada orang yang membuat kami jatuh ke jurang itu."
Tania sangat terpukul setelah mengingat semuanya. Kehilangan suami dan juga tidak bisa menyentuh anak kandungnya sendiri adalah pukulan terberat baginya.Di tambah semua harta keluarganya di kuasai oleh Tanan.
"Jadi memang benar kecurigaan saya selama ini? Seharusnya perusahaan itu memang bukan milik pak Tanan."
Geo sudah lama mengetahui hal itu. Namun dia tidak menemukan sedikitpun informasi tentang asal usul perusahaan itu.
"Maksud kamu?" tanya Kiara.
"Aku sudah lama merasakan kejanggalan dari perusahaan yang di kelola oleh pak Tanan. Ada beberapa aset yang namanya bukan miliknya sendiri. Dan dia bilang itu nama saudaranya. Saat aku mencari tahu, tentang saudaranya. Sedikitpun aku tidak menemukan informasi itu."
"Dia bukan saudara kami, dia adalah teman baik ayahmu nak. Sayangnya mama tidak pernah mencurigainya. Ternyata dia mengincar harta kami, hingga tega mencoba membunuh kami. Untungnya kamu tidak ikut saat itu," jelas Tania.
__ADS_1
Kiara merasa ikut terpukul, rasa benci mulai dia rasakan untuk Tanan. Pria itu harus bertanggung jawab atas kesalahan yang dia perbuat.