Suami CEO

Suami CEO
Gugurkan


__ADS_3

Arin sangat gugup, kedua tangannya saling meremas di bawah meja. Dia sudah berkali-kali menghela napas dalam. Agar bisa menenangkan dirinya sendiri. Namun pria di hadapannya itu membuat dia sangat takut sekaligus gugup.


Arman memperhatikan tingkah Arin sejak mereka bertemu pagi ini. Wanita itu tampak ingin menyampaikan sesuatu, namun ragu-ragu.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" Arman memecah suasana yang tadinya begitu canggung. Sambil menikmati makanan kecil di atas meja yang sedari tadi hanya mereka abaikan.


Arin menatap wajah Arman dalam-dalam. Saat malam itu dia tanpa sedikitpun ragu untuk melakukannya bersama Arman. Namun entah mengapa bibirnya saat ini seolah lengket. Tak mudah untuk membukanya, tak mudah untuk menyampaikan kabar kehamilannya pada pria yang menjadi ayah dari anaknya kelak.


"Arin kamu baik-baik saja kan?", tanya Arman lagi.


"Ya aku baik-baik saja. Tapi mas, aku hamil," Arin merasa lega bisa mengucapkannya. Namun sedetik kemudian dia kembali khawatir karena melihat raut wajah Arman yang syok.


"Hamil?" tanyanya seolah tidak percaya.


"Ya mas, aku hamil," Arin takut jika Arman tidak mau mengakuinya.


Arman yang mendengar pengakuan dari Arin meletakkan garpu di atas piring. Menghentikan kegiatan makannya.


"Apa sudah di periksa ke dokter?" tanya Arman.

__ADS_1


"Sudah mas," Arin tertunduk takut.


"Tapi aku belum siap memiliki bayi saat ini," deg tiba-tiba jantung Arin berdetak cepat. Pria di hadapannya belum siap menjadi ayah. Lalu bagaimana ke depannya, bagaimana nasib calon anak dalam rahimnya ini.


"Tapi mas, dia anakmu," ucap Arin menjelaskan.


"Iya aku percaya itu, tapi aku belum siap Rin."


Arin terdiam lesu, matanya sudah berkaca-kaca. Dia tengah di ambang kerapuhannya.


"Karena hatimu masih untuk mbak Kiara kan?" tanya Arin sambil tetap tegar memasang senyum di depan Arman.


Arman hanya terdiam, dia memang masih mencintai Kiara. Meskipun harus bertepuk sebelah tangan dari gadis itu.


Arin merasa tertampar dengan permintaan Arman. Bagaimana bisa dia tega menggugurkan bayinya sendiri.


Arin langsung berdiri dari kursinya. Dia menatap tajam Arman.


"Kamu tenang saja, saat aku hendak memberitahumu tentang dia. Aku sudah siap dengan apa saja jawaban dari mu, tapi aku tidak menyangka kamu sangat setega itu pada bayi yang belum lahir ini." Arin mengelus perutnya,rasanya ingin sekali menampar Arman.

__ADS_1


"Rin dengarkan aku, malam itu hanya kecelakaan saja. Kamu tahukan aku sedang mabuk?" Arman kembali mengungkit kejadian malam itu.


"Ya memang waktu itu aku yang salah. Aku juga tidak meminta pertanggung jawaban darimu. Tapi sebagai ayahnya kamu berhak tahu dia ada di dalam rahim ini."


Setelah mengeluarkan kekesalannya,Arin meninggalkan Arman. Gadis itu tak sanggup lagi menahan air matanya. Sambil menangis Arin keluar dari restoran itu. Meninggalkan Arman yang masih terdiam di tempat.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Arman.


Di dalam taksi, Arin semakin kencang menangis. Sopir taksi sampai kebingungan melihatnya.


"Nona, kamu baik-baik saja kan?" tanyanya.


Tak ada jawaban, Arin masih sibuk mengelap air mata yang tak berhenti membasahi kedua pipinya.


"Nona kita mau kemana ya?" tanya sopir taksi itu kembali. Karena dari tadi Arin belum mengucapkan tempat tujuannya.


"Maaf pak, saya sampai lupa. Tolong bawa saja ke kota Bogor," jawab Arin.


"Jauh sekali nona," ucap sopir itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa pak, saya rindu dengan kedua orang tua saya."


"Baiklah," sopir taksi itu menyetujui keinginan Arin. Dia ingin memenangkan dirinya di kampung halaman. Kedua orang tuanya pasti mau menerima dirinya dan juga calon cucu mereka nantinya.


__ADS_2