Suami CEO

Suami CEO
Sahabatku


__ADS_3

Keesokan harinya, entah mengapa Kiara ingin sekali pergi ke toko milik wanita itu. Rasa ingin bertemu dengan Arin serta Via begitu kuat. Terlebih dengan Arin, Kiara ingin lebih memperhatikan kembali sahabatnya itu.


Sama-sama sedang hamil, namun Arin tak seberuntung dirinya. Sendirian tanpa keluarga, Kiara juga belum tahu apakah wanita itu sudah berhasil memberitahu Arman atau belum.


Dengan diantar oleh supir pribadi keluarganya Geo. Kiara sampai di toko sekitar pukul sebelas siang. Sambil menenteng makan siang untuk pegawai di tokonya.


Ketika masuk ke dalam toko, pandangan Kiara tertuju kepada Via yang duduk di pojok. Dengan pakaian berserakan di sebelahnya. Wanita itu tampak tidak bersemangat seperti sebelumnya.


Lalu Kiara memandang ke arah lain, ada dua pegawai baru yang belum Kiara kenal. Tapi Kiara tidak melihat Arin di sana.


Setelah meletakkan makan siang di atas meja. Kiara mendekati Via. Gadis itu terkejut ketika melihat Kiara sudah berdiri di depannya.


"Mbak Kiara?" sapa nya, dia segera berdiri untuk menyambut Kiara.


"Tumben mbak kesini?" tanyanya lagi.


"Iya Vi,mbak pengen aja ke sini. Bawain kalian makan siang, oh iya dimana Arin?" tanyanya sambil mencari Arin.


"Itu mbak, Arin," ragu-ragu Via ingin mengatakannya. Kiara mulai curiga.


"Kenapa Vi? Dimana Arin?" tanya Kiara panik.


"Sebenarnya,Arin sejak kemarin tidak datang ke toko mbak. Via juga sudah menghubunginya namun tak ada balasan sama sekali sampai siang ini," ucap Via sambil menahan air mata.


Kiara mulai khawatir jika hal buruk terjadi pada wanita itu. Dia mencoba berfikir tenang.


"Bagaimana dengan Arman?" tanya Kiara. Via terkejut mengetahui Kiara menyebut pria itu.

__ADS_1


"Mbak Kiara kenapa mencari Arman,kemarin Via udah nanya ke dia. Tapi dia tidak tahu dimana Arin mbak," jawab Via.


"Karena sebenarnya Arin dan Arman memiliki hubungan spesial. Via kamu tahu Arin saat ini tengah hamil anaknya Arman."


Kiara tidak bisa menyembunyikannya dari Via. Gadis itu harus tahu keadaan sahabatnya.


"Apa?!" Via terkejut dengan apa yang dia dengar.


"Iya, Arin belum memberitahumu?" tanya Kiara. Via menggelengkan kepalanya. Untungnya kedua pegawai baru tidak mendengarnya.


"Tapi mbak, kenapa Arman tidak khawatir Arin tidak ada di tempat tinggalnya?" Via mulai curiga akan sikap Arman.


"Kamu serius?"


"Iya mbak, kemarin Via sudah memberitahunya. Dia malah bersikap biasa saja," jawab Via.


"Kalau begitu kita ke rumah dia saja sekarang!" ajak Kiara pada Via.


Namun sebelum mereka benar-benar keluar dari toko pakaian itu. Ponsel milik Kiara berbunyi. Sebuah panggilan telepon dari seseorang yang tengah mereka cari saat ini.


"Arin?", Kiara mengerutkan keningnya, lalu berubah bahagia setelah itu. Dia segera menerima panggilannya.


Via segera mendekat ke tempat Kiara berdiri. Lalu berusaha mendengarkan percakapan mereka.


Via bisa melihat perubahan wajah Kiara yang yang tak biasa. Wanita itu menahan amarahnya.


"Apa yang tengah Arin bicarakan?" batin Via penasaran.

__ADS_1


Setelah beberapa menit kemudian keduanya telah selesai berbincang lewat ponsel. Via mencoba menanyakan apa yang sebenarnya Arin katakan.


Kiara terduduk di atas sofa tokonya. Menghela nafas panjang untuk mengatur emosinya yang siap meledak.


"Mbak apa yang Arin katakan mbak? dia baik-baik saja kan?" tanya Via.


"Dia baik-baik saja Vi, tapi Arman benar-benar keterlaluan. Dia mengatakan bahwa Arin harus menggugurkan anak mereka. Apakah itu pantas untuk seorang pria katakan?" jelas Kiara.


"Astaga! Dia benar-benar harus Via kasih pelajaran deh mbak!" Via bersiap untuk memberi pelajaran pada Arman.


"Tenang dulu Vi,mbak juga marah mendengarnya. Tapi lebih baik kita pikirkan dahulu keadaan Arin, dia tidak mau mengatakan dimana dia saat ini pada mbak. Mbak jadi khawatir dia berbuat nekat Vi," terlihat kekhawatiran di wajah Kiara saat ini. Via juga ikut terduduk lesu di sofa.


Sahabat yang selalu bersamanya kini tengah mengalami masalah besar. Seharusnya Via bisa membantunya. Keduanya saling berfikir tentang keberadaan Arin saat ini dimana.


"Mbak, mungkin tidak Arin pulang ke kampung?" celetuk Via ketika memikirkan tempat terakhir yang mungkin Arin kunjungi.


"Benar juga, dia sudah lama tidak pulang kan?" balas Kiara.


Via menganggukkan kepalanya, mereka sangat yakin Arin di sana. Tapi untuk saat ini Kiara tidak mungkin ke sana karena dia sedang hamil. Terlalu beresiko untuk pergi.


Kiara perlu seseorang membantunya. Terpikirkan wajah sang suami. Hanya dengan memerintah beberapa pengawal pria itu pasti bisa menemukan Arin.


"Vi, mbak pulang dulu ya, kamu baik-baik jaga toko. Kamu tenang saja. Biar suami mbak yang mencari Arin, dia pasti dengan mudah bisa menemukannya," ucap Kiara.


"Tapi mbak, Via ingin ikut membantu mencarinya," Via tidak bisa hanya duduk tenang di sini, sedangkan sahabatnya mungkin tengah menangis sedih di sana.


Kiara menepuk pundak Via, mencoba menenangkan dan menyakinkan gadis itu.

__ADS_1


"Sudah serahkan kepada mbak saja, kamu tenang saja."


"Baik mbak," Via akhirnya menurut. Setelah itu Kiara segera pergi, mencari suaminya ke perusahaan pria itu.


__ADS_2