
Geo tengah sibuk meeting ketika asistennya tiba-tiba membisikkannya sesuatu.
"Maaf pak, nyonya ada di sini sekarang. Dia sedang di ruangan anda," bisik asisten itu.
"Benarkah?" tanya Geo. Asisten itu menganggukkan kepalanya.
Geo seketika bahagia, dia menghentikan meeting itu sementara. Para pegawainya kebingungan dengan sikap atasannya yang berbeda dari sebelumnya.
Setelah tadi serius dan marah-marah, kini Geo berubah halus dan penuh senyuman.
"Selamat, untungnya tidak kena marah lagi," ucap para pegawai itu setelah Geo keluar dari ruang meeting.
Geo segera menuju ke ruang kerjanya. Ketika membuka pintu terlihat Kiara sedang berdiri di dekat jendela kaca.Memandang ke arah luar dari ruang itu.
"Sayang," Geo memeluk Kiara dari belakang. Kiara membalas dengan senyuman di bibir mungilnya.
"Tumben main ke sini?" tanya Geo.Kiara membalikkan badan, kini keduanya saling berhadapan.
"Iya sayang, aku ingin minta tolong padamu," ucap Kiara serius, dia menatap kedua mata suaminya.
"Masalah apa itu?" tanya Geo.
"Arin, dia menghilang. Aku ingin kamu membantuku mencarinya."
"Baiklah, jangan sedih ya. Aku akan meminta para pengawal untuk mencarinya," jawab Geo, dia tidak tega melihat istrinya tampak sedih seperti ini.
__ADS_1
Kiara tersenyum puas, memanglah suaminya itu bisa di andalkan. Di saat mereka tengah saling berpelukan, suara pintu di ketuk membuat keduanya segera melepaskan diri.
"Masuk!" Geo sebenarnya kesal jika ada yang mengganggunya bermesraan dengan sang istri. Tapi memang mereka sedan di perusahaan.Jadi Geo harus bersikap profesional.
Ketika pintu di buka, Arman yang datang dengan membawa beberapa file di tangannya.
"Kamu, ada hal apa?" tanya Geo, pria itu sudah duduk di kursinya.Sedangkan Kiara duduk di sofa tak jauh dari Geo.
"Maaf mengganggu," Arman menatap ke arah Kiara, tatapannya masih saja sama.Mengagumi wanita milik Geo itu.
"Ehem!", seketika Geo berdehem. Mengingatkan kembali tujuan Arman datang ke ruang kerjanya.
"Maaf, ini beberapa file yang anda minta," jawab Arman sopan sambil memberikan file yang berada di tangannya.
"Kalau begitu saya pamit dulu," Arman hendak pergi.
"Tunggu!" Kiara tiba-tiba menyahutnya agar tidak pergi lebih dulu.
"Arman, tidakkah kamu menginginkan bayimu? Dimana naluri mu sebagai ayah?" ucap Kiara tanpa berbasa-basi.
"Arin sangat mencintaimu Arman!" tambahnya lagi. Arman masih terdiam.
"Tapi bukan dia yang aku cintai Kiara," jawabnya, membuat Kiara sangat kesal.
"Sudahlah percuma berbicara padanya sayang," Geo ikut kesal dengan sikap pengecut Arman.
__ADS_1
"Kamu sungguh ingin Arin menggugurkan bayinya,pikirkanlah dulu,jangan sampai kamu menyesal," ucap Kiara.
Tanpa membalas apapun, Arman memilih untuk segera keluar dari ruang kerja Geo. Namun di dalam pikirannya mulai berkecamuk.
Bayangan malam itu, saat mereka bersama terlintas kembali. Ketika dia teringat oleh keponakannya, Arman mulai goyah dengan keinginannya.
Ketika hendak berjalan keluar,tiba-tiba seseorang menabraknya. Ternyata Via, yang tampak buru-buru. Gadis itu bahkan tak meminta maaf pada Arman. Mengabaikannya begitu saja.
"Mbak Kiara, mas Geo. Maaf Via tiba-tiba datang ke sini. Ada hal penting tentang Arin mbak!" ucap Via dengan nafasnya yang tak beraturan karena lari.
Arman yang masih berada di balik pintu keluar tak sengaja mendengar ucapan Via. Dia lalu menghentikan langkahnya. Mencoba mencuri dengar apa yang akan dia sampaikan pada Kiara.
"Ada apa Vi?Kenapa dengan Arin?" tanya Kiara panik.
"Dia membalas pesanku mbak, katanya hari ini dia akan di nikahkan oleh pria di kampungnya," jawab Via.
"Bagus kan, setidaknya anaknya akan memiliki ayah," ucap Geo.
"Masalahnya sebelum menikah orang tuanya meminta Arin untuk menggugurkan kandungannya!" jelas Via lagi.
Kiara terkejut mendengarnya, lalu pintu ruang itu terbuka kembali.
"Berikan aku alamat rumahnya!" ucap Arman pada Via.
Geo, Kiara dan Via saling memandang. Sepertinya akan ada harapan untuk Arin dengan Arman bersama.
__ADS_1