
Hari-hari Kiara lewati dengan hidup sederhana di gubuk milik pak Tejo. Kedua orang tua itu menyayangi Kiara seperti anaknya sendiri. Mereka juga menanti kelahiran bayi di perut Kiara.
"Nak, kamu istirahat saja di dalam rumah. Biar ibu yang mengerjakannya," ucap bu Aminah seraya menghentikan kegiatan memasak yang dilakukan oleh Kiara.
"Tidak apa-apa bu, Kiara bisa mengerjakannya. Lagi pula ibu dan bapak pasti lelah setelah menanam sayuran tadi," Kiara merasa tidak enak hati jika hanya numpang hidup gratis di gubuk itu.
"Kamu ini, ya udah ibu bantuin sini," bu Aminah membantu Kiara memasak.
Meski gubuk mereka jauh dari perkotaan. Tapi untuk beberapa minggu ketika pak Tejo memanen sayuran. Beliau akan menjualnya ke kota.
"Bu, kenapa kalian hidup di tempat yang jauh dari keramaian seperti sekarang? Dimana keluarga kalian dahulu?" tanya Kiara.
Bu Aminah terdiam sejenak, mengingat kembali keluarganya yang dulu pernah dia miliki.
__ADS_1
"Ibu pernah hidup di kota nak, ibu juga pernah memiliki seorang anak. Tapi anak itu telah kembali kepada Sang Pencipta,setelah hari itu ibu dan bapak seperti putus asa. Akhirnya memilih pergi dari tempat tinggal yang penuh dengan kenangan bersama anak kami dahulu. Bapak takut ibu akan selalu teringat dengan putra kami, jadi beliau membawa ibu ke tempat ini."
Jawaban dari bu Aminah,membuat Kiara bisa merasakan perihnya kehilangan seseorang yang dia sayang. Kiara mengelus perutnya. Bu Aminah memperhatikannya.
"Jaga dia nak, meski bagaimanapun bapaknya. Dia adalah buah hati kalian." Nasihat bu Aminah membuatnya kembali teringat dengan Geo.
"Baik bu," jawab Kiara seraya menyunggingkan senyumnya.
Di rumah milik Geo, pria itu tengah tertunduk lesu. Sudah hampir dua minggu namun pencarian istrinya masih belum juga di temukan. Bahkan pihak polisi sudah memutuskan untuk berhenti melakukan pencarian.
Siang tadi dia mengirim hasil tes kehamilan dan juga foto syur mereka saat di hotel kepada sang kakek.
Itu membuat Andara geram, dia mempertanyakan semuanya pada Geo. Kebenaran tentang hal yang terjadi hari itu.
__ADS_1
Kini keduanya tengah berada di rumah itu. Meminta Geo untuk menyelesaikan masalahnya.
"Kakek, Alina tidak berbohong. Bayi ini memang milik Geo," ucap Alina sambil menangis terisak. Andara memijat keningnya, dia belum menerima hasil penyelidikan tentang Alina. Tapi wanita itu malah ingin meminta Geo bertanggung jawab.
"Sudahlah, biarkan bayi itu lahir dahulu. Setelah hasil DNa nya keluar, Geo bisa memutuskan untuk menikahi mu atau tidak!" Andara hanya bisa mengundur waktu terlebih dahulu. Membiarkan Geo untuk mencari tahu kebenarannya.
"Tapi kek, Alina takut banyak yang menggunjing Alina karena perut Alina membesar," bantah Alina.
"Alina! Kamu bisa gak sih tidak menambah masalah?" Geo yang sedari yadi terdiam akhirnya ikut berbicara. Dia sangat kesal dengan Alina saat ini.
"Hiks-hiks Geo, aku hanya ingin bayi kita memiliki keluarga yang normal. Dia juga butuh ayahnya,hiks," Alina kembali berakting.
"Sudahlah, sebaiknya kamu pulang saja. Aku akan mencukupi biaya kehidupanmu selama hamil."
__ADS_1
Geo hanya bisa melakukan hal itu,dia tidak mungkin menikahi Alina. Jika memang bayi yang ada dalam kandungannya itu adalah anak Geo. Dia hanya akan merawat bayi itu, tanpa menikahi Alina.