
Arin dan Via tengah sibuk membereskan beberapa pakaian pesanan pelanggan. Keduanya sedikit kewalahan karena akhir-akhir ini pesanan begitu banyak yang masuk.
Keduanya sudah membuka lowongan pekerjaan untuk pegawai baru. Sesuai saran dari Kiara. Dia sudah menyetujui penambahan karyawan. Asal Via dan Arin tetap mengawasinya.
"Rin kemarin malam kamu gak pulang ya?" tanya Via.
"Hah pulang kok, emang kenapa?" tanya Arin.
"Masak sih,aku kemarin ke kost kamu. Tapi ibu kost bilang kamu gak ada di kost?" tanya Via lagi.
"Masak sih? aku tidur kok di kost. Palingan ibu kost aja yang gak lihat aku masuk ke kost," jawab Arin. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan. Dia sedang berbohong pada Via.
"Oh gitu ya, kirain beneran gak pulang."
Via akhirnya percaya dengan ucapan Arin. Sekilas sebuah ingatan muncul kembali di pikiran Arin. Kesalahan besar yang dia lakukan. Namun dia begitu senang saat itu.
"Rin, kok ngelamun? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Via curiga karena akhir-akhir ini Arin terlihat sering melamun. Tidak seperti biasanya. Via mengira mungkin gadis itu sedang mempunyai masalah yang tengah di pendam sendiri.
__ADS_1
"Heh, aku baik-baik saja kok Vi," jawab Arin. Dia kembali sibuk dengan pesanannya.
Keduanya kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tapi bagi Arin, dia masih saja teringat dengan kejadian itu.
Suara lonceng membuat keduanya menghentikan pekerjaan. Ada pelanggan yang datang. Kedua mata Arin membelalak ketika melihat siapa yang datang.
"Rin, aku belum selesai. Kamu tolong layani dulu deh pelanggan yang datang," pinta Via. Dia memang tengah sibuk saat ini. Kebetulan Arin sudah sedikit longgar.
"Baiklah," jawabnya. Arin segera berjalan menuju ke arah pria itu.
"Ah itu bisakah membantu saya mencari beberapa setel pakaian untuk anak-anak. Untuk hadiah," jelasnya.
"Baiklah saya bantu silahkan ikuti saya," Arin mengajak pria itu. Saat dia berjalan,tiba-tiba menyingkap rambutnya yang menutupi telinganya.
Ada sebuah tanda lahir di sana. Arman terkejut bukan main saat menyadarinya. Di dalam hatinya penuh dengan tanda tanya.
"Dia kenapa dia bisa mempunyai tanda itu? Apa gadis di malam itu dia?" batinnya bertanya-tanya.
__ADS_1
"Silahkan memilih tuan, disini banyak model yang bisa menjadi pilihan anda," ucap Arin menjelaskan.
Arman masih diam, belum juga memilih. Membuat Arin menjadi canggung karena pria itu memperhatikannya.
Lalu Arman mengeluarkan sesuatu dari saku jas miliknya.
"Apa ini milikmu?" tanya Arman. Seketika kedua mata Arin membelalak. Gelang miliknya ada di tangan Arman.
"Bukan,itu bukan milik saya tuan," Arin tidak bisa mengaku bahwa gelang itu miliknya. Jika begitu semua akan ketahuan bahwa dialah wanita yang berada di kamar hotel malam itu.
"Kamu yakin?" Arman mendekat ke arah Arin. Semakin dekat hingga jantung gadis itu serasa ingin melompat dari tempatnya.
Tiba-tiba Arman menyingkap rambutnya. Dia ingin memeriksa tanda lahir yang ada di belakang telinga wanita itu.Benar saja, tanda itu memang ada.
"Kamu mau kabur? Jangan harap!" bisik Arman di telinga Arin. Seketika Arin merasa bergidik. Pria itu mengenalinya.
Arin hanya bisa membisu, tak tahu harus berkata apa. Arman tersenyum puas,dia bisa menemukan wanita yang bersamanya malam itu. Mungkin memang jodoh telah mempertemukan mereka.
__ADS_1