
Arin menjadi sangat gelisah, ketika Kiara ingin segera menemui Arman. Dia belum siap jika pria itu mengetahuinya. Karena pada dasarnya Arman tidak mencintai Arin saat ini.
"Mbak Kiara, jangan temui dia dulu mbak. Arin belum siap?" mohon Arin pada Kiara.
Kiara tak habis pikir ketika mendengar permintaan Arin pada dirinya itu. Bukankah seharusnya memang Arman di beritahu secepatnya. Agar pria itu bisa bertanggung jawab sebelum bayi di dalam kandungan Arin semakin membesar.
"Kenapa Rin?" tanya Kiara.
"Biarkan Arin sendiri yang memberitahunya mbak, Arin mohon?" ucap Arin. Kiara hanya bisa menghela napas panjang.
"Baiklah, jika itu mau kamu Rin. Mbak gak bisa memaksamu," jawab Kiara mengalah. Dia hanya perlu memperhatikan saja bagaimana perkembangan hubungan mereka nantinya.
Setelah berbicara dengan Kiara. Arin menjadi sedikit lebih lega. Setidaknya ada seseorang yang mau mendengarkan masalahnya.
Geo dan Kiara segera mengantar Arin kembali ke tempat tinggalnya.
"Banyak istirahat ya Rin, jaga bayimu," ucapnya.
"Iya mbak, mbak Kiara jangan lupa istirahat juga. Mas Geo makasih udah mau nganterin Arin," ucap Arin pada keduanya.
__ADS_1
"Sama-sama, ya udah kami pulang dulu. Kalau ada apa-apa hubungi kami saja," pinta Geo.
"Baik mas," Arin segera masuk ke dalam kost nya setelah memastikan Kiara dan Geo sudah pulang kembali.
Di perjalanan Kiara dan Geo saling diam. Kiara sedang memikirkan bagaimana Arin nantinya jika Arman tidak mau mengakui bayi itu.
"Sudahlah sayang, jangan terlalu memikirkan masalah Arin dan Arman. Mereka pasti bisa menyelesaikannya sendiri," nasihat Geo. Kiara menatap wajah suaminya yang tengah mengemudi. Bahkan dari samping pria itu masih saja terlihat tampan.
"Iya,aku tidak memikirkannya lagi. Oh iya besok bisakah meminta sopir keluarga untuk menemaniku pergi ke kampung halamanku, aku sangat merindukan nenekku," pinta Kiara. Sudah lama dia ingin berkunjung ke kampung halamannya. Namun belum sempat karena banyaknya masalah yang akhir-akhir ini dia hadapi.
"Baiklah, biarkan aku ikut juga bersamamu," jawab Geo.
"Lebih penting menjaga istri dan anak daripada kerja. Kamu tidak lupa kan bahwa aku bosnya,jadi biarkan aku sesuka hatiku?" ucap Geo dengan penuh percaya diri.
"Yah baiklah-baiklah, kamu memang bosnya!" Kiara hanya bisa mengikuti keinginan suaminya. Bagi Kiara sejak kejadian kecelakaan yang menimpanya saat itu. Geo perlahan mulai berubah, dia sangat menjaga dirinya dan juga calon anak yang ada di dalam kandungan Kiara.
Mereka sampai di rumah dengan selamat. Kiara segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Perutnya kian hari kian membesar. Rasanya gerakan tubuh Kiara mulai terbatas.
"Apa sangat lelah sekali?" tanya Geo melihat istrinya yang langsung berbaring di atas ranjang.
__ADS_1
"Ya lelah dan mudah mengantuk," jawab Kiara sambil menguap. Geo hanya bisa menggelengkan kepalanya. Melihat sang istri yang sudah tidak malu-malu lagi di depan dirinya.
Geo ikut berbaring di samping Kiara. Memainkan rambut wanita itu.
"Kira-kira anak kita laki-laki atau perempuan ya sayang?" gumam Geo.
"Kamu maunya apa?" tanya Kiara.
"Tentu saja laki-laki, tapi kalau di beri perempuan juga tidak masalah," jawab Geo.
"Kalau begitu dua-duanya saja," celetuk Kiara.
"Hah, kamu mau anak kembar?" Geo mulai tertarik dengan obrolan ringan mereka.
"Tentu saja, bukankah bagus jika kita sekaligus memiliki dua anak," Kiara membayangkan dirinya menggendong dua anak, satu perempuan dan satu laki-laki.
"Kalau begitu kita bisa membuatnya sekarang," tiba-tiba Geo meraba area sensitif milik Kiara. Membuat Kiara terkejut.
"Ah Geo!" teriaknya. Tapi Geo tak mudah untuk melepaskan Kiara. Dengan hati-hati dia menyentuh wanitanya.
__ADS_1