Suami CEO

Suami CEO
Menampung Orang


__ADS_3

Selesai membalut luka,Via segera membersihkan dirinya. Tubuhnya begitu tidak nyaman saat ini. Di tambah ada noda darah pria itu di bajunya.


Sedangkan pria yang tadi masih belum sadarkan diri. Via tak menemukan apapun di tubuh pria itu sebagai tanda pengenalnya.


"Wah segarnya!" ucap Via ketika selesai mandi. Dia sudah berganti pakaian.


"Kenapa belum sadar juga? Apa perlu ku bawa ke rumah sakit ya?" gumam Via memperhatikan pria yang terbaring di atas ranjangnya itu.


Perlahan dia mendekatinya, duduk di samping ranjang itu. Memperhatikan wajah pria yang entah berasal dari mana dia.


"Hei bangunlah!" Via menyentuh pipi kiri pria itu dengan telunjuk jarinya.


"Siapa kamu? Bagaimana bisa berurusan dengan para preman itu?" ucapnya lagi sambil masih menunjuk pipinya.


Tiba-tiba kedua mata pria itu terbuka. Dia menatap wajah Via yang dari tadi memperhatikannya.


"Dimana aku?" tanyanya.


"Dimana lagi kalau bukan di rumahku!" jawab Via.


"Kamu gadis yang tadi menolongku kan?" tanyanya sambil mencoba duduk di ranjang itu.


"Ya, jadi siapa namamu?" tanya Via.


"Aku, Arfa," jawab pria berkulit putih itu.


"Siapa kamu?" tanyanya pada Via.


"Aku Via, kalau kamu sudah baikan, segera pergi dari rumahku ini!" Via tak berbasa-basi lagi, dia ingin segera bekerja kembali. Jika ada pria itu hanyalah menjadi beban bagi dirinya.

__ADS_1


"Aku tidak mau pergi!" ucapnya. Kedua mata Via seketika melotot tajam.


"Kenapa tidak mau?" tanya Via sambil mengerutkan keningnya.


"Aku tidak ingat dimana rumahku!" jawabnya singkat.


"Hah, tapi kamu ingat namamu?" Via semakin terheran.


"Ya, aku sebenarnya baru pulang dari luar negeri. Tapi sebelum keluargaku menjemput ku ,ponsel dan juga semua alamat rumah yang baru hilang. Aku belum sempat ke rumah baru itu," jelasnya.


"Tunggu-tunggu, kenapa aku sedikit curiga. Jangan-jangan kamu buronan ya?" Via menebak sembarangan, lalu perlahan menggeser tempatnya duduk menjauh dari Arfa.


"Hei, jangan berfikir sembarangan. Aku bukan buronan!" jawabnya.


"Lalu kenapa bisa preman-preman tadi memukuli mu?"


"Aih, sia-sia aku membawamu ke sini! Ku pikir bisa secepatnya pergi," gumam Via dengan suara kecil.


"Jadi, biarkan aku di sini sementara waktu. Oke?" Arfa tanpa rasa sungkan mengatakan hal itu. Via melotot kesal mendengarnya.


Dia tak pernah membawa pria masuk ke dalam rumahnya. Bagaimana jika ada orang yang melihat Arfa. Dan mereka salah paham atas keberadaan dia.


"Tapi, sampai kapan?"


"Sampai aku bertemu keluargaku!" jawabnya.


"Bagaimana kamu mencarinya, ponsel tak ada ataupun alamatnya, siap sekali aku bertemu denganmu?" gerutu Via.


"Pinjamkan ponselmu?" pintanya.

__ADS_1


"Mau apa lagi?" Via menggenggam erat ponselnya.


"Mau mencoba menghubungi keluargaku!" jawabnya.


Via ragu-ragu memberikan ponselnya. Arfa dengan cepat merebut ponsel itu. Lalu membuka menu panggilan, menuliskan nomor yang sedikit dia ingat.


"Tuuut, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif," suara operator lah yang terdengar.


"Apa bukan ini nomornya," Arfa menggaruk rambutnya. Dia payah dalam mengingat nomor telepon.


Lalu mencoba nomor lain lagi, mengetik sembarangan sesuai ingatannya.


"Tuuut, nomor yang anda tuju di luar jangkauan," hanya suara operator yang terdengar kembali.


Arfa mencoba mengetik nomor berikutnya. Namun dengan cepat Via merebut kembali ponselnya.


"Cukup! Sepertinya percuma, kamu tidak ingat nomor ponsel keluargamu kan?" tebak Via.


Arfa hanya bisa tersenyum malu. Dia memang jarang sekali mengingat nomor ponsel keluarganya. Selama ada di ponselnya, Arfa langsung bisa menghubunginya.


"Iya,aku benar-benar lupa, jadi biarkan aku tinggal di sini ya?" pinta Arfa memelas.


Dia tidak punya uang, apalagi tempat tinggal. Sambil menunggu keluarganya untuk mencari keberadaan pria itu.


"Baiklah baiklah, hanya sementara saja! Tidak boleh lebih!" ucap Via akhirnya luluh juga. Arfa tersenyum mendengarnya. Untuk sementara dia tidak perlu khawatir preman-preman itu kembali mencarinya.


Mereka tidak sesederhana yang Arfa pikirkan. Pasti ada seseorang yang sengaja mengirim mereka pada Arfa. Hal yang terjadi hari ini pasti ulah seseorang yang membenci dirinya.


"Tunggu aku kembali, orang di balik ini pasti akan ku beri hukuman!" batin Arfa.

__ADS_1


__ADS_2