Suami CEO

Suami CEO
Menikah


__ADS_3

Kini semua mata tertuju pada Arin. Wanita itu tengah bimbang memutuskan hal penting dalam hidupnya. Di depannya Arman meminta maaf padanya.


"Arin maafkanlah aku, dan tolong menikahlah denganku,"ucap Arman. Dia tak peduli tatapan orang-orang yang berada di sana.


Arin menatap Arman sekilas, lalu pindah ke Rangga. Kedua mata pria itu tampak sendu. Seolah berharap Arin memilihnya. Namun tanpa ragu, Rangga berjalan ke arah Arin.


Memeluk tubuh wanitanya, Arman mulai terbawa cemburu. Bahkan di depan matanya, pria itu memeluk Arin.


"Biarkan aku memelukmu sebentar, sebagai seorang kakak," pinta Rangga. Arin terkejut, namun tak berbuat apapun. Hanya diam ketika di peluk oleh Rangga.


Setelah selesai, Rangga memegang tangan kiri Arin kemudian tangan kanan Arman.Menyatukan kedua tangan mereka.


"Jadilah pengantinnya Arin, aku rela. Asal kamu bisa bahagia kedepannya," ucap Rangga melepaskan Arin.


Tampak keluarga besarnya menggerutu dengan sikap Rangga. Tapi mereka hanya bisa diam sementara ini. Keputusan tetap pada keduanya.


"Tapi mas, Arin," wanita itu merasa bersalah telah membuat Rangga terluka. Padahal pria itu sudah menerima dirinya dengan berbagai kekurangannya saat ini.


"Tidak apa-apa Arin, mas bisa melihat siapa pria yang kamu cintai," ucap Rangga tulus.

__ADS_1


"Makasih mas." Arin tak bisa membendung lagi air matanya.


"Dan kamu, meski aku membiarkan kamu memiliki Arin. Tapi jangan sampai aku mendengar kamu melukainya. Aku tidak akan tinggal diam jika itu terjadi," pesan Rangga pada Arman.


"Tenang saja, aku akan menjaga dan juga membahagiakannya," jawab Arman.


Arman lalu menarik Arin dalam pelukannya. Kiara dan Via sudah menangis haru menyaksikan keduanya bersama.


Kini acara ijab kabul dilakukan oleh Arman dan Arin. Rangga menatap keduanya dari belakang, meskipun hatinya sakit. Namun dia bisa merasakan kebahagiaan yang saat ini Arin rasakan.


Arin juga meminta maaf kepada keluarga besar Rangga. Karena hal ini mungkin membuat mereka malu.


"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya pak penghulu ketika Arman selesai mengucapkan ijabnya.


"Arin maaf aku belum sempat memberikan hadiah pernikahan," ucap Arman.


"Kami juga Rin," ucap Kiara.


"Tidak apa-apa mas,mbak. Arin sudah bahagia meski tanpa hadiah-hadiah itu," balas Arin. Terlihat sekali wajahnya berseri saat ini.

__ADS_1


Para tamu sudah pulang, hanya ada anggota keluarga Arin. Serta Rangga yang masih berada di sana.


"Ya ampun, gini amat ya nasib jomblo. Mbak Kiara bermesraan sama mas Geo, Arin sama mas Arman. Terus aku gimana dong?" gerutu Via di tengah-tengah suka cita keluarga itu.


"Kamu kan bisa sama tembok itu Vi?" goda Kiara pada sahabatnya itu. Di sambut gelak tawa orang-orang di sana.


"Duh mbak Kiara tega deh!" ucap Via semakin menggerutu.


"Gimana kalau sama dia aja?" Geo yang tadinya hanya diam tiba-tiba ikut menimpali juga.


Semua orang menatap ke arah orang yang di tunjuk oleh Geo. Pria itu adalah Rangga. Via seketika malu dengan candaan Geo.


"Ahh mas Geo jangan dong, malu ini Via?" ucapnya sambil bersembunyi di balik punggung Kiara.


"Lah kali aja jodoh! Ya kan Rangga?" tanya Geo.


Rangga hanya tersenyum canggung, tapi dia juga memperhatikan Via meski hanya sekilas.


"Udah-udah Via malu, jangan di anggap serius ya mas Rangga," Via meminta maaf atas semuanya.

__ADS_1


"Iya-iya gak apa-apa kok," balas Rangga agar suasana tidak canggung diantara mereka.


Setelah itu Kiara dan Geo serta Via berpamitan. Mereka harus kembali ke kota lagi. Geo masih ada pekerjaan yang di tangani. Sedangkan Arman masih di rumah mertuanya. Dia ingin di sana terlebih dulu bersama Arin.


__ADS_2