
Makan siang kali ini, Gilang begitu sangat romantis. Entah ada apa dengan Gilang. kalau kemarin dia tidak pulang, maka sepulangnya dia akan berlaku sangat romantis pada istrinya.
Andira masih mengunyah makanannya. Gilang masih setia menatapnya.
Andira, kamu memang wanita yang baik. Tapi maafkan aku, aku belum bisa menjadi suami yang setia untuk mu. Aku masih belum bisa meninggalkan pacar-pacarku. Aku memacari mereka cuma untuk menghibur diri saja. Kalau istri tercintaku itu cuma kamu seorang sayang. Karena aku mencintaimu. Dan aku nggak rela kalau kamu dekat dengan lelaki lain termasuk kakak ku sendiri. Batin Gilang.
"Kenapa Mas ? Kenapa Kamu menatap ku seperti itu?" tanya Andira.
"Kamu cantik sayang." Ucap Gilang dengan senyum menawannya. Yah, senyuman maut jurus andalannya untuk menarik perhatian para wanitanya.
Andira tersenyum, hatinya entah kenapa merasa lebih tenang saat mendengar kata-kata romantis yang keluar dari mulut suaminya.
Gilang meraih tangan istrinya, kemudian dia mencium punggung tangan Andira.
"Mas, makasih untuk makan siangnya."
"Kenapa kamu harus mengucapkan terimakasih. Aku kan suamimu. Sudah seharusnya kan, aku memeperlakukan mu seperti ini. Nanti malam aku akan memberikanmu kepuasan sayang."
"Apa?"
"Siap-siaplah nanti malam."
Andira tersenyum.
Mudah-mudahan saja Mas kamu nanti malam mau pulang. Ah, aku nggak tahu apa yang ada di otak mu. Bentar-bentar romantis. Bentar -bentar menghilang. Ah pusing aku menghadapi suami seperti ini.
...****************...
Di kantornya Fikri masih melamun. Fikirannya masih kosong. Dia masih memikirkan adik iparnya.
"Ah, kenapa akhir-akhir ini aku jadi kepikiran Dira terus sih. Perasaan ini nggak boleh di biarin berlarut-larut. Dia itukan adik iparku. Kenapa aku harus jatuh cinta padanya. Ah, seharusnya dia yang menikah denganku."
tok tok tok...
"Iya masuk."
"Permisi Pak. Saya membawa karyawan baru Pak." Kata karyawan bagian personalia.
"Oh iya. Suruh dia masuk."
Seseorang berwajah cantik dan berhijab itu masuk ke dalam ruangan Fikri.
"Silahkan duduk!"
"Terimakasih Pak."
Fikri kemudian menginterview karyawan baru itu.
"Selamat yah, besok kamu sudah bisa mulai bekerja di sini." Kata Fikri
"Terimakasih Pak."
"Iya sama-sama. Siapa nama mu tadi.?"
"Nama saya Indri Pak."
"Oh, kamu sudah berkeluarga?"
Indri diam.
"Saya sudah punya anak satu Pak. Tapi suami saya sudah meninggal enam bulan yang lalu."
"Oh, Maaf. Berapa usia anak mu?"
"empat tahun Pak."
"Kalau kamu tinggal kerja, di rumah sama siapa anaknya?"
__ADS_1
"Oh, ada ibu saya Pak."
"Apa kamu sudah mantap untuk bekerja di kantor saya?"
"Sudah sangat mantap Pak."
Fikri kemudian mengulurkan tanganya yang di balas oleh Indri.
"Selamat bergabung Indri."
Indri tersenyum.
"Iya Pak."
"Inez...!" Seru Fikri pada karyawannya bagian personalia.
Inez yang di seru langsung masuk ke dalam.
"Tolong antarkan Indri ini ke ruangan kerjanya. Saya sudah menginterview dia."
"Baik Pak."
Inezpun akhirnya mengantar Indri.
Fikri menghela nafasnya dalam. Dia kemudian teringat adik iparnya.
"Ah, aku kangen sama Dira. Dia lagi di mana yah?"
Di sisi yang berbeda, Gilang dan Andira masih setia makan di cafe langganan mereka. Tiba-tiba saja Andira di kejutkan oleh deringan ponselnya.
Fikri calling.
Andira tersenyum.
"Mas Fikri." Ucapnya.
Memanglah Andira sekarang sangat membutuhkan perhatian dari suaminya. Namun suaminya akhir-akhir ini jarang ada di rumah. Gilang selalu beralasan ke luar kota. Tapi entahlah dia pergi kemana.
"Siapa tuh, Kak Fikri lagi?"
"Iya Gilang. Dari kakak mu. Dia ternyata baik yah."
Gilang langsung merebut ponsel Andira. Dia yang mengangkatnya.
"Halo, Kak. Udah berapa kali aku bilang. Kakak jangan ganggu Andira."
"Siapa yang ganggu Andira sih. Kakak cuma prihatin aja sama dia. Kamu sepertinya tidak pernah perhatian sama Andira."
"Jangan sok tahu kamu Kak. Aku sayang sama Andira. Dia itu istriku. Aku sangat mencintainya."
Tut.
Gilang langsung memutuskan sambungam telponya.
Andira tersenyum.
Ternyata Mas Gilang masih mempunyai rasa cemburu juga. Berarti dia memang mencintaiku.
...****************...
Pagi ini, Andira tampak terlihat bahagia. Yah, semalam suaminya bermalam di rumahnya dan memberikan haknya untuk Andira.
Yah, walau sekarang jarang sekali suaminya memberikannya nafkah batin, namun sekali saja suaminya menyentuh Andira, itu sudah membuat Andira bahagia dan melupakan rasa sakit hatinya.
Andira masih asyik melayani suaminya.
Dia membuatkan kopi, memasak, dan menyiapkan baju kerja suaminya.
__ADS_1
Rambut Andira yang nampak masih basah, terlihat terurai. Memang terlihat masih berantakan karena setelah keramas, dia belum sempat menyisirnya.
Andira sekarang masih mengenakan handuk kimononya yang setinggi lutut.
Gilang tersenyum.
"Kalau kamu berpenampilan seperti ini terus, aku pasti akan betah di rumah sayang. Kamu seksi sekali."
Andira tersenyum.Mendadak pipinya merona.
"Ah, sayang. Aku kan habis mandi. Kalau sudah mandi, ya pasti aku akan ganti baju. Nggak pakai handuk kayak gini." Ucap Andira.
"Ah, sayang. Kamu udah siapin sarapan kan?" tanya Gilang.
"Iya udah." jawab Andira singkat.
Andira kemudian mendekat ke arah suaminya. Di memakaikan dasi suaminya.
"hemm...Kamu wangi sekali sayang. Aku jadi pengin nambah lagi." Ucap Gilang.
"Sudahlah, jangan mesum terus. Nanti kamu bisa kesiangan. Kamu turun dulu saja. Nanti aku menyusul. Aku mau ganti baju dulu."
"Baiklah."
Cup.
Satu kecupan mendarat di bibir mungil Andira.
"Apaan sih Mas Gilang. Ngaggetin aja. Mau cium nggak bilang-bilang. Main nyosor aja." Gerutu Andira.
"Habisnya kamu cantik sayang. Jadi ngangenin sekarang."
"Yah, mungkin itu bawaan bayi Mas."
"Iya mungkin."
Setelah itu Gilang turun ke bawah.
Gilang meraih ponselnya. Dia tersenyum sendiri.
Mbak Muti cuma mengamati dari jauh.
"Ih, Pak Gilang tingkah lakunya jadi aneh. Paling sekarang dia sudah punya wanita lain. Jadi tamu yang kemarin bernama Maharani itu, selingkuhannya Pak Gilang." Gumam Mbak Muti lirih.
Sesaat kemudian, Andira turun kebawah. Dia sudah cantik dengan gamis dan hijabnya. Yah, itulah pakaian sehari-hari Andira. Memang sudah sejak dari SMA Andira sudah memakai pakaian tertutup.
Saat mendengar suara langkah Andira, Gilang langsung menyembunyikan ponselnya.
"Hai sayang..." Sapa Gilang.
Andira melangkah kan kakinya ke arah Gilang.
Andira duduk di samping suaminya. Kemudian dia makan bersama.
"Sayang, mau nggak aku antarkan kamu ke butik?"
Andira tampak berfikir.
"Oke lah sekali-kali. Boleh kalau Mas mau ngantarin aku."
"Ya udah. Tapi Mas nggak bisa siang-siang sayang."
"Oke, setelah kita makan, nanti kita pergi bareng yah."
Andira mengangguk.
Suara nada dering ponsel Gilang tampak berdering. Gilang langsung mengangkatnya.
__ADS_1
"Ah, biasa orang kantor sayang. Aku angkat dulu yah."