Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
pernikahan Gilang yang ke dua


__ADS_3

"Ayo Ra. Kita masuk!. Dingin di sini."


"Iya Joe."


Andira dan Joe kemudian masuk ke dalam.


...****************...


Satu minggu kemudian.


Sah...


sah...


"Alhamdulilah..."


Akhirnya Gilang dan Maharani sah menjadi pasangan suami istri.


Yah, mereka menikah di rumah orang tua Maharani. Maharani adalah anak tunggal dari pasangan Narsih dan Ridwan. Dan Maharani, sudah sejak sedari kecil dia tumbuh tanpa perawatan seorang ibu.


Ibunya meninggal sewaktu Maharani berusia lima tahun. Dan sampai sekarang, ayahnya tidak menikah lagi.Dan ayah Maharani, sekarang sudah tidak bisa berjalan.


Dia terkena stroke. Jadi Maharani harus banting tulang sendiri untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya dan ayahnya. Maharani juga harus cari uang untuk biaya pengobatan untuk ayahnya. Maharani bisa kuliah itu karena dia mendapat beasiswa.


Maharani memang wanita perprestasi. Mungkin tabiat buruknya itu karena dia kurang mendapat pendidikan dari ke dua orang tuanya. Terlebih dia kurang kasih sayang seorang ibu. Sudah dari kecil dia di tinggal oleh ibunya.


Sepertinya Maharani sudah lelah cari uang sendiri. Dia kepengin punya suami, agar dia tidak perlu terlalu keras dalam bekerja. Dan mungkin dengan mengancam Gilang dia akan terjamin hidupnya. Karena Gilang itu anak orang kaya. Seandainya Maharani punya anak dari Gilang, pasti anaknya kelak akan kecipratan kekayaan dari Gilang.


Gilang dan Maharani saling pandang.


Gilang kemudian menyematkan cincinya ke jari manis Maharani. Dia kemudian mencium punggung istri sirinya itu. Setelah itu dia mengecup kening Maharani.


"Makasih yah Mas. Kamu udah mau nikahin aku."


"Iya Maharani." Kata Gilang


Pak Ridwan tersenyum.


Gilang dan Maharani mendekat. Mereka kemudian bersimpuh dan mencium tangan Pak Ridwan untuk meminta restu.


"Iya. Semoga kalian berdua menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah yah Nak." Kata Pak Ridwan .


"Mas, sementara kita tinggal di sini dulu aja yah, nggak apa-apa. Aku lagi merawat bapak soalnya."


"Iya Ran nggak apa-apa. Aku juga mau ke Surabaya lagi."


"Untuk apa Mas?"


Gilang kemudian melangkah masuk ke kamarnya. Yah, dia tidak enak ngomong di luar. Karena masih banyak orang. Tetangga dan kerabat Maharani masih kumpul di rumah Maharani


"Mas, kamu jangan pulang ke Surabaya. Kita baru saja menikah Mas."


"Tapi aku kerja sama Joe sekarang. Kamu kan tahu. Kalau aku udah nggak punya apa-apa. Aku masih takut pulang ke rumah orang tuaku. Fikri pasti akan menghajarku habis-habisan. Mungkin saja dia bisa membunuhku."

__ADS_1


"Iya..iya...iya... Aku ngerti. Tapi kamu nggak akan pulang sekarang kan?"


"Nggaklah...aku juga capek."


"Sayang. Rumah baru kita gimana? lama nggak aku tempatin."


"Yah, nanti kita pindah ke sana. Cuma di sana tempat yang aman. Kalau di rumah ku dan Andira, pasti keluargaku sering bolak-balik ke sana."


"Aku akan selalu menunggumu Mas. Menunggu kamu jadi orang sukses. Giat-giatlah dalam bekerja." Kata Maharani memberi semangat.


Gilang tersenyum. Dia kemudian mendekat.


"Kamu cantik Maharani. Aku suka wanita tulus seperti kamu. Kamu udah mau hidup susah denganku."


"Mas. Aku butuh seorang suami. Kalau bukan kamu, siapa lagi yang mau aku nikahi. Aku cuma cintanya sama kamu Mas."


Maharani kemudian memeluk Gilang dengan mesra. Yah, mereka sekarang tampak bahagia, tanpa harus melihat ada hati yang terluka di sisi yang berbeda.


...****************...


Malam ini, angin bertiup sangat kencang. Tirai jendela kamar Andira tampak menyibak-nyibak.


Andira masih terlelap dalam tidurnya.


Tiba-tiba saja dia terbangun saat foto pengantinya dengan Gilang itu tiba-tiba terjatuh dan pecah.


"Astaghfirullahaladzim..." Ucap Andira.


Andira kemudian melihat ke samping. Tampaklah berceceran pecahan kaca itu.


"Auh..." Pekik Andira saat pecahan kaca itu mengenai kakinya. Kaki Andira berdarah.


"Ya Allah...kaki aku..." Ucap Andira lirih.


Joe di ruang kerjanya tampak masih berkutat dengan laptopnya. Dia samar-samar mendengar suara dari dalam kamar Andira.


"Kenapa dengan Andira yah. Ada apa di kamar Andira? "


Joe yang penasaran langsung bergegas pergi melangkah ke arah kamar Andira.


Tok tok tok..


Joe mengetuk pintu kamar Andira.


Dengan langkah pincang, Andira membuka pintu untuk Joe. Joe terkejut saat melihat banyak darah. Dia berfikir kalau Andira keguguran.


"Andira. Apa yang terjadi? kenapa banyak darah dan pecahan kaca?"


Joe panik.


Andira tersenyum dan hanya menanggapinya santai.


"Aku nggak apa-apa Joe. Itu darah dari kaki aku yang kena pecahan kaca."

__ADS_1


"Kamu luka. Ya udah tunggu sini sebentar. Aku mau ambil obat dulu untuk kamu."


"Makasih yah Joe."


Joe kemudian berlari kecil turun ke bawah untuk mengambil obat p3k.


Setelah itu Joe menyuruh Andira duduk. Dengan perlahan Joe mulai mengobati dan memperban kaki Andira.


"Auh...pelan-pelan Joe. Sakit...!"


"Iya. Sabar Andira." kata Joe sembari membalut luka Andira dengan kain perban.


Joe dan Andira saling menatap.


"Sepertinya luka mu terlalu dalam Andira. Makanya darahnya banyak sekali yang mengalir. Lain kali hati-hati yah " Kata Joe.


"Makasih yah Joe. Udah mau ngobatin luka aku."Kata Andira.


"Sama-sama Andira."


Setelah itu Joe pun duduk di sisi Andira.


"Andira, kamu pindah tidur di kamar aku aja yah. Biar kamar ini, di beresin sama bibik."


"Iya Joe." Kata Andira.


"Biar aku gendong kamu. Kalau kamu paksain jalan, aku takut nanti kaki kamu bisa sakit."


"Nggak usah repot-repot Joe. Aku bisa kok jalan sendiri." Kata Andira.


"Ya udah. Sekarang kamu berdiri. Nanti aku akan papah kamu."


"Iya Makasih."


Andira dan Joe kemudian meninggalkan kamar itu dan melangkah ke kamarnya Joe.


Andira kemudian duduk di sisi ranjang.


"Rapi banget Joe kamarnya. Bersih, wangi lagi. Kamu memang lelaki yang rajin."


"Iya Andira. Aku tidak suka suasana yang berantakan. Kalau bibik sibuk, biasanya aku yang beresin kamar sendiri."


"He..beres-beres sendiri. Nyuci baju sendiri, apa-apa sendiri? kapan punya istri?"


Joe duduk di sisi Andira.


"Aku belum mau memikirkan punya istri Ra. Aku mau fokus dulu ama karir aku."


"Ingat umur Joe..."


"Ha...ha...Iya. Aku tahu Andira. Kamu pasti akan mengejek ku kan. Kamu pasti akan bilang kalau aku nggak nikah-nikah, aku akan jadi bujang tua?"


"Ha...ha ...Apaan sih Joe. Siapa yang mau ngeledek kamu."

__ADS_1


"Ra. Aku belum aja nemuin cewek yang cocok sama aku. Belum ada yang srek gitu lho."


"Oh.Ya..ya...aku tahu. Emang kamu mau pilih yang kayak apa? kamu ganteng, tajir, mana mungkin sih ada cewek yang berani nolak kamu. Kalau kamu lagi suka sama seseorang, kamu tembak aja dia langsung. Yang penting, jangan godain pacar orang atau istri orang. Pilih wanita yang kualitas bagus dan benar-benar orsinil masih jomblo..."Kata Andira yang semakin hari sudah semakin akrab saja dengan Joe.


__ADS_2