Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
Tamu penting


__ADS_3

Farrel kemudian melangkah dan masuk ke ruang rapat. Di sana sudah berkumpul orang-orang penting yang telah di undang oleh Fikri. Fikri akan mengajukan kerja sama dengan mereka agar kantornya itu bisa terselamatkan dari kebangkrutan.


" Selamat sore semuanya." Sapa Farel setelah masuk ke dalam ruang rapat tersebut.


Farel kemudian duduk di kursi kosong yang masih tersisa. Setelah itu rapat pun di mulai.


****


Setelah selesai syuting, Rafael melangkah ke arah kursi. Sepertinya dia sudah tampak kelelahan untuk syuting hari ini. Rafael duduk di dekat Jessica. Jessica adalah wanita rekan kerja Rafael. Dia juga seorang super model. Dia cantik, feminim, selain menjadi model, dia juga menjadi presenter di banyak acara tivi dan menjadi pemain film juga.


" Nih minum...!" Ucap Jessica sembari memberi satu botol minuman air mineral kepada Rafael.


" Makasih yah." Ucap Rafael.


Jesica hanya tersenyum." Sama-sama." Ucap Jesica.


Rafael tampak berkeringat setelah melakukan banyak aktifitas syuting. Jessika tiba-tiba saja mengusap Rafael dengan sapu tangan miliknya.


" Kamu berkeringat Rafael." Ucap Jessica.


Rafael hanya tersenyum.Dia kemudian mengambil sapu tangan Jessica.


" Aku bisa sendiri Jes." Ucap Rafael.


" Oh, maaf. Aku udah lancang." Kata Jessica.


" Nggak apa-apa." Ucap Rafael sembari mengusap keringatnya sendiri.


Setelah selesai syuting, Rafael akan kembali ke rumahnya. Dia menghampiri ke arah mobilnya. Setelah itu diapun meluncur untuk pulang ke rumah.


Waktu telah menunjukan jam 8 malam. Mobil Rafael sudah tampak ada di halaman depan rumahnya. Rafael turun dari mobilnya. Dia kemudian masuk ke dalam. Tampaknya di dalam itu ada tamu. Dan Rafael tidak tahu siapa tamu itu.


" Assalamualaikum." Ucap Rafael.


" Wa'alaikumsalam." Ucap Fikri dan kedua tamunya itu.


Rafael kemudian mencium tangan ayahnya dan tamu ayahnya. Setelah itu Rafael pamit untuk masuk ke dalam.Rafael kemudian naik ke atas menuju ke kamarnya. Rafael kemudian membaringkan dirinya ke atas kasurnya. Dia merasa sangat capek sekali hari ini.


Andira tiba-tiba saja sudah berdiri di kamar Rafael.


" Rafael..." Ucap Andira.


Rafael tersentak. Dia kemudian bangkit untuk duduk.


" Eh, Ma. Ada apa Ma...?" Tanya Rafael.


Andira tersenyum dan duduk di sisi ranjang Rafael.

__ADS_1


" Kamu baru pulang?" Tanya Andira


" Iya Ma. Ada apa?"


" Nggak ada apa-apa. Kmau udah mandi belum?" Tanya Andira.


Rafael hanya menggeleng.


" Ya udah kalau begitu. Sekarang mandilah, terus nanti kita makan malam."


" Makan malam?"


" Iya. Itu makan malam bareng tamu papa."


" Siapa sih Ma...?"


" Masak kamu nggak tahu mereka siapa? Mereka itu rekan bisnis baru papa kamu." Ucap Andira.


" Rekan bisnis?"


" Iya. Rekan bisnis. Sudah nggak usah banyak tanya. Sekarang kamu mandi dan langsung turun ke bawah. Mama tunggu di bawah."


" Oke."


Setelah itu Andirapun pergi meninggalkan kamar Rafael. Dia kemudian turun ke bawah. Sementara Viona itu bergegas mandi. Dia masuk langsung menyambar handuknya dan langsung melangkah menuju ke kamar mandi.


Rafael keluar dari kamar mandi. Dia kemudian melangkah ke arah lemarinya dan membuka lemari. Dia kemudian memakai bajunya. Dan setelah itu dia turun ke bawah untuk menemui mamanya.


Andira masih berada di dapurnya bersama Mbak Rumi pembantu baru di rumah Andira. Andira sepertinya lagi repot sekali menyiapkan makan malam kali ini. Nampaknya tamu kali ini bukan tamu sembarangan. Tapi tamu penting. Viona juga tampak sedang membantu membawakan semua makanan itu ke meja makan.


Rafael mendekat ke arah mamanya.


" Masak apa Ma? Banyak sekali masakannya." Kata Rafael.


" Iya nih. Ada tamu penting yang di undang makan malam oleh papa mu" Kata Andira menjelaskan.


" Oh. Gitu." Rafael hanya manggut-manggut.


Rafael kemudian mencicipi masakan mamanya.


" Hem...enak ma. Ini mama yang masak?" Tanya Rafael.


" Iya dong. Mbak Rumi hanya bantu-bantu saja. Soalnya papa kamu itu, tidak mau makanan yang lain. Dia cuma mau makan masakan mama. Kecuali kalau di restora. Terpaksa dia mau makan masakan orang." Kata Andira.


Rafael hanya manggut-manggut. " Oke, aku bantuin bawa yah...!" Ucap Rafael.


" Iya."

__ADS_1


Rafael kemudian membantu membawakan makanan-makanan itu ke meja makan.


***


" Saya sangat berterimakasih kepada Pak Arka. Karena mau berkenan bersilaturahmi kemari. Jujur saya sangat senang sekali Pak." Ucap Fikri.


Arka hanya tersenyum. " Iya Pak Fikri, saya juga senang bisa kenal dengan anda." Ucap Arka.


" Oh iya. Kalian berdua tunggu di sini, saya akan panggilkan Andira istri saya."


Arka hanya mengangguk. Ya, sedari tadi Fikri lupa untuk mengenalkan istrinya itu pada Arka.


Fikri melangkah ke dalam untuk memanggil istrinya.


" Ma, sudah siap semua Ma?" Tanya Fikri pada istrinya.


" Sudah Pa." Jawab Andira.


" Ya udah. Alangkah baiknya, mama ke luar untuk nemuin tamu papa. Pak Arka juga mengajak istrinya lho."


" Iya Mama tahu Pa." Ucap Andira.


Fikri kemudian mengajak Andira untuk menemui Arka dan istrinya.


Andira kemudian menurut dengan Fikri. Mereka berdua berjalan melangkah ke aah ruang tamu.


"Pak Arka. Perkenalkan. Ini istri saya. Namnya Andira." Ucap Fikri memeperkenalkan Andira pada Arka.


Arka hanya tersenyum. Dan Arka kemudian memeperkenalkan istrinya juga.


" Dan perkenalkan ini Tanti istri saya." Ucap Arka memperkenalkan Tanti pada Andira.


" Senang bisa berkenalan dengan kalian. Jujur, saya sudah sering mendengar Pak Arka. Pak Arka itu memang pengusaha hebat dan tidak tertandingi."


" Oh, ha..ha...itu semua berkat istri saya, saya jadi seperti sekarang. Iya kan sayang." Ucap Arka. Arka yang selalu memuji istrinya di manapun dia berada. Dia sangat mencintai Tanti istrinya itu. Arka dan Fikri memang lelaki yang hampir sama. Sama-sama cerdas dalam mengelola bisnis, dan mempunyai istri juga sama. Sama-sama istri yang penurut dan setia.


" Pak Arka, Bu Tanti. Saya sudah masak banyak. Jangan pulang dulu yah, lebih baik kalian berdua, ikut makan malam dulu bersama kami." Ucap Andira.


Arka dan Tanti saling menatap. Mereka seperti sangat bahagia karena Fikri dan Andira itu ternyata orang-orang yang sangat baik. Mereka menyambut Arka dan Tanti dengan sangat ramah.


" Kenapa harus repot-repot Bu Andira, Pak Fikri " Ucap Tanti.


" Nggak apa-apa kok. Sama sekali tidak merepotkan. Justru kami senang dan sangat bangga jika Pak Arka dan Bu Tanti mau makan bersama di sini." Kata Andira.


" Iya tentu kami mau. Karena kalian berdua sudah sangat baik." Ucap Arka.


Akhirnya Arka dan Tantipun makan malam di rumah Fikri.

__ADS_1


__ADS_2