Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
POV Rafael( anak baru)


__ADS_3

Aku tersentak mendengar suara Pak Dion. Aku gelagapan saat melihat Pak Dion itu sudah seperti harimau yang sudah siap memangsa mangsanya.


Aku hanya menyeringai. Mataku masih ngantuk berat. Aku tidak berani menatap Pak Dion. Walaupun aku tidak takut dengan siapapun. Tapi untuk urusan Pak Dion, aku sedikit takut. Karena bisa saja Pak Dion itu melaporkan ke ayah dan ibuku. Bisa-bisa kalau Papa dan mama tahu, aku bisa di sita semua barang-barang ku oleh papa Fikri.


" Rafael. Kalau kamu mau tidur, kenapa kamu tidak tidur di luar saja. Lebih baik kamu keluar sana, dari pada kamu harus tidur di kelas." Suara Pak Dion terdengar sangat lantang.


Aku hanya bisa diam. Aku benar-benar ngantuk sekali saat ini.


" Aduh Pak. Maaf. Aku ngantuk banget." Ucap ku.


" Sekarang, kamu keluar dan tidak usah mengikuti kelas saya." Kata Pak Dion.


Akupun di suruh keluar oleh pak Dion. Namun aku tidak keberatan. Karena aku ngantuk. Jadi akupun memutuskan untuk kelaur kelas dan aku akan tidur di mana saja tempat yang akan membuatku nyaman.


Aku mengambil tas ku dan memasukan buku dan alat tulis ku. Aku kemudian meninggalkan bangku ku.


" Rafael...! tunggu...!" Seru Pak Dion lagi. Aku buru-buru berhenti saat Pak Dion itu memanggil ku.


"Iya Pak ada apa?" Tanya ku yang sudah menghadapkan wajah ku ke arah Pak Dion.


" Mau kemana kamu?" Tanya Pak Dion.


" Aku mau keluarlah Pak." Ucap ku.


" Segampang itu, kamu meninggalkan kelas saya...?" Pak Dion menatap ku tajam.


" Ya, terus? aku harus bagaimana. Bukannya tadi bapak menyuruh ku keluar?"Kata ku memberanikan diri. Aku mang selalu berani sama siapa saja. Tidak perduli yang aku hadapi itu siapa.


" Siapa yang menyuruhmu keluar. Saya menyuruhmu keluar itu untuk saya hukum. Bukan keluar seenaknya begitu...!" Kata Pak Dion dengan nada tinggi. Sepertinya kali ini Pak Dion benar-benar dalam keadaan emosi.


"Apa. Hukuman? bapak mau kasih saya hukuman apa lagi?" Tanya ku.


" Kamu harus saya hukum. Kamu harus hormat di tiang bendera, atau kamu keliling kampus, atau kamu membersihkan toilet. Sekarang kamu pilih yang mana?" Kata Pak Dion memberikan aku pilihan yang menurutku malas jika harus aku kerjakan dari salah satu hukuman itu.

__ADS_1


" Aku hormat saja deh pada tiang bendera." Ujar ku setelah sedikit lama berfikir.


" Baik. Sekarang kerjakanlah sampai mata pelajaran saya selesai."


" Baik lah Pak. Siap laksanakan."


Setelah itu akupun pergi ke arah depan kampus. Aku kemudian hormat di tiang bendera. Sebenarnya aku malas melaksanakan hukuman ini. Tapi, aku takut kalau dosen killer itu akan melapor pada kedua orang tua ku. Dan bisa saja papa Fikri memblokir kartu kreditku lagi, atau dia akan mengambil semua fasilitas yang aku punya. Dan aku paling benci jika hidup miskin.


Rasa panas, rasa haus, itu menyelimuti tubuh ku kali ini. Aku masih berdiri di tengah lapangan untuk hormat pada tiang bendera. Rasa dahaga ku itu sudah tidak bisa terbendung. Peluh ku bercucuran. Aku sekarang sudah seperti cacing kepanasan.


" Hai..." Sapa seseorang padaku.


Aku menoleh. " Hai." Aku balik menyapa


Aku tertegun sejenak saat melihat sesorang yang sekarang ada di sampingku. Dia seorang gadis yang sangat cantik, bermata indah, berhidung mancung, dan senyumannya itu selalu mengalir dari wajah cantiknya. Dan sepertinya, baru kali ini aku itu melihat seorang gadis secantik dia.


Gadis itu kemudian menyodorkan minuman kepadaku.


" Ini. Minuman buat kamu." Ucapnya.


" Makasih yah?" Ucap ku.


" Iya sama-sama."balasnya.


Aku kembali hormat dan menatap ke atas. Aku melihat ke tiang bendera lagi. Betapa panas terik itu menyayat tubuh ku.


Aku melirik ke samping. Tiba-tiba saja aku melihat sosok cantik itu sedang hormat dengan bendera meniru gerakan ku.


" Ngapain kamu ikutan hormat...?" tanya ku.


" He..he..iya. Aku cuma lagi menemani mu saja." Ucapnya.


" Menemani ku?" Tanya ku.

__ADS_1


" Iya. Kalau lagi di hukum begini, aku seperti teringat lagi waktu-waktu aku SMP." Jawabnya.


Aku tersenyum. Aku juga mengingat saat masih masa-masa SMA, di mana aku suka sekali tawuran antar pelajar. Aku juga sering terciduk polisi. Dan papa Fikri yang sering kali mengeluarkan aku dari penjara. Untunglah, aku ini anak pengusaha sukses. Aku ini orang kaya. Jadi dengan uang, aku bisa bebas. Dan aku juga tidak begitu mengandalkan uang papa Fikri. Karena selain uang dari kedua orang tua ku, aku juga punya penghasilan sendiri seperti menjadi seorang modelling.


Aku hanya tersenyum. Sembari masih terus hormat pada bendera. Gadis itu juga masih berada di samping ku, katanya dia akan menemaniku. Dalam sejarah hidup ku, Dari ribuan wanita, baru kali ini ada gadis yang rela kepanasan karena menemani ku berjemur di bawah teriknya sinar matahari.


Aku menatap kejauhan. Ku lihat Pak Dion itu sudah keluar dari kelas ku. Aku bernafas lega akhirnya, aku itu bisa bebas juga dari hukuman hormat di depan tiang bendera itu.


Aku menurunkan tanganku. Gadis itupun ikut menurunkan tangannya.


" Kamu nggak masuk kuliah?" Tanya ku.


Dia menggeleng." Aku masih baru di sini. Tadi aku ke ruang Dekan. Terus, pas aku keluar, aku melihat kamu berjemur seperti ini. Jadi aku samperin kamu. Aku sekalian pengin punya teman baru." Ucapnya.


Aku pun kemudian mengajaknya ke kantin. Menurutku, kantin itu adakah tempat yang paling nyaman untuk ku. Aku bisa leluasa ngobrol dengan gadis itu.


Sekarang, aku sedang berjalan berdampingan dengan gadis itu sembari melangkah menuju ke kantin sekolah.


" Oh iya. Kita kan belum kenalan. Kenalin, aku Aqila." Ucap Aqila sembari mengulurkan tangannya.


Akupun menyambutnya dengan ramah.


" Aku..." Ucapan ku terhenti saat Aqila memutus ucapanku.


" Aku tahu kok. Nama kamu itu Rafael Febrian Raharja kan?" Terka gadis itu.


" Lho, kok kamu tahu."


" Ya tahulah, kamu itukan suka nongol di iklan tivi. Kamu itu seorang model kan?" terka gadis itu


Aku hanya tersenyum. Sepertinya, gadis yang bernama Aqila itu sangat peka. Dia itu sangat ramah, juga perhatian. Cocok jika di jadikan sahabat untuk ku. Lagian, selama ini aku belum menemukan wanita yang benar-benar membuat ku sreg.


" Kita mau kemana nih?" Tanya Aqila padaku.

__ADS_1


" Aku mau ajakin kamu ke kantin. Soalnya aku mau beli makan." Ucap ku.


" Oh, " Aqila hanya mengangguk.


__ADS_2