
Malam ini, Andira sendiri. Tadi sore Gilang berpamitan untuk ke luar kota dalam jangka waktu satu minggu ke depan.
Andira tiba-tiba saja di kejutkan oleh suara ponselnya.
"Halo..."
"Halo kak."
"Ada apa Dini?"
"Kak, tolong kakak ke sini. Ibu sakit. Dia ada di rumah sakit sekarang."
"Oh, iya. Nanti kakak ke sana."
Andira kemudian menelpon kakak iparnya. Karena sekarang Andira takut, kalau di jalan dia akan bertemu dengan begal lagi.
Beberapa saat kemudian, Fikripun datang. Fikri melangkah ke arah depan rumah Andira.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu rumah Andira.
Andira kemudian membuka pintu rumahnya. Andira sudah tampak rapi. Dia sudah siap untuk pergi.
"Kamu sudah siap Dek?" tanya Fikri.
"Iya Mas. Aku sudah siap."
Andira dan Fikri kemudian masuk ke mobil.
"Andira, sekarang Gilang di mana?" tanya Fikri.
"Dia ke luar kota." Jawab Andira.
"Oh, apa dia sering ke luar kota?"
Andira terdiam.
Fikri melirik wajah Andira sembari menyetir.
Andira, tanpa kamu mengatakannya, Akupun sudah tahu, kalau hubungan mu dengan suamimu itu, sedang tidak baik. Aku yakin, di depan orang kamu itu pura-pura baik-baik saja. Padahal aku yakin. Pasti Gilang telah melukai hatimu. Batin Fikri.
"Sudahlah Mas, jangan bahas Mas Gilang. Kita fokus aja nyetirnya." Ucap Andira.
Andira masih menatap ke luar.
Fikri mengangkat tangan kirinya. Dja ingin meraih kepala Andira,dan ingin membelai wanita berhijab itu, Namun dia urungkan niatnya.
Ah Andira. Bagaimana caranya aku melupakan mu, sementara kita selalu dekat seperti ini. Dan bagaimana pula, aku memilikimu. Sementara suamimu itu tidak akan pernah melepaskan mu. Batin Fikri.
Fikri dan Andira masih tampak diam. Mereka sama-sama larut dalam fikirannya masing-masing.
Tiba-tiba saja Andira menangis.
"Andira, kenapa kamu nangis?apa yang terjadi?"
Fikri kemudian menghentikan laju mobilnya.
__ADS_1
"Ibuku sakit Mas. Aku takut akan terjadi apa-apa sama ibu." Ucap Andira.
Fikri tersenyum. Tangan kekarnya menghapus air mata Andira.
"Jangan menangis Dir. Kita berdoa saja yah."
"Iya Mas."
"Dek, Mas kan udah pernah bilang, kalau kamu mau curhat ke Mas, boleh. Kamu utarakan semua unek-unek yang ada di hati mu Dek."
Andira masih menangis.
"Kamu ceritalah sama Mas. Mas bukan orang lain Dek. Mas ini kakak kamu juga. Mas akan pinjamkan bahu Mas untuk sandaran kamu. Mas akan dengarkan semua keluh kesah kamu."
"Mas, aku nggak apa-apa kok. Aku sedih aja ke ingat Ibu. Dia orang tua satu-satunya yang Andira punya. Andira nggak mau ke hilangan dia."kata Andira.
"Iya Mas tahu." Ucap Fikri kemudian.
...****************...
Fikri dan Andira sekarang menuju ke kamar ibu Andira di rawat.
"Bunda..."Ucap Andira mendekati ibunya.
"Kak Dira..." Andini adik Andira yang paling bungsu memeluk Andira erat.
"Bagaimana ke adaan Bunda? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Andira.
"Bunda terjatuh dari kamar mandi. Dan sekarang dia terkena stroke." Ucap Dini.
"Ya Allah Bunda." Ucap Andira. Dia kemudian menangis.
Denis sekarang masih duduk di bangku kuliah semester empat. Sementara Andini masih SMA.
Setelah ayah Andira meninggal, Andira yang sekarang harus kerja banting tulang untuk membiayai adiknya sekolah. Andira itu tipe seorang wanita pekerja keras dan pantang menyerah.
Namun kelemahan dia itu, Andira adalah sosok perempuan yang lemah, jika mengenai perasaan, dia cuma bisa pasrah dan menangis.
Dia bukan wanita yang suka membantah ucapan suaminya, dia bukan wanita yang bisa melawan saat tertindas. Namun entahlah jika kesabarannya benar-benar habis menghadapi suami macam Gilang, apakah Andira akan diam saja. Entahlah sudah berapa kalinya Gilang mengkhianatinya, dan sudah berapa kalinya Gilang melukai wanita sebaik Andira.
Andira duduk di samping ibunya yang masih terbaring lemah.
"Bunda..."Ucap Andira sembari menangis.
Ibu Andira masih belum sadarkan diri. Dia masih dalam ke adaan pingsan.
"Sabar yah Dek. Ini termasuk ujian juga dari Allah. Mas harap Adek yang sabar untuk menghadapi ujian ini." Fikri mencoba memberi kekuatan untuk andira.
"Makasih Mas."
Lagi-lagi Andira menangis. Dia kemudian teringat suaminya. Kenapa di saat-saat Andira membutuhkan Gilang, malah justru Gilang menghilang.
Padahal apa yang Andira inginkan. Dia cuma ingin di temani suaminya di saat-saat kehamilannya, dia sangat ingin di sayangi dan di perhatikan oleh suaminya. Tapi apa yang Andira dapatkan. Dia hanya mendapatkan kesedihan. Apalagi di saat-saat seperti ini, ibunya belum sadarkan diri. Gilangpun telponnya tidak aktif.
"Mas, kemana sebenarnya Mas Gilang?" Ucap Andira.
"Ya, mungkin dia ada tugas Dek." Bohong Fikri. Yah, lagi-lagi Fikri berbohong. Padahal Fikri sebenarnya tahu, kalau Gilang itu keluar kota bukan karena urusan kantor, tapi mungkin karena urusan lain.
__ADS_1
Maafkan aku Andira, Aku tidak bisa jujur. Aku takut kamu akan terluka. Kasihan kalau kamu banyak fikiran. Aku takut itu akan mengganggu ke hamilanmu. Gilang mana mungkin keluar kota karena urusan kerjaan. Kerjaan Gilang di kantor, aku semua sekarang yang menghandle. Gilang mana bisa becus dan fokus dalam bekerja. Jadi kalau Gilang bohong , aku juga tahu. Batin Fikri.
...****************...
Malam ini, udara di luar begitu dingin. Di ruang tunggu rumah sakit, Fikri masih tampak terduduk menemani Andira. Fikri tidak tega untuk meninggalkan Andira.
Deringan ponsel Fikri mengejutkan lamunan Fikri. Fikri langsung merogoh ponselnya.
Frans calling.
"Halo Frans...Ada apa?"
"Gimana Bro, kenapa nggak datang ke kantor hari ini?"
"Maaf Frans. Gue lagi ada di rumah sakit."
"Siapa yang sakit?"
"Mertuanya Gilang."
"Oh, kamu lagi di sana bersama Gilang juga?"
"Nggak, bukan gitu. Gilang lagi nggak ada. Jadi aku lagi nemenin istri dia."
"Oh...gitu?"
"Iya."
Frans adalah sekertaris pribadi Fikri. Dia juga sahabat karib Fikri. Semua jadwal Fikri Frans semua yang mengatur. Fikri juga sudah sangat percaya pada Frans.
Setelah bertelponan dengan Frans, Fikri kemudian melangkah masuk ke ruang rawat ibu Andira. Fikri mendapati Andira sedang bercakap dengan ibunya.
"Nak, gimana? apa kamu bahagia, dengan Gilang?"
Andira tersenyum walau hatinya menangis.
"Aku bahagia kok Bun." Bohong Andira.
" Sekarang di mana Gilang? Bunda pengin ketemu."
Andira diam.
"Mas Gilangnya lagi ada tugas di luar kota."
"Oh..."
"Assalamu'alaikum." Ucap Fikri yang membuat Andira dan ibunya terkejut.
"Wa'alaikum salam." Jawab Andira dan ibunya kompakan.
Fikri langsung mencium punggung tangan Ibunya Andira.
"Siapa dia Nak?" tanya Ibu Marni.
Andira dan Fikri saling berpandangan.
"Coba deh Bunda tebak siapa dia?"
__ADS_1
Ibu Andira yang tidak mengenal Fikri itu tampak bingung.