
"Sekarang kita bersiap-siap sayang. Sekarang kamu ganti baju, dan jangan menggodaku pagi-pagi gini."
"Menggoda bagaimana?"
"Yah, lihatlah, kamu cuma pakai gituan."
Andira menatap tubuhnya sendiri dari atas sampai ke bawah. Yah, memang dia baru selesai mandi dan belum ganti baju. Dia cuma pakai handuk saja.
" Ah, apaan sih Mas."Kata Andira sembari melangkah ke lemari pakaian.
"Mas, aku mau pakai apa? semua bajuku sudah kamu masukin semua yah?"
"Itu Sayang. Aku udah siapkan."
"Mas, kok pakai baju pergi."
"Iya. Kita harus pergi sekarang."
"Ya udahlah."
Andira akhirnya menurut juga dan tidak membantah lagi apa yang suaminya katakan.
Setelah Andira berganti baju dan memoles wajahnya, Gilang mengajaknya pergi.
"Nak, kalian mau kemana?" tanya Oma Rusti bingung.
"Kami mau pulang ke Jakarta Oma." Bohong Gilang. Padahal dia mau mengajak Andira kabur.
Karena Gilang yakin kalau Fikri akan mencarinya ke Surabaya.
"Ya udah, sarapan dulu. Kenapa mendadak sekali sih!. Pagi-pagi begini."
"Iya Oma. Aku ada urusan penting di kantor papa." Gilang berbohong.
Gilang dan Andira kemudian sarapan bareng dengan kakek dan neneknya.
Entah sampai kapan Gilang itu akan menjadi pembohong. Dia sangat jago sekali dalam berbohong.
Entah kapan Gilang akan sadar. Kalau dosa yang sudah dia taburkan pada orang-orang itu sudah begitu banyak. Apalagi pada istri dan keluarganya. Sekarang dia sedang menjadi Buronan Fikri dan kedua orang tuanya.
...****************...
Sudah dua hari Fikri mencari Gilang. Namun hasilnya nihil.
"Ah, sial. Kemana adik kurang ajar itu. Sudah ke semua tempat aku cari. Teman-temannya, mantan-mantanya sudah aku datangi. Tapi malah dia nggak ada yang tahu kemana dia pergi."
Fikri tampak berfikir. Dan tiba-tiba saja Fikri teringat Oma dan Opanya.
"Ah, rumah Opa. Aku yakin pasti Gilang ada di sana. Tapi, ah, aku tidak tahu nomer Oma." Kata Fikri.
Fikri benar-benar bingung dengan apa yang akan di lakukannya. Sekarang Bu Dian ada di rumah sakit, pak Danu selalu mendesaknya untuk menikahi Sofi.
Fikripun tidak tega dengan kondisi mamanya. Mamanya itu semakin hari kondisinya semakin menurun. Itu karena stres yang berlebihan.
__ADS_1
"Semua gara-gara Gilang. Gilang adik sialan. Kenapa dari dulu dia selalu buat masalah terus sih! sekarang, kesalahannya harus aku yang tanggung."Geram Fikri.
Dia tampak emosi sekali.
Rinng ring....
Nada dering ponsel Fikri berdering.
Papa memanggil...
"Halo Pa."
"Fikri, kamu harus cepat kemari Nak. Mama kamu kritis sekarang."
"Apa! bukannya kata dokter mama baik-baik saja. Mama sebenarnya kenapa sih Pa?"
"Kata dokter, mama kamu terkena serangan jantung ringan. Tapi enatah kenapa, tiba-tiba saja, denyut jantungnya melemah Nak."
"Ya udah Fikri kesana. Setelah itu, Fikri akan ke Surabaya menyusul Gilang. Aku yakin Gilang dan Andira ada di sana."
"Baiklah Nak. Tapi jika tidak di temukan juga, kamu mau yah,menikahi Sofi. Demi mama Nak, dan demi anak Gilang yang ada di rahim Sofi. Dia masih butuh sosok ayah Nak."
"Iya Pa. Fikri akan ke sana. Sekarang."
"Iya Nak. Asalamu alaikum."
"Wa' alaikum salam."
Fikri mengambil jaket dan kunci mobilnya, dia kemudian meluncur ke rumah sakit.
"Ya Allah, di mana kamu Andira Mas kangen banget sama kamu sayang. Kemana Gilang brengsek itu menyembunyikan mu. Seandainya aku bisa bertemu denganmu Andira, aku akan mengatakan semua kebusukan Gilang." Gumam Fikribsembari melajukan mobilnya.
Di perjalanan ke rumah sakit, tiba-tiba saja.
Chiiiiiiit....
Fikri mengerem mobilnya kuat-kuat saat ada sesosok permpuan akan menyeberang jalan. Perempuan itu terkejut. Fikri langsung turun dari mobilnya.
"Maharani?"
"Kak Fikri."
"Gimana kabar kamu Maharani?"
"Baik Kak."
"Setelah kamu di keluarkan dari perusahaan ku, Apa kamu sudah punya pekerjaan lain?"
Maharani mengangguk.
"Dimana kamu kerja?"
"Aku...em..." Maharani bingung mau bicara apa. Karena sekarang pekerjaan yang dia dapat bukan pekerjaan yang halal. Dia sekarang menjadi seorang penghibur di klab malam.
__ADS_1
Yah, selama ini Maharani mendapatkan pekerjaan baik karena kekasihnya Gilang. Karena dia punya kekasih seorang presdir, jadi dia bisa menjabat menjadi sekertaris pribadinya.
Sekarang Gilang sudah tidak punya apa-apa sejak kabur dari rumah. Karena Pak Danu sudah memblokir semua kartu kredit milik Gilang. Itu semua dia lakukan agar Gilang kembali ke rumah. Sekarang Gilang dan Andira cuma numpang makan dan tidur di rumah Oma Rusti.
Dan tak ada pilihan lain untuk Maharani, kecuali dia bekerja di klab malam yang upahnya sangat menggiurkan.
"Maaf Kak. Aku buru-buru." Kata Maharani.
Maharani kemudian pergi meninggalkan Fikri. Sementara Fikri melajukan mobilnya kembali.
...*********...
Sesampai di rumah sakit, Fikri buru-buru melangkah ke ruang rawat mamanya. Di sana cuma ada papanya. Fikri mendekat ke arah Pak Danu.
" Pa. Bagaimana kondisi mama Pa?" tanya Fikri.
"Kritis Nak." Jawab Papa." Tapi dokter sekarang lagi memeriksanya."
"Apa?" Fikri terkejut. Dia kemudian terduduk lemas.
Pak Danu menepuk bahu Fikri.
" Nak, tolong Nak. Cuma kamu anak yang kami harapkan untuk menolong keluarga. Ayo Nak, menikahlah dengan Sofi!"
" Tidak semudah itu Pa. Bukankah pernikahan itu untuk selamanya? Fikri mana mungkin menikah dengan wanita yang sama sekali tidak aku kenal."
"Tapi Nak. Jangan buat nama keluarga kita tercoreng di mata umum. Itu akan membawa nama buruk perusahaan kita juga. Bagaimana mungkin keluarga Danu Raharja anaknya bisa melakukan hal serendah itu."
Fikri tampak berfikir.
"Demi mama Pa. Fikri mau menikahi Sofi. Fikri tidak tega dengan mama. Biar mama bisa sembuh."
Pak Danu langsung memeluk anaknya.
"Terimakasih Nak. Terimakasih banyak. Siapa lagi yang bisa menolong papa, kalau bukan kamu."
Tak lama kemudian dokter pun keluar dari ruangan Bu Dian.
Fikri dan Pak Danu langsing mendekat ke arah dokter itu.
"Dokter, bagaimana kondisi mama saya?" tanya Fikri.
"Dia masih kritis. Tapi kalian tenang saja. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya. Sekarang, kalian berdoa saja untuk kesembuhan pasien."
"Baiklah Dok. Terimakasih banyak." Ucap Papa Fikri.
"Bolehkah kami masuk Dok?" tanya Fikri.
"Iya. Sialahkan. Saya permisi dulu."
Dokter kemudian pergi, sementara Fikri dan Pak Danu masuk ke ruang perawatan. Mereka melihat Bu Dian tampak sedang terbaring lemah. Selang infus masih menempel di tanganya, begitu alat bantu pernafasan masih menempel di mulutnya. Tubuhnya sudah mulai mengurus. Membuat Fikri jadi tidak tega melihatnya.
"Ya Allah Ma, kenapa mama jadi seperti ini. Maafkan Fikri Ma, baiklah jika mama dan papa menginginkan Fikri menikah dengan wanita yang bernama Sofi, Fikri mau. Tapi tolong, izinkanlah Fikri untuk pergi mencari Gilang ke rumah Oma."
__ADS_1