
"Andira...Andira. Bisa saja kamu ah,"
Joe tersenyum. Begitu pula dengan Andira. Terkadang mereka juga saling beradu pandang
"Ra. Udah malam. Kamu tidur di sini yah. Biar aku tidur di kamar bawah. Kamar tamu."
"Iya Joe. Makasih yah."
"Selamat malam, selamat istirahat Andira."
Joe kemudian melangkah ke arah luar.
Ceklek..
Joe membuka pintu kamar Andira.
"Joe...!" Seru Andira.
Joe menoleh. "Terimakasih untuk semuanya...!"
Joe tersenyum." Sama- sama nggak usah sungkan-sungkan sama aku."
Andira mengangguk. Setelah itu Joe pun pergi meninggalkan kamar Andira.
Andira kemudian membaringkan tubuhnya ke kasur. Dia mengelus perutnya.
"Nak, kenapa sudah satu minggu papamu belum hubungin mama yah?"Gumam Andira.
Andira kemudian menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal milik Joe.
"Nyaman sekali kamar Joe. Dua sudah seperti wanita saja. kamarnya bersih, wangi, dan semuanya tertata rapi. Tidak ada yang terlihat berantakan. Dan Mas Fikri, apa kabar dia. Ah, kenapa tadi aku telpon Dini,nggak minta nomernya Mas Fikri yah. Aku benar-benar lupa. Mau nanya nomernya mas Fikri."Gumam Andira lagi
Setelah itu Andirapun terlelap.
...****************...
Gilang masih ada di bawah selimut bersama Maharani. Yah, semalam adalah malam pertama mereka.
Waktu telah menunjukan jam lima pagi. Gilang buru-buru memakai bajunya dan keluar dari kamarnya. Dia mengambil handuk dan melangkah ke arah kamar mandi.
Sementara itu Maharani masih bertubuh polos tanpa sehelai benangpun.
Maharani tampak menggeliat. Di lihat suaminya sudah tidak ada di sampingnya.
"Ah, Mas Gilang udah bangun duluan? Ah, rasanya bahagia aku. Sekarang aku sudah seutuhnya memiliki Mas Gilang. Ini baru langkah awal. Dan perlahan-lahan, aku akan singkirkan Andira wanita yang menyebalkan itu. Harusnya kan aku duluan yang menikahi Mas Gilang. Gara-gara Andira, aku telat nikah dengan Mas Gilang." Gerutu Maharani.
Maharani masih sangat lelah. Dia malas untuk beranjak dari tempat tidurnya.
Selesai mandi Gilangpun masuk ke dalam kamarnya.
"Udah bangun sayang?" tanya Gilang.
"Hemm. Tapi rasanya aku malas banget mau ke kamar mandi.Mandilah sayang, nanti kita sholat bareng."
"Aku malas sholat Mas. Kamu ajalah yang sholat."
"Ran, nggak boleh gitu dong. Sholat itukan ke wajiban. Apa kamu tahu, kalau setiap hari aku menjadi imam sholat untuk Andira. Jadi karena aku di sini, kamu yang akan jadi makmum aku."
"Andira? kamu bilang Andira? Mas. Mulai sekarang, jangan sebut-sebut nama dia lagi di depan aku. Aku muak banget mendengarnya."
Gilang diam. Dia menyadari kalau Maharani memang sedang cemburu.
Ah, ini kan baru pertama. Alangkah baiknya untuk sementara aku melupakan Andira. Kayaknya Maharani cemburu kalau aku menyebut nama istriku. Biarinlah. yang penting Andira aman. Joe nggak akan mungkin macam-macam.
__ADS_1
...****************...
Bik Imah dan Andira masih berkutat di dapur. Mereka sedang menyiapkan sarapan.
"Non Dira, sudah berapa bulan usia kandunganya?" tanya Bik Imah.
"Jalan empat bik. Emang kenapa?"
"Oh, kayaknya belum terlalu ketara Non."
"Iya Bik. Cuma rasa mualku udah mulai berkurang."
"Syukurlah kalau gitu."
"Bibik udah berapa lama kerja di sini?"
"Ah, bibik mah, masih baru Non."
"Oh, bibik betah nggak kerja di sini?"
"Jangan tanya betah atau nggak Non, yang namanya orang kerja, kalau bosnya baik, pasti betah lah."
"Menurur bibik, Joe itu baik?"
"Ya jelaslah Non, Den Joe itu sangat baik. Beda dari majikan lain. Buktinya setiap hari bibik selalu di kasih uang buat beli jajan. Jadi duit gaji saya kan kumpul Non."
"Oh, iya ya..."
Andira tampak sedang memasak dengan Bik Imah.
Joe yang sudah siap berpakaian ala kantoran itu turun. Dia kemudian duduk di meja makan.
Joe masih menatap Andira tak berkedip. Entah kenapa semakin hari, Andira terlihat semakin cantik saja.
Joe tersenyum.
"Andira ternyata wanita yang sangat menyenangkan. Walau dia terlihat kalem, sederhana dan pendiam, tapi dia asyik sekali jika di ajak ngobrol."
Andira menoleh ke belakang. Di lihatnya Joe yang sedang asyik menatapnya.
Andira kemudian menghampiri Joe.
"Selamat pagi Joe... "
"Pagi Andira."
"Kamu udah siap mau ke kantor Joe?"
"Iya. Andira."
"Bibik udah masak. Aku yang bantuin dia masak."
"Oya? kamu bisa masak juga Andira?"
"Iya. Aku bisa masak."
"Wah, hebat yah...Coba kalau aku yang jadi suami kamu."
"Ah, Joe. Apaan sih. Jangan bicara gitu. Nanti kamu bisa jatuh cinta beneran sama aku."
"Ha...ha... Andira...Andira... Kamu lucu banget sih."
"Oya Joe. Sebentar lagi makanannya matang kok. Nanti aku bawa ke sini yah."
__ADS_1
"Iya Andira."
Andira di tinggal suaminya, masih bisa seceria itu. Aneh. Sebenarnya dia benar-benar cinta nggak sih sama si Gilang. Batin Joe.
"Aku nggak tahu deh." Gumam Joe kemudian.
Setelah semua makanan siap, Joe dan Andira duduk bersama. Mereka menikmati sarapan pagi bersama.
"Kamu mau pulang jam berapa Joe?"
"Pulang sore aja Andira. Ini kan hari sabtu."
"Oh..."
"Oya Andira. Mau nggak kalau nantu malam aku ajakin kamu jalan?"
"Jalan kemana?"
"Terserah kamu."
"He..he..kok terserah aku Joe. Kan kamu yang ngajakin duluan."
"Makan malam aja gimana?"
"Malam ini?"
"Kamu lagi nggak ada acarakan?"
"Nggak ada sih...!"
"Ya udah. Nanti yah. Aku pasti akan membelikan kamu handphon. Kamu mau kan?"
"Iya tentu aku mau."
Selesai sarapan, Joe kemudian berdiri dari duduknya. Dia melangkah menuju ke arah luar.
"Hati-hati ya Joe."
"Iya. Aku berangkat dulu yah. Jaga diri kamu baik-baik."
"Iya Joe."
"Asalamu alaikum."
"Wa alaikum salam."
Joe kemudian pergi meninggalkan Andira sendiri di rumah bersama Bik Imah.
"Bik, aku bantuin yah." kata Andira kepada Bibik Imah.
"Iya. Terimakasih Non. Sejak ada non di sini, kerjaan bibik terasa ringan. Coba kalau Den Joe bisa punya istri seperti non Andira. Pasti bibik akan betah banget kerja di sini. Bosnya baik-baik."
"Iya. Bik. Jangan begitu ah, kalau muji."
"Emang iya kok Non. Den Gilang itu beruntung banget bisa dapatin wanita secantik dan sebaik Non Andira.
Andira cuma tersenyum.
Andira jadi teringat sosok Mbak Muti. Pembantunya yang selama ini menemaninya di waktu suka dukanya. Dia kemudian teringan Fikri kakak iparnya yamg selama ini selalu menghiburnya di kesendiriannya.
"Gimana kabar Mas Fikri yah. Aku kangen sama dia. Aku lupa lagi nomernya. Apa akau minta nomer pada Andini yah. Setahuku, Andini itu juga punya nomernya."
Andira kemudian tampak berfikir. Yah, dia kan pinjam ponselnya Bik Imah.
__ADS_1