Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
memaafkan.


__ADS_3

Andira masih menangis sesenggukan di ruang makan. Dia masih menatap makanan-makanan yang ada di meja makan. Rasanya, Andira itu sedih sekali jika dia itu harus mendapat perlakukan kasar dari Rafael. Rafael sudah benar-benar menyakiti hati Andira.


" Mas Fikri. Rafael Mas." Ucap Andira sembari menatap lekat suaminya.


Fikri mendekat ke arah Andira. Dia kemudian mengajak Andira berdiri.


" Kita ke kamar dulu yah. Biar kamu tenang dulu. Biar Mbak Rumi yang beresin semua ini " Kata Fikri sembari merangkul bahu Andira.


Andira hanya mengangguk. Setelah itu Fikri mengajak istrinya ke kamar. Mereka melangkah ke atas menuju ke kamar mereka. Mereka masuk ke dalam kamar mereka. DAN Fikri kemudian mendudukan Andira di sisi tempat tidurnya.


Andira masih menatap lekat suaminya. Fikri tersenyum sembari mengusap air mata Andira. Dia selalu mencoba menghibur Andira istri kesayangannya itu


" Kamu yang sabar yah menghadapi Rafael." Ucap Fikri sembari menangkup wajah istrinya.


" Mas, kenapa Rafael seperti sangat membenci ku. Kenapa?" tanya Andira dengan wajah sendu.


" Dia tidak membenci mu. Mungkin dia itu masih belum bisa menerima kalau kita bohongi. Seharusnya dari dulu kita cerita pada Rafael, siapa ibu kandungnya yang sebenarnya." Kata Fikri.


" Iya itu semua salah ku. Aku yang selama ini menyembunyikan identitasnya. Tapi, aku melakukan semua ini juga karena aku sayang sama Rafael. Aku tidak mau Rafael itu menganggap ku orang lain."


" Ini semua bukan salah kamu Andira. Memang aku akan mengatakan sebenarnya pada Fikri dan Viona kalau mereka sudah besar. Tapi mereka keburu tahu duluan." Kata Fikri.


Fikri masih terus menghibur Andira. Sementara Viona masih membujuk Rafael.


" Raf. Sudahlah, lupakan masa lalu. Sekarang orang tua kita itu mama Andira dan papa Fikri. Papa Gilang, Tante Maharani, tante Sofi, mereka itu sudah tidak ada. Mereka sudah meninggal." Kata Viona.


" Tapi aku tetap saja kesal." Rafael masih menahan emosinya.


" Kasihan Mama Raf. Dia pasti sedih kalau kamu seperti ini."


Rafael sedari tadi mendengarkan semua kata-kata Viona.


Rafael dan Viona selama ini tahu, siapa ayah kandung mereka. Karena Andira dan Fikri sudah mengatakannya sewaktu Fikri dan Andira menemukan Gilang di jalanan. Namun tidak dengan Rafael, Andira dan Fikri masih menutupi pada Rafael tentang Sofi. Dan pada akhirnya, Rafael itu tahu kalau dia itu bukan anak dari Andira, karena Andira keceplosan waktu itu. Jadi Rafael tahu semuanya. Itu yang membuat Rafael masih marah sama mereka. Rafael merasa sangat di bohongi. Karena Fikri dan Andira tidak pernah menceritakan perihal Sofi. Ibu kandung dari Rafael.


" Iya. Aku memang salah. Aku yang selalu membuat mama sedih. " Kata Rafael.


" Ya udah, kamu minta maaf sana sama mama." Pinta Viona.


Setelah itu, Rafael menuruti apa kata Viona. Rafael kemudian melangkah untuk pergi ke kamar mamanya.


Tok tok tok...

__ADS_1


Rafael mengetuk pintu kamar Fikri dan Andira.


" Mama, papa, ini Rafael.." Ucap Rafael.


Andira dan Fikri kemudian melangkah ke arah pintu. Mereka menatap Rafael.


" Ada apa?" Tanya Fikri.


" Pa, aku mau minta maaf soal kejadian tadi di meja makan. Aku sudah salah sama kalian." Kata Fikri.


" Oh, nggak apa-apa Rafael. Mama udah memaafkan mu Nak." Ucap Andira.


Rafael tiba-tiba saja memeluk Andira lekat. Dia benar-benar menyesal karena sudah membuat mamanya itu menangis.


" Maafkan Rafael Ma."


" Iya Nak, Mama udah memaafkan mu."


Viona yang ada di belakang Rafael, tersenyum. Begitu juga dengan Fikri. Mereka tersenyum karena Rafael sudah mau menyadari kesalahannya itu.


****


" Mas, apa semua sudah kamu masukan?" Tanya Andira.


" Udah Dek. Ini semua udah siap. Udah aku masukan ke koper."


" Ya udah. Kalau begitu, saya mau nyoba samperin anak-anak dulu."


" Baiklah."


Andira kemudian pergi keluar dari rumah dan melangkah ke arah kamar Rafael dan Viona.


Pertama dia menuju ke kamar Rafel.


" Raf, kamu udah siap?" Tanya Andura setelah masuk ke kamar Rafael.


" Udah Ma. Kita mau berangkat kapan Ma?" Tanya Rafael.


" Hari ini Raf." jawab Andira


"Oke. Aku udah siap Ma. Aku juga kangen sama Zaki." Kata Rafael yang akhirnya mau ikut juga ke Surabaya.

__ADS_1


Setelah mengecek Rafael, Andira juga ngecek Viona.


" Mama..." Ucap Andira setelah melihat mamanya ada di belakangnya. Andira tersenyum.


" Kamu udah siap sayang?" Tanya Andira pada anaknya.


" Sudah Ma." Jawab Viona singkat.


Setelah semua selesai berkemas, Fikri, Andira, dan kedua anaknya itu kemudian sarapan bareng. Setelah selesai sarapan mereka kemudian mengeluarkan barang-barang bawaannya di bantu Mbak Rumi.


" Mbak Rumi, tolong bantu saya dong..." Kata Viona yang sepertinya tampak kerepotan membawa barang-barangnya.


" Vi. Kamu bawa apa aja sih. Kayaknya repot Banget."


" Ya bawa barang-barang aku lah."


" Segitu banyaknya."


" Ya terserah aku lah Fael."


Viona keluar di ikuti Rafael di belakangnya. Mbak Rumi pembantu rumahnya juga ikut membawakan barang-barang majikannya itu.


" Mbak Rumi. Makasih yah." Ucap Andira yang sedari tadi sudah ada di teras depan.


Fikri dan Andira tersenyum. Mereka juga menitipkan rumah mereka pada Mbak Rumi.


" Mbak,saya titip rumah yah, mungkin saya dan anak-anak akan sedikit lama di Surabaya."


" Oh, baiklah Pak. Tenang saja. Rumah pasti aman kok." Kata Mbak Rumi.


" Makasih ya. Mbak Rumi." Kata Andira.


Andira memang bos yang sangat baik. Dia tidak pernah menganggap asisten rumah tangganya itu sebagai pembantu. Jika saja Andira itu sudah cocok sama pembantunya, dia tidak akan segan-segan untuk memberikan gaji yang besar, memberikan komisi, membelikan barang-barang aoa saja yang di butuhkan oleh asisten rumah tangganya. Seperti halnya dulu dia sama Mbak Muti pembantu rumahnya beberoaa tahun silam sewaktu dia masih bersama Gilang. Pembantu yang selama ini menjadi teman curhat Andira saat Gilang suaminya melukai hatinya.


" Iya Bu, Pak Fikri mau nyetir sendiri?" Tanya Mbak Rumi.


" Iya. Mbak." Kata Fikri.


Setelah itu Viona dan Rafael masuk ke dalam mobil mereka. Di susul Andira dan Fikri yang berada di paling depan. Karena saat ini Fikri akan membawa mobilnya sendiri tanpa seorang supir. Fikri akan pergi untuk beberapa hari di Surabaya. Dia akan meninggalkan kantor untuk beberapa waktu.


Fikri dan keluarganya akhirnya pergi meluncur menuju ke Surabaya. Mereka berempat itu pergi dengan mobilnya. Mereka akan mengunjungi rumah Pak Heru dan Bu Dian orang tua dari Fikri sekaligus akan berkunjung ke pesantren Zaki.

__ADS_1


__ADS_2