Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
kangen


__ADS_3

Fikri masih mengendarai mobilnya sampai ke Surabaya. Jarak yang di tempuh memang cukup jauh dan memakan waktu yang lama. Tapi Fikri tidak pernah lelah untuk terus menyetir. Fikri juga sudah lama tidak ke Surabaya. Dia sudah kangen sama orang tuanya. Lebaran kemarin,Fikri tidak pulang ke Surabaya. Karena kesibukannya di kantor. Dan baru kali ini dia ada waktu untuk mengunjungi ke dua orang tuanya.


Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, Fikripun akhirnya sampai di depan halaman rumah orang tuanya. Fikri kemudian turun dari mobilnya di ikuti Rafael, Viona, dan istrinya Andira.


" Wah, udah lama aku nggak kesini. Rasanya aku kangen banget sama Oma dan Opa." Kata Viona.


Rafael tersenyum setelah melihat wanita tua yang sedang ada di sisi pintu. Yah, dia adalah Bu Dian ibu dari Fikri yang sudah lama menempati rumah yang ada di Surabaya.


Rafael langsung mendekat ke arah Omanya. Rafael langsung memeluk Omanya.


" Oma, Rafael kangen sama Oma." Kata Rafael.


" Oma juga kangen sama Rafael." Kata Oma Dian.


Oma Dian kemudian menangkup wajah Rafael.


" Kamu Rafael kan?" Tanya Oma Dian.


" Iya Oma. Aku Rafael. Rafael udah lama banget nggak ketemu Oma. Rafael kangen Oma."


" Oma juga kangen. Mana adik mu?" Tanya Oma Dian.


Viona mendekat ke arah Omanya.


" Ini Viona Oma. Oma apa kabar?" Tanya Viona.


Viona kemudian memeluk Omanya lekat. Dia juga kangen sekali sama Omanya.


" Aku kangen sama Oma."


" Kabar Oma baik Nak. Kamu udah lama benget yah tidak main ke sini?" Kata Oma Dian.


"Opa di mana Oma?" Tanya Viona.


" Opa kamu..." Oma Dian hanya bisa menampakan wajah sedih. Dia masih kefikiran dengan kondisi suaminya. Sekarang Pak Heri suami Bu Dian sudah tidak bisa apa-apa karena stroke. Dia sudah tidak bisa berjalan seperti biasanya. Dia hanya bisa duduk di kursi roda.


Andira mendekat ke arah ibu mertuanya.


" Ada apa Ma?" Tanya Andira setelah itu Andira mengecup tangan ibu mertuanya itu. Dulu tangan itu begitu lembut. Tapi sekarang tangan itu sudah tampak keriput.

__ADS_1


Bu Dian adalah orang yang sangat baik sekali pada Andira. Dia yang menginginkan anak perempuan. Namun dengan Andira yang menjadi menantunya, dia seakan seperti sudah menemukan anak perempuan dalam kehidupannya.


Fikri kemudian mendekat ke arah mamanya. Dia juga membawa semua barang-barangnya.


Fikri juga mendekat ke arah Bu Dian. Dia kemudian mencium tangan ibunya.


Bu Dian tersenyum. Sepertinya dia sangat bahagia dengan kehadiran anak, cucu, dan menantunya itu.


Bu Dian dan Pak Heru tinggal sendiri di kampung halaman. Mereka menginginkan masa tuanya itu berada di kampung halaman. Mereka tidak ikut Fikri ke Jakarta. Mereka memilih untuk tinggal berdua di rumah mereka yang ada di Surabaya.


" Ayo Nak. Masuk. Itu ayah mu ada di dalam. Kondisinya sudah semakin parah." Kata Bu Dian menjelaskan.


Fikri, istri, dan kedua anaknya itu kemudian masuk ke dalam rumah Bu Dian. Mereka kemudian melihat kondisi Pak Heru. Sekarang Pak Heru hanya bisa duduk di kursi roda.


Fikri dan Andira mendekat ke arah Pak Heru. Mereka kemudian mencium tangan Pak Heru. Kemarin sewaktu Fikri berkunjung untuk mengantarkan Zaki ke pesantren, Pak Heru masih bisa jalan. Tapi sekarang, Pak Heru sudah tidak bisa apa-apa.


" Aduh, kasihan sekali Opa." Kata Rafael yang meras prihatin melihat opanya seperti itu.


" Iya. Oma, sebenarnya kenapa Opa?" Tanya Viona kepada Bu Dian.


" Opa kamu terkena stroke Vi, dia tidak bisa berjalan dan tidak bisa bicara."


" Iya." Ucap Bu Dian.


Rafael dan Viona kemudian mendekat ke arah Pak Heru. Mereka kemudian menyalim tangan kakek mereka. Fikri, Andira dan kedua anak mereka itu merasa prihatin dengan kondisi Pak Heru sekarang.


" Mama tenang saja. Aku akan selalu menamani mama di sini. Andira akan ikut membantu mama untuk merawat papa." kata Andira.


" Makasih Andira." Ucap Bu Dian.


****


Malam ini, adalah malam pertama Viona dan Rafael berada di rumah Omanya. Saat ini, mereka sekeluarga sedang berkumpul di ruang tengah. Betapa membahagaiakan kehidupan saat ini. Di mana semua keluarga berkumpul.


Bu Dian tiba-tiba saja meneteskan air matanya.


" Ma,mama kok nangis? Mama kenapa?" Tanya Andira.


" Mama nggak apa-apa. Mama cuma keingat saja sama Gilang." Ucap Bu Dian.

__ADS_1


Andira terdiam. Sebenarnya jika ada seseorang yang mengucapkan nama itu, Andira jadi sedih. Dia jadi teringat akan luka yang pernah Gilang torehkan kepadanya. Dan dia juga teringat masa-masa indah yang begitu sangat singkat bersama Gilang. Rasanya, Andira ingin menangis saja saat mendengar nama itu. Rasanya dia itu tidak kuat untuk mengingat masa lalunya yang buruk. Gilang yang sudah meninggalkan Rafael, dan tidak mau mengakui Rafael, Gilang yang telah menikah diam-diam dengan Maharani, Gilang yang telah menghamili Sofi dan menelantarkannya.


Andira tiba-tiba saja menangis.


" Mas Gilang..." Ucap Andira tiba-tiba.


Fikri masih menatap wajah istrinya. Dia kasihan jika saja Andira itu mengingat tentang almarhum Gilang.


Viona mendekat ke arah mamanya. Dia kemudian memeluk mamanya.


" Sabar yah Ma..." Ucap Viona.


Viona dan Rafael selama ini tidak pernah tahu seperti apa kelakuan Gilang selama ini. Itu semua karena Andira dan Fikri orang tua mereka yang selalu menutupi aib Gilang.


" Mama pasti teringat sama Papa yah?" Tanya Viona.


Andira masih saja terisak. Entah apa yang sedang ada di fikirannya saat ini.


" Maafkan Mama Andira. Kalau perkataan mama membuat kamu teringat lagi dengan Gilang." Ucap Bu Dian.


Andira menghela nafasnya dalam. Dia mencoba untuk menenangkan diri. Andira kemudian bangkit dari duduknya.


"Nggak apa-apa Ma. Aku izin ke kamar dulu. Sepertinya aku udah capek pengin istirahat." Kata Andira.


Bu Dian hanya mengangguk. Andira kemudian melangkah ke arah kamarnya. Dia menuntaskan tangisannya di kamar.


" Mas Gilang...Hiks...hiks..."


Fikri juga ikut pergi meninggalkan ruangan tempat mereka berkumpul. Dia menyusul Andira.


Andira tampak masih menangis. Fikri kemudian mendekat dan duduk di sisi istrinya.


" Kamu kenapa sayang?" Tanya Fikri mencoba bertanya pada Andira.


" Aku tidak apa-apa. " Jawab Andira sembari mengusap air matanya.


" Kamu tidak apa-apa? benarkah? apa kam teringat Gilang?" tanya Fikri.


Andira kemudian memeluk Fikri lekat. Walaupun Gilang sudah meninggalkannya, tapi dia masih teringat luka yang dulu. Luka yang sulit sekali untuk di sembuhkan. Walaupun Fikri telah menyembuhkan luka itu dalam diri Andira. Tapi, Andira masih tetap saja teringat kejadian dulu. Kejadian yang sulit untuk di lupakan.

__ADS_1


__ADS_2