Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
Kedatangan Pak Widodo.


__ADS_3

"Tapi aku tidak pernah cinta sama kakak mu Mas. Kamu jangan berlebihan gitu dong. Aku dekat sama kakak mu. Karena aku sudah menganggapnya kakak ku sendiri."


"Sayang. Aku tahu kakak ku itu suka sama kamu."


Andira menghadapkan tubuhnya ke arah suaminya.


"Mas. Kami tidak ada hubungan apa-apa. Aku itu cuma cinta sama kamu Mas. Tidak ada yang lain di hatiku. Aku cuma cinta sama suami ku. Bukan kakak iparku. Apa kamu meragukan itu Mas?" tanya Andira dengan air mata yang masih berlinangan membasahi bantalnya.


Gilang mengusap air mata Andira.


"Ya udah lah sayang. Tidurlah...! jangan di perpanjang masalah ini! Sekarang kamu jangan menangis lagi yah! Mas cinta sama kamu Andira." Kata Gilang. Gilang kemudian mengecup kening Andira.


Andira memejamkan matanya. Dia mencoba untuk menguatkan dirinya. Dia ingin mencoba bersabar dengan ke egoisan Gilang saat ini.


Andira mengangguk.


"Baiklah Mas. Aku nurut aja sama kamu. Kamu sekarang suami aku Mas. Aku harus mematuhi semua perkataanmu. Jika saja kamu tidak membolehkan aku berhubungan lagi dengan Mas Fikri, akupun tidak akan menghubunginya lagi." Kata Andira.


Setelah itu mereka berduapun terlelap.


...****************...


Pak Widodo sore ini sudah sampai ke rumah Bu Dian dan Pak Danu. Kali ini dia hanya sendiri tanpa Bu Maya.


Tok tok tok... Pak Widodo mengetuk pintu rumah orang tua Gilang.


Dan sesaat kemudian tampaklah asisten rumah tangga pak Danu.


" Pak Danunya ada?" tanya Pak Widodo.


"Oh Ada Tuan. Silahkan masuk!" Kata Bik Rumi. Asisten rumah tangganya Pak Danu.


Pak Widodopun masuk dan dia duduk saat asisten rumah tangganya pak Danu menyuruhnya duduk.


Pak Widodo pun tampak menunggu orang tua Gilang menemuinya. Dan sesaat kemudian, Pak Danu menghampiri Pak Widodo.


"Sore Pak Widodo." Sapa Pak Danu.


"Sore Pak Danu."


Pak Danu kemudian duduk.


"Bagaimana kabar Gilang? Apa dia sudah ada kabar?" tanya Pak Widodo.


"Maaf Pak Widodo sebelumnya, Gilang anak ku menghilang tanpa kabar."


"Apa. Kenapa bisa begitu! terus bagaimana dengan anak gadis ku. Siapa yang akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan bejat anak mu itu Pak Danu."


"Sekali lagi saya minta maaf Pak. Bukan keluarga saya itu lari dari tanggung jawab. Tapi memang anak saya itu, tidak ada di sini. Saya sudah kehilangan jejak. Telpon Gilang dan istrinya itupun sudah tidak aktif lagi."

__ADS_1


"Cih. Dasar pengecut. Saya tahu. Anak bapak itu akan lari dari tanggung jawab. Kalau begitu, saya bisa Pak, perkarakan kasus ini ke pengadilan. Saya akan tuntut keluarga bapak."


"Sabar Pak.. sabar. Jangan gegabah dulu! Kami juga lagi berusaha mencari Gilang. Tapi sampai saat ini, dia belum ada kabar."


"Pak Danu. Gilang sih enak. Mau melakukan tapi nggak mau tanggung jawab. Lelaki itu jika melakukan memang tak berbekas. Beda dengan wanita. Tapi bagaimana nasib putri saya. Hamil tanpa seorang ayah. Siapa yang mau menjadi ayah untuk calon cucu saya?"


"Saya punya solusinya Pak. Anak lelaki saya itukan bukan cuma Gilang. Saya punya anak laki-laki satu lagi. Namanya Fikri. Dan Fikri itu juga belum ada pasangan. Biar dia saja yang menikahi Sofi anak bapak."


Pak Widodo tampak berfikir.


"Seharusnya Gilang yang menikahi Sofi Pak. Bukan kakaknya. Kasihan kalau kakak Gilang yang harus tanggung jawab."


"Nggak apa-apa Pak. Itu solusi yang terbaik. Fikri itukan belum punya pacar. Dan Gilang juga sudah punya istri. Jadi mana mungkin kan kalau Sofi akan jadi istri kedua."


"Ya udahlah. Apa anak bapak yang bernama Fikri itu mau menikah dengan sofi?"


"Saya akan membujuknya Pak."


Fikri mengepalkan tangannya erat. Dia yang sedari tadi menguping langsung mendekat ke arah ruang tamu.


"Saya tidak mau bertanggung jawab. Saya akan mencari Gilang. Sampai ke seluruh dunia sekalipun saya pasti akan menemuinya." Kata Fikri penuh ketegasan.


"Tapi kamu mau cari dia kemana Nak?"


"Kemana aja Pa. Nyari Gilang itu nggak susah kok."


"Aku jamin Pak Widodo. keluargaku itu orang yang bertanggung jawab. Kami akan tanggung jawab. Gilang ataupun Fikri salah satu dari mereka di jamin akan menikahi Sofi." Kata Pak Danu penuh kemantapan.


"Baiklah kalau begitu. Setengah bulan. Aku tunggu pak Danu." Kata Pak Widodo. Setelah itu Pak Widodo pamit pulang.


"Ya udah, kalau begitu saya pamit pulang dulu."Kata Pak Widodo sembari berdiri.


Pak Danupun ikut berdiri. Pak Danu dan Fikri mengantarkan Pak Widodo samapi di depan rumah.


...****************...


Gilang masih duduk di teras depan ruman Oma Rusti. Dia sepertinya pusing memikirkan kemana lagi dia akan membawa Andira pergi. Karena tidak mungkin untuk Gilang itu di rumah oma Rusti terus.


Suatu saat, Fikri dan orang tuanya pasti akan menemukannya. Dan dia tidak mau sampai Andira tahu, kalau dia itu telah menghamili seorang gadis.


"Aku harus bawa Andira pergi dari sini. Aku akan ajak dia kemana yah?"


Gilang kemudian mempunyai ide. Yah, dia punya seorang teman di surabaya. Mungkin temannya itu, bisa membantunya.


Gilang langsung menelpon joe temannya yang ada di Surabaya.


"Halo Joe..."


"Siapa yah?"

__ADS_1


"Ini Gue Gilang. Teman kuliah loe di Jakarta."


"Oh...Sob. Apa kabar?"


"Baik Bro. Gue lagi butuh bantuan loe."


"Bantuan apa?"


"Uang tabungan gue sudah menipis bro. Gue lagi butuh kerjaan. Loe katanya sudah jadi pembisnis sukses."


"Iya Betul. Loe mau kerja di perusahaan gue?"


"Iya Bro. Dan gue juga butuh rumah. Gue mau bawa istri gue juga."


"Lo udah nikah? sama Maharani."


"Bukan. Tapi sama Andira."


"Oh. Siapa Andira? perasaan lo nggak punya cewek yang namanya Andira."


"Iya. Ceritanya panjang bro. Nanti gue ceritakan."


"Ya udah nanti, gue kirim alamat gue lewat whatsapp."


"makasih sob."


"Iya. Sama-sama."


...****************...


Pagi ini Gilang sudah mengepaki barang-barangnya. Dia akan membawa Andira kabur dari rumah Oma Rusti.


Setelah usai mandi, Andira masih melilitkan handuknya. Dia bingung dengan suaminya. Tiba-tiba saja koper dan barang-barang itu sudah tampak rapi.


Andira tersenyum.


"Mas, kita mau pulang ke Jakarta yah?"


"Nggak. Kita akan cari rumah di sini."


"Cari rumah? yang benar saja Mas. Kita mau menetap di sini?"


"Iya. Tapi jangan bilang Oma. Kita bilang saja kalau kita akan pulang ke Jakarta."


"Kenapa kita harus membohongi Oma dan Opa Mas? kita tinggal bilang aja ke mereka, kalau kita mau pindah rumah."


Gilang menatap Andira.


"Jangan bawel kamu sayang...kenapa kamu jadi sering membantah!"

__ADS_1


__ADS_2