
"Apa ajalah, yang ada di kulkas. Nanti bawa ke meja makan yah?" Pinta Joe.
"Baik Den." Kata Bik Uni.
Bik Uni kemudian membuatkan jus buah untuk Andira. Sementara Joe kembali lagi ke meja makan.
...****************...
Siang ini, Fikri masih di dalam perjalanan ke rumah Oma Rusti. Dia menyetir mobilnya sendiri dari Jakarta menuju ke Surabaya.
"Ah, rasanya capek banget, nyari-nyari adik brengsek kayak Gilang. Benar-benar keterlaluan dia itu. Awas aja, kalau sampai ketemu. Gue bisa habisi tuh anak." Geram Fikri sembari mencengkeram mobilnya kuat-kuat.
Dua jam kemudian, Fikripun sampai ke rumah Oma Rusti.
"Aslamu'alaikum." Ucap Fikri.
"Wa'alaikum salam." Jawab Oma Rusti.
Ceklek...
Oma Rusti tampak berdiri dengan mengulas senyum.
"Ya Allah, cucu Oma yang paling ganteng, kamu datang Nak."
Fikri langsung mencium Omanya dan memeluknya. Fikri menangis sesenggukan di pelukan Omanya.
"Oma masih kenal sama Fikri? Padahal, Fikri sudah lama sekali tidak kemari? Fikri selama ini jauh di luar negeri."
Oma Rusti menatap Fikri dalam. Oma Rusti kemudian membelai lembut wajah Fikri.
"Ayo masuk Nak. Kenapa kamuesti menangis. Mana mungkin Oma akan melupakan wajah cucu-cucu Oma."
Fikri kemudian duduk di ruang tamu. Dia masih sesenggukan menangis.
"Ada apa Nak? apa kamu lagi ada masalah?"
"Iya Oma."
Fikri menangis lagi.
Yah, Fikri menangis. Dia seperti sudah tidak sanggup dengan cobaan yang sekarang sedang menimpanya.
"Ada apa Nak, ayo katakan?"
"Apakah Gilang ada di sini Oma?" tanya Fikri.
"Em, Gilang kan udah pulang ke Jakarta Nak. Iya, dia kemarin di sini bersama istrinya. Tapi sekarang mereka sudah pulang ke Jakarta Nak."
__ADS_1
Hiks...hiks... Fikri menangis.
Dia demikian kecewa. Karena orang yang di carinya itu benar-benar tidak di temukan.
"Ada apa Nak, ayo katakan. Ada masalah apa? Apa kamu lagi punya masalah sama adikmu? Nggak biasanya Gilang ke sini sendiri. Biasanya kan Gilang selalu sama keluarga."
"Oma, mama Oma. Mama..." Ucap Fikri.
"Ada apa dengan Dian mama kamu?" tanya Oma rusty.
"Itu, Mama sekarang lagi ada di rumah sakit."
"Apa? benarkah? dia sakit apa?" tanya Oma Rusti.
"Dia terkena serangan jantung ringan."
"Apa. Serangan jantung? kok bisa?"
"Ini semua gara-gara si brengsek Gilang." Kata Fikri penuh geram.
"Kenapa lagi dengan adikmu Fikri?" tanya Opa Dahlan tiba-tiba.
"Opa..." Ucap Fikri sembari berdiri.
Fikri kemudian menyalim tangan Opa Dahlan.
"Ayo...katakanlah!. Ada apa sebenarnya?"
"Opa, Oma, Gilang itu sekarang lagi jadi buronan."
"Apa...!" Oma dan Opa terkejut dan saling menatap.
Mereka menyangka kalau Gilang itu menjadi buronan polisi.
"Apa Gilang melakukan tindak kriminal?" tanya Opa.
"Bukan cuma kriminal. Tapi lebih dari itu. Dan sekarang dia kabur. Dan melemparkan semua kesalahannya pada ku. Adik macam apa dia. Sudah di bela-belain aku selalu ngalah dan selalu berkorban demi dia, dia malah tidak tahu berterimakasih." Kata Fikri panjang lebar.
Oma Rusti dan Opa Dahlan tampak bingung.
"Benarkah itu Nak...? emang apa yang telah di lakukan adikmu?" tanya Oma Rusti.
"Dia menghamili seorang gadis. Dan sekarang, keluarga gadis itu akan menuntut keluarga kami Oma, Opa."
"Astaghfirullahal adzim, Gilang. Jadi dia ke sini bawa istrinya itu jadi buronan kamu Fikri."
"Iya. Dan aku harus menghabisinya kalau ketemu dia."
__ADS_1
"Yang sabar yah Fikri, ini semua cobaan dari Allah..." Kata Oma Rusti mencoba menghibur Fikri.
"Oma, jika aku tidak bisa menemukan Gilang dan Andira, aku harus terpakasa nikah dengan wanita yang di hamili Gilang itu." Kata Fikri.
"Ya ampun Nak, kasihan sekali cucu kesayangan Oma."
"Apa kamu mau Nak, menikahi wanita itu, tapi, apa kamu akan bahagia, menikah dengan orang yang tidak kamu cintai."
"Fikri nggak tahu Oma, Opa. Tapi jika Gilang nggak bisa di temukan, Nggak ada cara lain, aku harus menikahi wanita yang bernama Sofi itu." Kata Fikri.
Oma Rusty menangis. Dia kemudian memeluk Opa Dahlan.
"Yang sabar, Fikri. Apa kamu akan berkorban lagi Nak, sudah betapa banyak pengorbananmu untuk Gilang. Sekarang kamu mau mengorbankan kehidupanmu dan perasaan mu?" kata oma Rusti.
"Iya Oma, Opa, aku nggak apa-apa, jika itu semua demi kesembuhan mama. Karena aku sayang sama mama. Aku tidak mau kehilangan dia."
"Ya udah Nak, bawa Oma dan opa ke Jakarta untuk melihat Dian anak kami." Kata Opa Dahlan.
"Baiklah, kalian boleh ikut Fikri." Kata Fikri.
Oma dan Opa saling menatap. Mungkin di dalam hati mereka timbul berbagai macam pertanyaan. Ada apa dengan keluarga Dian di Jakarta.
Pertama Gilang tanpa tunangan, tiba-tiba melangsungkan pernikahan di rumah sakit. Sekarang, Fikri akan menikahi Sofi untuk menutupi semua aib keluarganya.
"Opa akan ikut kamu ke Jakarta, untuk memastikan masalah apa yang sebanarnya terjadi pada keluarga kalian itu." Kata Opa Dahlan.
"Iya. Oma juga harus ikut, untuk memastikan kondisi mama kamu Fikri."Kata Oma Rusti.
"Baiklah, Fikri tidak akan lama-lama di sini. Tugas Fikri itu mencari Gilang. Dan inilah jalan terakhir Fikri. Gilang tidak ada di sini. Fikri sudah tidak ada waktu lagi. Pak Widodo tidak akan segan-segan menuntut keluarga kami. Bahkan mungkin, dia bisa saja menghancurkan kami. Karena dia juga sama seperti papa orang besar. "
Oma dan Opa hanya mengangguk-anggukan kepala saja, tanda mengerti.
"Iya Fikri. Opa setuju. Dari pada semua perusahaan papa kamu ikut tercemar, mending kamu nikah saja dengan wanita itu."Kata Opa.
"Aku benar-benar nggak nyangka. Kok aku bisa yah, punya cucu seperti itu." Kata Oma Rusti.
"Fikri itu, kali ini, akan berkorban banyak sekali. Berkorban untuk kesembuhan mama, menutup aib keluarga karena Gilang, Berkorban untuk nama baik perusahaan, Fikri akan mengorbankan perasaan Fikri juga. Karena Fikri harus siap menjadi ayah, untuk bayi Gilang yang tidak berdosa itu."
Oma Rusti memeluk Fikri. Dia kemudian meraih kepala Fikri dan menenggelamkanya di dadanya.
Oma Rusti mengelus rambut Fikri penuh sayang. Yah, selama ini Fikri itu sudah banyak mengalah untuk Gilang. Gilang yang selalu egois dan ingin menang sendiri
Yah, itulah watak Gilang. Egois. Dari kecil sampai dewasa tidak pernah berubah.
Sewaktu kecilpun Gilang yang selalu menang dari Fikri. Gilang merebut apa saja yang Fikri miliki, Termasuk mainan Fikri yang baru di belikan oleh papanya.
"Hiks...hiks.." Fikri menangis lagi.
__ADS_1
"Oma, apa salah Fikri selama ini. Kenapa Fikri harus berkorban lagi. Kenapa Fikri harus selalu yang mengalah. Seharusnya Andira itu milik Fikri. Tapi kenapa harus Gilang yang menikah dengan Andira. Hidup itu kenapa sangat tidak adil sekali Oma...!"