
Sekarang Ayana dan Gilang sudah duduk di sebuah cafe. Tepatnya cafe kecil yang ada di dekat mobil Gilang berhenti. Ayana kemudian memesan menu untuk mereka makan.
"Makasih yah Ay. Kebetulan banget aku belum makan."
"Oya. Belum makan? ya makan yang banyak yah, Biar aku traktir."
"Nggak usah Ay,kamu kan cewek. Masak cewek nraktir cowok, kan aku jadi nggak enak."
"Ya, anggap saja ini ucapan terimakasihku karena kamu tadi sudah membantuku."
"Aku ikhlas kok Ay. Biar aku aja yang bayar."
Ayana dan Gilang kemudian makan bersama. Untuk saat ini, Gilang melupakan istrinya.
Sementara di dalam mobil, Andira tampak menggerutu."Mas Gilang kemana sih? Masak aku di tinggal begini. Di kunciin lagi."
"Aku nyoba telpon kali yah." Kata Andira.
Andira kemudian menelpon Gilang. Namun lima kali panggilan belum Gilang angkat.
"Mas, itu ada telpon. Siapa yang nelpon?" tanya Ayana.
"Udahlah, nggak usah di angkat. Dia pasti dari adik ku."
"Ih,tega banget sih kamu. Masak membiarkan adiknya sendirian di dalam mobil. Kenapa nggak di ajak ikut kesini saja."
"Dia lagi tidur. Mungkin dia sudah terbangun."
"Oh..."
Ayana bersantap dengan Gilang, dengan hikmatnya. Mereka mengobrol bersama dan bercanda ria. Mereka pun bertukaran nomer hape.
Yah, mungkin begitulah hobi Gilang, dia tidak bisa melihat wanita yang kinclong sedikitpun. Apa lagi penampilan Ayana seperti penampilan Maharani cinta pertamanya itu. Entah Gilang itu menuruni watak siapa, padahal di keluarganya, tidak ada yang pengkhianat apa lagi selingkuh dan poligami.
"Aduh, perutku sakit nih. Lapar," gumam Andira yang masih terkurung di dalam mobil.
"Mas Gilang kemana sih? udah jam dua belas. Sebenarnya Mas Gilang mau membawa aku kemana sih!"
Sesaat kemudian Gilang akhirnya muncul juga. Namun dia terlihat sendiri karena Gilang berpisah dengan Ayana di cafe, jadi istrinya tidak sempat melihat Gilang bersama perempuan lain.
"Dari mana aja sih Mas?! Kenapa aku di tinggalin? jahat banget sih! aku sudah menunggu dua jam lho, di sini." Andira tampak marah.
Gilang menanggapinya santai. Yah, dia memang tidak terlalu di ambil pusing dengan kamarahan dan kecurigaan istrinya. Karena Gilang tahu, kalau istrinya itu, wanita yang mudah memaafkan dan mudah untuk di bujuk.
__ADS_1
"Tadi kamu tidurnya pulas banget sayang, jadi aku nggak tega banguninnya." Kata Gilang beralasan.
"Terus kenapa kamu lama sekali. aku sudah menunggu mu dua jam lho Mas."
"Maaf yah sayang. Mas kan udah minta maaf. Jangan ngambek gitu dong!. Kalau kamu ngambek terus, kamu jadi semakin cantik sayang. Rasanya Mas, pengin terkam kamu di sini."
"Apa? gila kamu Mas."
"Ya kalau kamu marah-marah terus, Mas bisa aja lho main di sini."
Andira mencubit lengan Gilang kuat-kuat.
"Mas Gilang, rese banget sih."
Ha...ha...
Andira masih memukul-mukul tubuh Gilang.
Setelah puas, Andira berhenti.
"Kamu udah beli makanan?"tanya Andira
"Udah. Aku lama karena nunggu abang satenya sayang. Ini coba lihat, Mas bawakan kamu sate ayam dan nasi satu porsi buat kamu. Kamu pasti laparkan?"
"Sayang, kayaknya malam ini, kita tidur di sini dulu deh.Mas capek, Mas ngantuk. Dan kamu tahu nggak. Ban mobilnya juga bocor sayang."
"Apa, kok bisa?"
"Ya mana Mas tahu."
"Ya udah deh nggak apa-apa. Asal sama kamu aku nggak akan pernah takut apa-apa. Kamu itukan pelindungku Mas."
Gilang tersenyum. Setelah itu dia menyiapkan tempat untuk tidur di dalam mobil.
Sementara Andira membuka bungkus nasi dan memakan sate yang di belikan Gilang untuk nya.
"Ayo Mas. Kita makan bareng!"
"Mas udah makan sayang, tadi. Mas masih kenyang banget. Mas sengaja khususin sate itu buat kamu."
"Makasih yah Mas. Kamu memang tahu aja kalau aku lagi lapar.
"Ya tahu lah. Kamu kan lagi hamil anak aku. Jadi, aku akan memberikanmu perhatian lebih sayang."
__ADS_1
Setelah itu Gilang pun terlelap.
Andira masih memandangi wajah tampan suaminya. Yah, saat terlelap Gilang memang seperti seorang suami yang tanggung jawab dan setia. Dia tertidur seperti tidurnya seorang bayi yang tanpa dosa.
Gilang seorang lelaki yang selama ini di kenal Andira adalah suami yang rajin Sholat, tapi tanpa Andira tahu, Gilang itu pacarnya banyak. Dan Andira masih belum percaya dan menyadarinya. Dia masih menganggap Gilang itu orang yang istimewa di hatinya.
...****************...
Sofi masih menangis sesenggukan di kamarnya. Mamanya sekarang tahu kalau Sofi tengah hamil. Namun Sofi belum mau mengatakan siapa ayah kandung dari bayi itu.
"Sofi. Kamu sudah sangat mengecewakan mama Nak. Siapa Sofi ayah dari bayi kamu?" tanya Mama Sofi.
Sofi masih terdiam. Yah, dia takut untuk mengunkapkan siapa sebenarnya lelaki yang telah menghamilinya. Karena Sofi tahu, orang yang menghamilinya sudah beristri. Dia tidak mengakui kalau anak yang Sofi kandung adalah anaknya. Justru dia menyuruh sofi untuk menggugurkan kandungannya. Sofi juga baru mengenalnya.
Sekarang Sofi menyesal. Sangat menyesali semua perbuatanya dan sekaligus kecewa pada Gilang. karena Gilang tidak mau bertanggung jawab akan semua perbuatanya.
Mama Sofi menangis.
"Ya Allah Sof,ayo bilang ke mama, siapa ayah dari anak kamu?" tanya mama Sofi sembari menangis.
"Lihat pa. tes pack ini. Mama menemukan ini di kamar mandi anak gadis kita. Dia hamil Pa."Mama Sofi menuturkan.
"Apa...!" Papa Sofi terkejut.
"Sofi. Kamu benar-benar sudah mempermalukan keluarga ini. Sekarang kamu jawab pertanyaan papa siapa lelaki brengsek itu...!"
"Ayo Nak, jawab...! kenapa kamu harus diam saja. Siapa lelaki itu. Dia harus bertanggung jawab atas semua perbuatannya."Kata Papa Sofi lagi.
"Pa, Ma, dia itu sudah beristri. Dia tidak mau mengakui kalau aku hamil anaknya. Padahal sudah jelas-jelas kalau dia telah menodaiku."
"Ya Allah Sofi...Mama benar-benar kecewa sama kamu Nak. Apa Mama sudah salah mendidik kamu selama ini Nak. Kenapa kamu balas kasih sayang kami dengan hamil di luar nikah?"
"Maaf kan Sofi Ma...Hiks...hiks..."
Sofi tidak bisa membendung lagi tangisannya.
Papa Sofi kemudian mensejajarkan tubunya dengan tubuh Sofi. Papa Sofi mennggenggam kuat bahu Sofi.
"Ayo Nak. Katakan siapa cowok brengsek itu?! Biar Papa akan beri dia pelajaran."
Sofi menatap Papanya lekat. Sofi sangat mencintai Gilang. Sofi pun tidak mau Gilang di habisi oleh papanya.
"Tolong Pa, Sofi mohon, Ini semua bukan salahnya Mas Gilang juga. Sofi juga sama-sama mau Pa." Sofi masih terus saja mencoba membela Gilang.
__ADS_1
Papa Sofi mengusap wajahnya kasar. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Semua sudah terjadi. Dan tidak mungkin dia menyuruh Sofi untuk menggugurkan kandungannya. Karena Papa Sofi bukan orang sekejam itu. Apalagi Sofi sedang mengandung cucunya.