Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
Sampai di rumah Oma.


__ADS_3

Sore ini, suasananya begitu cerah. Setelah sampai di rumah Opa dan Omanya Gilang, Gilang kemudian memarkirkan mobilnya di depan rumah.


Rumah yang terlihat asri dan sederhana.Namun di kampung, rumah Omanya Gilang itu adalah rumah yang paling bagus. Karena di kampung, Oma Gilang itu, tergolong orang yang berada.


Surabaya. Yah, itu adalah tempat kelahiran Bu Dian mama Gilang.


Andira masih terpaku dengan rumah sederhana itu.


"Mas, ini rumah siapa?" tanya Andira.


"Ini rumahnya Oma dan Opa aku. Aku ngajakin kamu ke sini, karena Oma kemarin nelpon aku, dia pengin ketemu sama kamu."


"Oh ya? Kenapa baru sekarang sih Mas, kamu ajak aku kesini." ucap Andira.


Gilang menatap Andira, begitu pun Andira.


"Sayang, kamu kan tahu, kalau pernikahan kita itu di adakan karena dadakan. Jadi, pestanya pun kecil-kecilan. Boro-boro ngundang Oma sama Opa." Kata Gilang.


"Iya juga sih."


Gilang kemudian turun dari mobilnya. Setelah itu dia membukakan pintu mobil istrinya. Andira pun turun dari mobilnya.


Setelah itu Gilang membuka bagasi mobilnya dan membawa ke dua kopernya itu masuk.


"Ayo sayang, kita masuk! Pasti Oma dan Opa sudah menunggu." Kata Gilang.


Setelah itu, Gilang masuk ke dalam bersama istrinya.


Dan di dalam rumah itu, tampaklah dua orang kakek dan nenek yang sudah berusia enam puluh tahunan itu sedang duduk di ruang tamu. Sepertinya mereka itu memang sedang menunggu cucu dan cucu menantunya itu datang.


"Assalamu'alaikum" Ucap Gilang dan Andira.


"Wa'alaikum salam." Ucap Oma dan Opa Gilang.


Andira dan Gilang masuk ke dalam.


Andira menyalim tangan Oma dan Opa. Begitu juga dengan Gilang.


"Oh...jadi ini toh cucu menantuku?" Kata Oma sembari membelai pipi Andira.


"Wah, Gilang, cantik sekali istrimu ini."Kata Opa.


Gilang tersenyum sembari merangkul Andira.


"Iya dong, istri siapa dulu. Istri Gilang...!" kata Gilang dengan bangganya.


"Ya udah, kalian pasti capek yah, sekarang kalian istirahatlah dulu di kamar." Pinta Oma.

__ADS_1


Gilang dan Andira kemudian melangkah ke arah kamar mereka.


Ckleek.


Oma membuka pintu kamar.


Kamar kecil, namun sangat rapi. Sepertinya, Oma sudah menyiapkannya dari kemarin.


"Ayo. Masuklah dan beristirahatlah!" Ucap Oma.


"Siapa nama istrimu Gilang?" tanya Opa.


"Andira Opa." Jawab Gilang.


"Oh...namanya cantik. Secantik orangnya." Kata Opa tampak memuji.


Oma dan Opa kemudian pergi meninggalkan kamar mereka.


"Biarkanlah mereka istirahat dulu Pak." Kata Oma Rusti pada suaminya Opa Dahlan.


"Iya Rusti. Mereka pasti capek. Apa lagi Andira lagi hamil. Pasti, dia butuh istirahat yang banyak."


Di dalam kamar, Gilang tampak ribut.


"Aduh Andira, Ponselku kemana?" tanya Gilang.


"Bukan yang itu sayang. Satunya."


"Mana aku tahu Mas. Yang aku tahu ponselmu yang itu kan?"


"Ya udahlah aku cari sendiri. Kamu nggak usah ikutan nyari. Kalau kamu mau mandi, sana mandi dulu. Tuh di sana ada kamar mandi."


"Iya. Aku mandi dulu yah. Dari tadi pagi aku belum mandi."


Andira kemudian melangkah ke kamar mandi untuk pergi mandi. Sementara Gilang masih mencari-cari ponselnya.


Yah, ponsel yang sangat berarti di hidupnya. Ponsel yang isinya kontak cewek semua. Dari pacar pertama sampai pacar terakhir. Dari yang sudah menjadi mantan sampai yang sekarang belum dia putuskan. Entahlah berapa banyak jumlahnya, hanya Gilang yang tahu.


Namun, Andira tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Karena yang Andira tahu, pacar Gilang itu cuma Maharani. Dan Gilang juga sudah pernah mengatakan pada Andira, kalau Gilang sudah memutuskan Maharani dan tidak akan menikahi Maharani.


Itu yang membuat Andira percaya lagi pada Gilang dan masih ingin bertahan. Namun entahlah setelah Andira mengetahui kalau Gilang menghamili Sofi, akankah Andira masih percaya pada Gilang atau tidak.


...****************...


Malam ini, bulan purnama bulat sempurna. Di keremangan malam, Andira masih berada di teras depan ruman Oma Rusti. Dia dan Gilang masih bercengkrama menikmati bulan dan bintang di langit luas.


Tampak sekali kebahagiaan menyelimuti keduanya.

__ADS_1


Opa Dahlan dan Oma Rusti saling menatap.


"Sepertinya Gilang sudah banyak berubah yah, semenjak punya istri. Dia kelihatan sudah dewasa." Kata Oma Rusti.


"Gimana kabar cucu kita si Fikri yah?" Opa Dahlan kemudian mengingat cucu kesayangannya Fikri.


Yah, Fikri dan Gilang memang kakak beradik yang wajahnya mirip namun berbeda karakter.


Fikri orang yang sedikit tertutup, namun dia baik dan penurut. Dia rela berkorban, suka mengalah dengan adiknya, dan dermawan. Dia tidak mudah berbaur dengan wanita. Karena Fikri memang orang yang datar dan apa adanya.


Beda dari Gilang, Gilang itu pandai sekali dalam meluluhkan hati wanita. Apalagi hati istrinya, dia itu suami yang penuh kehangatan. Namun di balik itu semua, Gilang itu sosok lelaki egois, tidak mau mengalah, dan lelaki yang posesif, yang seenakya sendiri.


"Sayang. Kamu senang nggak aku bawa kesini?" tanya Gilang


"Aku senang banget Mas Gilang. Di sini beda sama di kota. Udara di sini terasa sejuk, pemandangannya indah dan begitu asri. Aku suka sekali suasananya."


"Ya udah, kalau kamu suka, di sini saja nemanin Oma."Kata Oma Rusti sembari meletakan teh hangat untuk kedua cucunya itu.


"Iya Andira, Opa juga nggak keberatan kok." Kata Opa Dahlan menimpali.


"Tapi Mas Gilang kan kerja Oma,Opa," Kata Andira.


"Nggak apa-apa Andira di sini. Gilang nggak keberatan kok. Kalau masalah kerjaan, nggak jadi masalah. Gilang bisa sering-sering kesini nengokin Andira. Bila perlu, nanti perusahaanya aku boyong kemari." Kata Gilang


"Ha...ha... Gilang bisa saja kamu bercandanya." Kata Opa Dahlan sembari duduk di dekat cucunya.


Setelah meletakan suguhan yang berupa teh manis hangat dan sepiring pisang goreng, Oma Rustipun ikutan duduk di samping Andira.


"Oma senang...sekali kalian sudah mau nengokin kami kesini. Bagaimana kabar papa dan Mama mu Nak? Orang tuamu Nak?" tanya Oma Rusti.


"Baik-baik saja Kok. Cuma mereka memang akhir-akhir ini lagi sibuk. jadi dua lebaran tidak kemari." Kata Gilang.


"Ya syukurlah kalau begitu." Kata Opa Dahlan.


"Maafkan kami ya Gilang, kami tidak bisa hadir di pesta pernikahanmu. Kenapa pestanya mendadak sekali?"


"Iya Oma, memang mendadak. Itu semua karena permintaan almarhum ayahnya Andira yang lagi sakit. Dia ingin melihat Andira menikah."Kata Gilang menjelaskan.


Hoaam. Andira tampak menguap. Sepertinya Andira sudah mulai mengantuk.


"Kenapa sayang, kamu ngantuk? jam berapa ini udah ngantuk?"Kata Gilang.


"Mas, aku kan capek Mas. Sehari semalam ada di jalan."Kata Andira.


"Ya udah, sana kalian istirahat. Ini pisang nya di bawa aja sekalian ke kamar." Kata Oma Rusti.


"Iya Oma. Terimakasih yah."Kata Gilang.

__ADS_1


Gilang kemudian mengantarkan Andira ke kamarnya.


__ADS_2