
Viona menatap lelaki itu lekat. Viona sedikit di buat terpesona pada lelaki itu. Kemarin dia melihat Aryan cowok tercakep di universitasnya, dan dia juga bertemu dengan lelaki yang sekarang ada di hadapannya.
Lelaki yang mempunyai wajah rupawan, tubuh yang tinggi dan seksi, namun mempunyai tatapan yang dingin sedingin es. Lelaki itu hanya diam. Dia membiarkan gadis yang ada di hadapannya itu untuk menatapnya.
Sesaat kemudian, Viona tersadar. Dan dia beristighfar. Betapa matanya telah ternoda memandang lelaki yang bukan muhrimnya. Dia benar-benar sudah lupa, jika saja memandang lelaki dengan syahwat itu adalah dosa. Kemarin Aryan dan sekarang Farrel.
Yah, lelaki yang ada di depannya itu bernama Farel. Tidak bisa di pungkiri, ketampanannya melebihi ayah Viona sewaktu muda. Dia bisa membuat semua gadis terpikat.
" Maaf." Ucap Viona.
Lelaki itu hanya bisa diam.
Ih, ini cowok cakep-cakep tapi budek. Batin Viona.
" Maaf..." Ucap Viona lagi.
"Apa semudah itu, meminta maaf. " Ucap Farel.
" Ya terus, aku harus minta maaf yang seperti apa." Tanya Viona.
" Lihatlah baju ku."
Viona kemudian memandang baju yang di pakai Farrel
" Astaga...!" Ucap Viona.
Lelaki itu masih menatap tajam Viona.
" Maafin aku yah. Baju kamu jadi kotor gini gara-gara ice cream aku."
" Makanya, kalau jalan tuh pakai mata...! jangan cuma pakai kaki. Mata tuh di pasang...!" Kata lelaki itu penuh amarah.
Ternyata sedari tadi Viona memegang ice cream. Tadinya mau dia makan dulu, tapi berhubung dia masih terpana melihat kantor ayahnya, dia jadi tidak konsentrasi jalannya dan akhirnya menabrak Farrel. Farrel yang sore ini akan meeting bersama ayahnya.
" Ya aku kan udah minta maaf. Baiklah kalau begitu, aku akan bersihkan baju kamu." Kata Viona. Setelah itu Viona mengambil sapu tangannya yang ada di tasnya. Diae memberikan sapu tangan itu ke Farrel.
__ADS_1
" Ini, sapu tangan. Siapa tahu bisa untuk membersihkan noda itu."
" Apa, sapu tangan? apa menurutmu hanya dengan sapu tangan aku bisa memberi mu maaf."
" Maksud anda apa?"
" Ini tuh baju mahal, kamu harus menggantinya. Atau kamu harus melaundrinya. Paham...? Dan gara-gara kamu, baju ku jadi kotor begini. Apa kamu tahu, hari ini aku akan bertemu dengan orang-orang besar di kantor ini."
Viona menghela nafasnya dalam mencoba untuk bersabar menghadapi lelaki yang ada di depannya ini. Lelaki itu tidak bisa di baik-baikin ternyata.
" Terus mau anda apa Tuan?" Tanya Viona.
Farrel kemudian membuka jasnya. Dia kemudian memberikan jas mahalnya itu pada Viona si gadis yang masih berusia 18 tahun itu.
" Bawa pulang. Cuci sampai bersih. Kalau tidak, kamu akan tahu akibatnya. Jika kamu tidak bisa mencucinya sampai bersih, kamu harus ganti baju itu dengan yang baru.
" Apa, mengganti dengan yang baru?"
" Iya. Itu sama saja kamu itu harus membayar ku dengan harga 10 juta."
Benar-benar lelaki sialan. Kenapa dia seperti mau memerasku. Gara-gara ice cream saja, aku harus mengganti baju semahal ini. Dan dia menyuruhku untuk mencuci jasnya sampai bersih? gimana kalau nggak bersih? kalau pakai jasa laundry harus bayar laundry juga dong. Ih, ngeselin banget sih ini cowok. Batin Viona.
Setelah itu Viona pun hanya bisa diam mematung. Sementara Farrel berlalu meninggalkannya.
" Ih, benar-benar menyebalkan...!" Dengus Viona.
Dia kemudian pergi dan melangkah masuk ke dalam kantor ayahnya sembari membawa jas Farrel. Setelah itu, dia menitipkan jas Farrel ke Pak Banu sopir pribadi Fikri. Karena sekarang Fikri itu, pulang pergi pakai sopir pribadi.
" Pak Banu. Saya cariin juga. Kemana aja sih?" Tanya Viona.
" Eh, Non Vio." Ucap Pak Banu.
" Maaf Non. Saya tidak melihat Non Vio ada di sini." Ucap Pak Banu.
" Iya, iya, saya tahu. Ini titip jas ini." Ucap Viona sembari memberikan sebuah jas pada Pak Banu.
__ADS_1
" Jasnya siapa Non? Jasnya Pak Fikri yah?" Tanya Pak Banu.
" Bukan. Jasnya orang." jawab Viona.
Pak Banu mengernyitkan keningnya. Dia seperti bingung mendengarkan Viona.
" Orang siapa Non?" tanya Pak Banu lagi.
" Jangan banyak tanya. Simpan aja. Nanti bawa ke loundry"
" Oh, gitu. Ya udah Non. Baik Non."
Setelah itu, Viona pergi meninggalkan Pak Banu. Dia melangkah ke arah dalam. Dan dia kemudian ingin menuju ke ruangan ayahnya.
Viona kemudian mendekat ke arah lift. Dia memencet tombol lift. Betapa terkejutnya dia, siapa yang ada di lama lift. Dia bertemu lagi dengan lelaki dingin itu.
Viona begitu berdebar di buatnya. Padahal, dia itu sedari tadi mau menghindar dari Farrel. Tapi, justru dia malah terjebak di lift bersama Farrel.
Farel sedari tadi hanya diam. Dia diam tidak menyapa ataupun tersenyum. Padahal baru saja mereka sedikit mengobrol saat jas Farrel kotor terkena ice cream. Namun tampaknya lelaki yang bernama Farrel itu sangat angkuh, dia sangat acuh dan dingin. Itu semua membuat Viona jadi sebal sendiri.
Beberapa saat kemudian, lift pun sampai di lantai atas. Farel dan Viona kemudian keluar dari lift secara bersamaan. Viona menuju ke ruang kerja ayahnya, sementara Farrel menuju ke ruang meeting. Kebetulan, ruangan Fikri dan ruangan yang biasa di gunakan meeting Fikri itu berdekatan.
Viona masuk ke dalam ruangan ayahnya. Namun ruangan itu sangat sepi. Sepertinya, karyawan-karyawan juga sudah pada pulang. Karena meeting itu akan di laksanakan sore hari setelah kantor sepi.
" Wah, ini ruangan papa. Bagus banget. Nyaman lagi."
Viona kemudian mendekat ke arah meja kerja ayahnya. Dia melihat foto mamanya terpanjang di sana. Begitu cantik dan elegan seorang Andira. Dia tampak masih muda dan senyumannya selalu ceria. Dulu dan sekarang masih sama. Tidak ada yang berubah.
" Mama..." Ucap Viona sembari tersenyum. Dia kemudian meraih foto yang terpajang di meja kerja ayahnya.
" Papa ternyata sayang sekali sama Mama. Dia masih tetap memajang foto mama di meja kerjanya. Sepertinya mama itu ada di mana-mana fotonya." Ucap Viona.
Viona kemudian meletakan kembali foto itu di tempatnya semula.
Setelah itu dia mendekat ke arah jendela. Dan dia melihat ke bawah. Lagi-lagi Viona tersenyum. Pemandangan di bawah yang begitu menakjubkan. Banyak mobil-mobil mewah terparkir di sana. Karena hari jni, tamu yang datang adalah orang-orang penting yang akan meeting bersama dengan ayahnya.
__ADS_1
Viona tersenyum. Dia tidak menyadari, kalau perusahaan milik ayahnya itu akan terancam bangkrut. Viona, Rafael, Zaki, juga Andira tidak ada yang tahu menahu soal hal itu. Mereka hanya tahu, kalau perusahaan ayahnya itu dalam keadaan baik-baik saja.