Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
Kesabaran seorang istri.


__ADS_3

Lagi-lagi Fikri dan Andira terbawa suasana. Fikri kemudian memeluk Andira mencoba menghibur Andira.


"Sudahlah, jangan menangis. Ini sudah suratan takdir."Ucap Fikri.


Fikri dan Andira terkejut saat Dini membuka pintu depan. Fikri dan Dira segera melepas pelukannya.


"Ups, maaf." Ucap Dini.


Andira segera menyeka air matanya.Kemudian dia buru-buru masuk kedalam.


"Ayo Kak Fikri, masuk!"Ucap Dini.


"Iya. Makasih." Ucap Fikri sembari melangkah masuk ke dalam rumah Andira.


Yah, ini kali pertamanya Fikri masuk ke dalam rumah Andira.


Lagi-lagi Fikri menyesali, kenapa harus Gilang yang menikah dengan Andira.


Gilang itu tidak pantas menjadi seorang suami. Di saat-saat mertuanya meninggal, Gilang malah pergi dengan wanita lain. Dan tidak ada yang tahu, dengan wanita mana Gilang berkencan. Yang pasti, semua orang tahu, Kalau sudah sejak sekolah Gilang itu jadi seorang play boy. Banyak wanita yang sudah patah hati karenanya.


...****************...


Pagi ini, seperti biasa, Andira masih berkutat di dapurnya. Dia akan menyiapkan sarapan untuk kedua adiknya. Dini membantu Andira menyiapkan makanan.


"Kak Dira. Kak Dira tinggal di sini aja dulu nemenin kita." Cetus Dini sembari masih mengiris cabe. Sepertinya ke dua kakak beradik itu seperti akan memasak nasi goreng.


"Iya. Insya Allah yah. Soalnya lusa kan Mas Gilang pulang. Jadi Kakak nggak enak kalau kelamaan di sini." Ucap Andira.


"Iya sih susah."


"Ya Suruh aja Kak Gilang sekalian nginep di sini." Ujar Denis yang sekarang sudah tampak ada di meja makan.


"Iya. Nanti aku akan ngomong sama Mas Gilang yah. Kalian nggak usah khawatir. Nanti Kak Dira akan sering kesini."


Denis dan Dini tampak bahagia. Yah, selama inikan selalu ibunya yang menyiapakan semuanya. Mulai dari menyiapkan sarapan pagi, beres-beres rumah, Andini cuma sekedar bantu-bantu saja. Kan Andini juga repot sekolah.


"Oh iya. Nanti kakak mau cari asisten rumah tangga untuk di rumah ini." Kata Andira sembari membawa dua piring nasi goreng ke meja makan.


"Oya Kak ?! terus siapa yang mau bayar?" tanya Dini sembari menghampiri Andira. Setelah itu Dini duduk di samping Denis.


"Yah, kakak yang akan bayar." jawab Andira.


"Hemm...kayaknya nasi gorengnya enak nih. Denis udah nggak sabar pengin makan masakanya Kak Dira."


Dira tersenyum. Kemudian dia pun duduk.


"Kak Dira nggak ikut makan?" tanya Dini sembari mengunyah makananya, tapi tangannya masih mengotak-atik ponselnya.

__ADS_1


"Ah, kakak lagi nggak doyan nasi." Ucap Andira.


Dini tersenyum. Dia paham betul apa yang tadi Dira ucapkan.


"Kak Dira lagi hamil yah? jadi aku mau jadi Tante nih."


Andira tersenyum sembari memandangi ke dua adiknya.


"Ah, kalian bisa aja. Iya memang aku lagi hamil muda."


"Benar itu Kak, yang di bilang Dini?" tanya Denis.


Andira mengangguk.


"Wah, asyik dong. Kita bisa main sama bayi." Denis sangat antusias.


"Udah, kalian makan aja dulu. Nanti ngobrolnya." Kata Andira.


Yah,walaupun saat ini dia sudah tidak mempunyai orang tua, tapi Andira masih bersyukur karena masih mempunyai dua adik yang baik seperti Denis dan Andini.


"Udah, habisin makanannya! Mumpung Kak Dira masih ada di sini. Nanti, Kak Dira buatin makanan yang enak ke sukaan kalian."


Denis dan Dini saling berpandangan.Mereka tersenyum tampak bahagia. Yah, mereka bahagai dan bangga bisa mempunyai kakak sebaik Andira. Dia tidak pernah marah pada adiknya, dan Andira juga sangat mengalah. Memang sudah bawaan sifatnya seperti itu. Dia suka mengalah dan rela berkorban.


...****************...


Denis menghentikan langkahnya, saat pandangannya tertuju pada seorang gadis yang sedang menangis sesenggukan.


Denis kemudian melangkah ke arah Sofi.


"Hai, Sof. Kenapa kamu nangis?" tanya Denis.


Denis kemudian duduk di samping Sofi. Denis mengambil sapu tangannya dan menyerahkannya pada Sofi.


"Terimakasih." Ucap Sofi.


"Iya. sama-sama."


Denis tidak tahu dengan masalah apa yang sedang melanda Sofi saat ini. Yang pasti Denis tahu mungkin Sofi lagi sangat sedih.


Denis tersenyum. Selama ini Denis memang menyukai Sofi. Tapi Denis sadar siapa dirinya. Denis hanya orang biasa-biasa saja. Sementara Sofi adalah anak orang kaya


Sofi menatap Denis lekat. Sofi masih berderaian air mata.


Denis menghapus air mata Sofi.


"Kamu kenapa Sof? lagi ada masalah?" tanya Denis.

__ADS_1


Sofi diam. Dia masih menangis.


"Sof, katakanlah padaku. Kamu lagi punya masalah apa?" tanya Denis.


Sofi menghela nafasnya dalam.


"Denis, aku itu sudah kotor Den."


"Maksud kamu apa?"


"Den, kamu janji yah, nggak akan bocorin rahasia ini."


Denis semakin bingung saja.


"Aku hamil Den."


Denis terkejut setengah mati. Dia tidak menyangka, kalau Sofi akan mengatakan seperti itu.


"Apa...! Kamu hamil? aku nggak salah dengar Sof. Astaga...kenapa bisa seperti itu Sof? Siapa orang yang udah tega menghamilimu."


Sofi menangis lagi. Dia tidak tahu lagi dengan siapa dia akan bercerita. Kepada sahabat perempuannya itu tidak mungkin.


Karena Sofi takut mereka tidak akan bisa menjaga rahasia Sofi.


"Den, aku harus bagaimana? cowok itu tidak mau mengakui anak ini. Dan cowok itu sudah merebut semua kehidupanku. Cowok itu juga nyuruh aku untuk gugurin kandungan ini. Aku harus bagaimana ini?"


Sofi kemudian memeluk Denis dengan erat. Dia menginginkan dukungan dari sahabatnya itu.


"Sudah, yang sabar Sof. Kita harus cari jalan keluarnya sama-sama." Kata Denis.


Denis melepas pelukan Sofi. Dia kemudian mengusap air mata Sofi.


Sof, seandainya aku sudah punya kerjaan, mungkin aku rela untuk menjadi pengganti lelaki itu. Tapi aku juga masih numpang hidup pada kak Dira. Jadi aku tidak bisa bertanggung jawab untuk kehamilanmu. Padahal aku sayang sama kamu Sof. Tapi aku tahu diri siapalah aku ini. batin Denis.


Denis mencoba memaksa Sofi untuk mengatakan siapa yang telah menghamilinya. Namun Sofi bungkam dan tidak mau mengatakannya.


Seandainya Denis tahu siapa lelaki brengsek yang menghamili Sofi, dan jika Denis tahu lelaki itu adalah Gilang kakak iparnya sendiri, entahlah apa yang akan Denis lakukan.


"Sof. Ayo katakan siapa lelaki yang telah menghamilimu!"


"Sudahlah Den. Aku mengatakannya kamu pun tidak akan pernah mengenalnya. Dia bukan anak kampus sini. Dia lelaki kantoran."


"Oh...jadi dia bukan anak kampus ini?"


Sofi menggeleng.


Denis menggenggam tangan Sofi.

__ADS_1


"Sabar yah Sof. Kamu jangan dengarkan ucapan lelaki itu!. Kamu jangan sampai gugurkan kandungan kamu itu. Kamu harus janji yah sama aku, kamu harus jaga ke hamilan kamu. Janin yang ada di perut kamu itu tidak berdosa."


" Iya Den. Aku juga sayang sama anak ini. Bagaimanapun juga, anak ini adalah darah dagingku." Ucap Sofi.


__ADS_2