Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
Permintaan orang tua Fikri.


__ADS_3

Gilang masih berfikir dengan kejadian satu tahun yang lalu. Dia masih bengong. Matanya masih menerawang ke depan.


Tiba-tiba saja Andira datang.


"Mas...Mas Gilang..." Ucap Andira sembari mengetuk pintu mobilnya Gilang.


Gilang tersentak.


"Em, sayang...." Ucap Gilang.


Gilang kemudian turun dari mobilnya.


Ternyata sedari tadi Gilang itu masih melamun di halaman depan rumah Oma Rusti.


"Gimana Mas, apa sudah dapat siomay nya?" tanya Andira.


"Sudah."


"Makasih Mas."


Gilang mengandeng Andira untuk masuk ke dalam.


...****************...


Nada dering Ponsel Fikri berdering. Fikri mengangkat telpon dari mamanya.


"Halo Ma..."


"Fikri gawat Nak, gawat!"


"Apanya yang gawat Ma?"


"Tolong Nak. Pulang sekarang."


"Untuk apa?"


"Sudah, nanti mama dan papa jelaskan di rumah. Kali ini kamu harus menurut dengan kami Nak."


"Apa maksud kalian? aku nggak tahu."


"Sudah. Kamu pulang...! nanti mama jelaskan di rumah. Kalau kamu sayang dengan orang tua, tolonglah kami."


"Gawat apa?" tanya Fikri.


"Sudah kamu pulang dulu. Ada masalah besar di rumah.


"Baiklah. Besok Fikri pulang."


tut.


Fikri menutup ponselnya.


"Ada apa yah? kok mereka kelihatan panik banget."Gumam Fikri yang masih tampak bingung.

__ADS_1


Fikripun akhirnya berkemas untuk pulang ke Indonesia.


Sesampainya di rumah, Fikri melihat mamanya menangis di pelukan papanya. Membuat Fikri bingung.


"Kalian kenapa?" tanya Fikri.


Fikri kemudian duduk di samping kedua orang tuanya.


"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Fikri.


Bu Dian tampak kelu untuk mengatakan masalah besar yang sedang di hadapi keluarganya saat ini.


Yah, masalah apa lagi kalau bukan masalah tentang Gilang.


" Gilang, adik kamu itu telah mencoreng nama baik keluarga kita Nak." kata Pak Danu menuturkan.


"Apa? maksud papa?" tanya Fikri.


"Dia telah menghamili seorang gadis dan sekarang Gilangnya kabur Nak." jelas pak Danu.


"Apa? kabur? Gilang kabur dengan Andira juga?"


"Iya Nak. Ponsel mereka pun mati. Sekarang kami tidak tahu di mana Gilang bersembunyi. Sepertinya Gilang itu mau lari dari tanggung jawab ini." Kata Pak Danu.


"Astaghfirullah... Gilang benar-benar keterlaluan." Geram Fikri.


"Dan apa kamu tahu Nak, keluarganya Pak Widodo akan menuntut kita. Sebelum kabar ini menyebar , Papa minta sama kamu Nak. Untuk membereskan semua masalah ini. Cuma kamu yang bisa menutup aib ini." Kata Pak Danu.


"Maksud papa apa?" tanya Fikri yang masih tak mengerti.


Fikri tampak emosi. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Maksud kalian apa!" bentak fikri.


Kedua orang tua Fikri terdiam.


Fikri berdiri dari duduknya.


"Kalian mau ngorbanin aku dengan menikahi wanita yang di hamili Gilang itu? Aku tidak mau!. Aku tidak mau menikah dengan gadis itu. Aku juga tidak mencintainya juga tidak mengenalnya."


"Fikri. Kali ini, saja Fikri. Mama mohon...!" Kata Bu Dian.


"Aku tetap nggak mau Ma!. Aku tetap nggak mau bertanggung jawab. Karena ini salahnya Gilang. Bukan salah Fikri. Kenapa harus Fikri yang bertanggung jawab!"


"Tapi Nak, nama baik keluarga kita bisa terancam jika pak Widodo mengusut kasus ini." kata Pak Danu dengan wajah yang masih di selimuti ke khawatiran.


Fikri diam. Hatinya sangat hancur. Orang tuanya meminta dia untuk menikah dengan gadis yang bernama Sofi. Apakah mungkin, Fikri akan menikah dengan gadis yang sama sekali tidak pernah di lihatnya. Dan wanita itu sekarang sedang hamil anaknya Gilang.


Fikri membasuh wajahnya kasar.


"Kenapa kesalahan Gilang harus aku yang tanggung. Aku tidak mau...! Kenapa bukan Gilang saja yang menikahi Sofi. Kenapa harus aku yang menajadi korban. Aku tidak mau...!"


Fikri masih saja menentang keinginan orang tuanya, seperti Gilang menentang untuk menikahi Andira dulu.

__ADS_1


Fikri masih larut dalam emosinya. Dia kemudian teringat sosok Andira.


Bagaimana mungkin aku akan menikahi wanita yang telah di hamili Gilang. Sementara aku saja mencintai Andira istrinya Gilang. Cobaan macam apa lagi ini. Kenapa aku yang harus hancur di sini. Andiraku telah di nikahi oleh adik ku. Sekarang aku di suruh menikah dengan wanita yang di hamili adik ku. Apa maksud dari semua ini.


Tanpa fikir panjang lagi, Fikri melangkah menuju kamarnya. Baru kali ini Fikri membentak-bentak orang tuanya. Karena dia sama sekali tidak bisa terima, kalau dia di suruh tanggung jawab dengan perbuatan adiknya.


"Apa maksud semua ini. Kenapa aku yang di suruh nikah. Kenapa bukan Gilang aja. Brengsek kamu Gilang...! Kenapa kepahitan ini harus kamu limpahkan ke padaku. Apa maksudmu Gilang. Aku akan menacari mu Gilang. Bila perlu akan ku cari kamu sampai ke ujung dunia sekalipun" Gerutu Fikri di dalam kamarnya.


Bruaaaak...


Fikri memukul cermin hingga keluar darah segar dari tangannya.


Fikripun kemudian menangis.


"Andira harus tahu semua ini. Dia harus tahu kelakuan brengsek suaminya. Aku akan cari Andira." Kata Fikri.


Sementara di sisi lain. Bu Dian menangis.


"Pa. Gimana ini. Apa Fikri mau menuruti keinginan kita untuk menikah dengan Sofi." Kata Bu Dian.


"Ma, jika Gilang saja pergi tanpa meninggalkan jejak, kita bisa di tuntut."


"Tapi inikan kesalahan Gilang, kenapa harus Fikri Pa yang menikah dengan Sofi."


"Ma. Nggak ada cara lain Ma. Lagian selama ini Fikri juga belum punya calon kan. Sementara Gilang sudah punya Andira. Kasihan Andira, kalau tahu Gilang menghamili wanita lain. Dia akan sedih. Mama tahukan, dia lagi hamil."


Bu Dian tampak berfikir. Dia mencoba mencerna kata-kata suaminya.


"Iya Pa. Benar juga apa kata Papa. Kenapa tidak Fikri aja yang menikah dengan Sofi."


...****************...


Malam ini Gilang masih mondar mandir di kamarnya. Dia masih terlihat cemas.


"Ah, sial. Kenapa aku bisa kecolongan begini sih...!" gerutu Gilang.


Gilang saat ini sedang di landa kecemasan dan kegelisahan yang besar. Dia juga menyesali dengan perbuatan yang dia lakukan dengan Sofi. Seharusnya dia tidak menodai gadis itu, dan dia melakukan hal mesum itu juga lupa memakai pengaman.


Tapi sekarang semua sudah terlambat. Semua sudah terjadi. Sofi sedang mengandung anaknya. Dan suatu hari, orang tuanyapun akan mencarinya. Namun Gilang tidak akan pernah kehabisan akal. Dia pun akan mengajak Andira pergi jauh dari rumah Oma Rusti.


Ceklek..


Tampak Andira membuka pintu kamarnya membuat Gilang tersentak.


"Mas Gilang, lagi ngapain?" tanya Andira.


"Em, eh sayang...aku...nggak. Nggak ngapa-ngapain."


"Kok kelihatan cemas gitu?" tanya Andira.


"Em, nggak apa-apa sayang. Kenapa sayang?"


Andira mendekat ke arah suaminya. Kemudian Andira memeluknya. Andira fikir, kalau sekarang suaminya itu sudah berubah.

__ADS_1


Akhir-akhir ini , Gilang sangat perhatian pada Andira. Gilang selalu memanjakan Andira dengan kejutan-kejutan kecil yang tidak pernah Andira sangka.


"Ayo Mas. Kita keluar. Oma dan Opa sudah menunggu mu. Kita makan malam bersama sayang." Kata Andira sembari melepas pelukannya.


__ADS_2