
Fikri masih duduk di sisi mamanya. Mamanya masih terbaring lemah.
"Fikri, mana adik kamu...?kenapa mama sakit, dia tidak nengokin mama...?Bagaimana kabar dia? Mama kangen Fikri..mama juga kangen sama menantu dan calon cucu mama..." Kata Bu Dian dengan nada yang masih lemah.
Fikri mengusap air matanya. Dia kemudian mencium tangan mamanya.
"Maafkan Fikri. Fikri tidak tahu Gilang ada di mana. Fikri sudah benar-benar kehilangan jejak Gilang Ma."
"Dian, kemarin-kemarin, Gilang lama di rumah ibu, tapi ibu nggak tahu, kalau Gilang di sini lagi punya masalah." Kata Oma Rusti.
"Bu, aku cemas dengan Andira. Dia lagi hamil muda, tapi di bawa kabur-kaburan seperti itu." Kata Bu Dian.
"Tenanglah kamu Dian. Gilang dan Andira itu sudah dewasa. Aku yakin kok, kalau Gilang bisa menjaga Andira. Biarkanlah mereka belajar hidup mandiri tanpa tergantung pada kalian lagi." Kata Opa Dahlan.
Bu Dian menatap Pak Danu suaminya.
"Bagaimana dengan Sofi, apakah mereka akan menuntut keluarga kita?" Bu Dian tampak cemas.
"Sudahlah ma, mama nggak usah ikutan mikirin masalanya Gilang. Mama itu masih sakit, jangan terlalu banyak fikiran. Biarkan semua itu papa yang akan atasi." Kata Pak Danu.
"Tapi bagaimana carannya Pa?" tanya Bu Dian.
"Demi mama, Fikri siap Ma. Fikri siap menikahi Sofi. Fikri siap menjadi ayah dari anaknya Gilang. Yang penting sekarang, mama harus sembuh yah, Fikri nggak tega melihat mama seperti ini. Fikri sayang mama. Fikri nggak mau kehilangan mama." Kata Fikri.
Bu Dian membelai lembut wajah Fikri. Yah, Fikri yang dari dulu sudah menjadi anak kebanggaan. Fikri yang selalu mau rela berkorban untuk adiknya, dan sekarang, Fikripun akan mengorbankan dirinya untuk bersedia menjadi ayah dari anak Gilang.
"Terus apa rencana kalian?" tanya Bu Dian.
"Aku akan bertemu dengan Sofi Ma. Aku akan menikahi Sofi, tapi hanya ucapan ijab qobul. Tidak ada pesta untuk acara nikah seperti ini. Karena Fikri akan mengawini Sofi secara siri."
"Kenapa begitu?" tanya Bu Dian.
"Ma, sofi itu lagi hamil. Jika kita nikah secara hukum negara, aku nggak mau timbul berbagai macam masalah dan pertanyaan. Karena anak itu bukan darah daging Fikri. Jika kalian memaksaku untuk menikah secara negara, Fikri juga akan kabur. Fikri cuma mau menutupi aib keluarga saja. Dan setelah Gilang kembali. Biarkanlah Gilang yang menikahi Sofi."
"Apa Fikri. Jadi maksud kamu?"
" Aku akan menikahi Sofi, tapi aku akan tetap mencari Gilang. Setelah Gilang ketemu, biarin saja Gilang nikahin Sofi."
__ADS_1
"Ya udahlah. Nanti minggu depan kita undang Pak Widodo dan keluarganya kerumah. Biar kita bicarakan masalah ini sama-sama." Kata Pak Danu.
"Alangkah baiknya seperti itu. Kita adakan musyawarah keluarga."Kata Opa Dahlan.
Tak berapa lama setelah itu, dokterpun muncul.
"Maaf bisa kalian keluar sebentar? saya akan memeriksa kondisi pasien." Kata dokter.
"Iya dokter. Silahkan...!"Ucap Pak Danu.
Pak Danu, Fikri, Opa Dahlan dan Oma Rusti kemudian keluar.
"Mudah-mudahan Dian sudah boleh pulang hari ini." Kata Oma Rusty.
Opa Dahlan menghampiri Fikri. Dia duduk di sisi Fikri.
"Sabar cucu ku. Ini adalah cobaan untukmu. Hadapilah dengan ikhlas dan sabar." Kata Opa Dahlan memberikan kekuatan.
"Iya Opa. Aku akan kuat. Ini memang sudah takdir aku. Mungkin Sofi itu adalah jodoh yang di kirimkan Tuhan untuk aku." Kata Fikri.
"Iya Opa. Kunci kesuksesan itu sabar dan ikhlas." Kata Fikri.
Setelah beberapa menit kemudian, dokterpun keluar.Fikri, Oma, Opa dan Papa Fikri bangkit berdiri dan menghampiri dokter.
"Bu Dian besok sudah boleh pulang. Dia sudah tidak apa-apa. Tolong yah, jangan ada yang membuat dia setres lagi. "
"Iya Dok. Terimakasih."
"Sama-sama saya permisi dulu."
Dokter kemudian pergi meninggalkan keluarga Fikri.
"Alhamdulilah Oma, Opa, mama akhirnya sudah boleh pulang." Kata Fikri.
"Iya. Nak. Berdoalah terus. Biar mama kamu bisa sehat seperti sedia kala." Kata Oma Rusti.
"Iya Oma."
__ADS_1
...****************...
Sekarang di rumah Fikri sudah tampak berkumpul ke dua keluarga. Keluarga Sofi dan dan keluarga Fikri. Mereka sepertinya sudah akan memusyawarahkan pernikahan Sofi dengan Fikri.
" Pak Widodo. Bagaimana, anak saya Fikri, cuma mau menikah siri dulu, sampai Gilang kembali. Dan mungkin, jika Gilang kembali, ini masalahnya bisa di musyawarahkan lagi." Kata Pak Danu.
"Iya Pak Widodo. Tolong jangan perkarakan kasus ini!. Ini adalah aib keluarga. Jadi, kalau Pak Widodo tidak mau tercemar nama baiknya, lebih baik, seperti itu saja. Nikah siri dulu. Kalau kita memaksa Fikri, juga kasihan Fikri. Dia sama sekali tidak bersalah Pak."Kata Opa Dahlan menimpali.
"Baiklah. Saya juga kasihan sama Fikri. Ini semua juga tidak sepenuhnya salah Gilang. Anak saya juga salah. Mereka melakukan, juga atas dasar suka sama suka." Kata Pak Widodo.
"Pa, aku tidak mau menikah dengan Kakaknya Mas Gilang. Aku maunya sama Mas Gilang. Pokoknya aku maunya sama Mas Gilang. Titik. Aku cintanya sama Mas Gilang. Bukan dengan kakaknya." Kata Sofi.
"Sofi. Kamu ini anak kecil. Diam dulu...!" Kata Bu Mia mamanya Sofi.
Sofi kemudian diam. Dia sedari tadi cuma bisa menolak. Dia sama sekali tidak mau di nikahi Fikri. Sofi cuma mau Gilang. Karena Sofi melakukan hal itu juga dengan Gilang, karena dasar suka sama suka. Tidak ada pemaksaan di dalam kehamilannya.
"Iya. Kita tentukan tanggal pernikahannya saja." Kata Pak Widodo.
"Iya Bu Dian, Pak Danu, kami sama sekali tidak akan memberatkan kalian. Bagi keluarga kami, Sofi itu harus punya suami, jadi tidak kelihatan kalau Sofi itu hamil di luar nikah."
"Iya Bu. Alhamdulillah kalau begitu."
"Jadi, kalau anaknya sudah lahir, mungkin Sofi dan Fikri bisa menikah secara hukum negara. Mudah-mudahan mereka akan ada kecocokan." Kata Opa Dahlan.
Fikri sedari tadi diam saja. Dia tidak mau menatap Sofi sedikitpun. Yah, Fikri sadari siapalah Sofi. Seorang gadis usia sembilan belas tahun yang emosinya masih labil. Tidak tahu apa yang akan terjadi pada pernikahan mereka kelak.
Akankah Fikri bisa melupakan Andira dan membuka hatinya untuk Sofi, ataukah Fikri akan terjebak dalam pernikahan tanpa cinta yang memberikan banyak luka di hatinya.
Fikri menatap Sofi. Dia kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri Sofi.
"Sofi, ikut aku. Aku pengin ngobrol sama kamu di luar."
"Aku nggak mau. Mau ngapain di luar. Kenapa tidak di sini saja." Kata Sofi.
Yah, Sofi memang anak yang keras kepala. Mungkin sama saja seperti Gilang.
"Bagaimana, Sofi. Aku mau ngobrol empat mata sama kamu." Kata Fikri.
__ADS_1