
Saat turun ke bawah, Andira terkejut. Dia di kejutkan oleh sosok wanita berhijab yang kemarin di lihatnya di pinggir jalan bersama suaminya.
Saat ini Indri memang mampir di butiknya Andira. Dia membawa anaknya.
Ya Allah, Apakah benar wanita itu adalah selingkuhannya Mas Gilang yang kemarin bermesraan di pinggir jalan. Tapi dia cantik, dan masih muda. Atau dia cuma mirip aja. Batin Andira.
Andira kemudian melangkah ke kerumunan pembeli. Saat ini Andira dan karyawannya tampak keteteran karena saking banyaknya pembeli.
Dan setelah semua selesai, tinggal Indri yang masih tampak memilah-milih baju buat anaknya.
"Ah, aku nggak boleh suudzon. Mana mungkin wanita itu, selingkuhan suamiku. Dia kan seperti wanita baik-baik. Masa iya aku tuduh dia pelakor." Gumam Andira pelan, hanya telinganya saja yang dapat mendengar.
Setelah memilih pakaian, Indri kemudian mendekat ke arah Andira.
Indri tersenyum.
"Saya ambil yang ini Mbak." Ucap Indri pada Andira.
"Oh iya."
"Tolong bungkusin yah." Kata Indri.
Andira kemudian menyuruh Wati untuk membungkus baju itu.
"Em, maaf. Kalau boleh saya tahu, anak itu anak kamu? "tanya Andira.
"Iya ini anak aku."
"Ganteng anaknya." Ucap Andira
"Iya makasih. Dia itu mirip papanya." Ucap Indri.
"Papanya nggak ngantarin?"
Indri terdiam.
"Maaf, suami saya sudah meninggal mbak. Saya single parents. Saya itu ibu sekaligus ayah untuk anak saya."
"Oh maaf."
"Iya ngga apa-apa."
Sesaat kemudian Wati menyodorkan kantong plastik pada Indri.
"Ini Mbak bajunya." Ucap Wati.
Indri menerimanya.
"Berapa semuanya? "tanya Indri.
"Dua ratus ribu." jawab Andira.
Indri kemudian menyodorkan uang dua ratus ribu. Andira pun menerimanya.
"Terimakasih, kapan-kapan boleh yah, mbak berkunjung ke sini lagi. Kami menyediakan berbagai macam model baju di sini dan mudah-mudahan rancangan kami tidak mengecewakan." Kata Andira yang masih mengulas senyum.
"Iya. Aku pasti akan mampir kesini lagi. Aku suka belanja di sini. Murah-murah, kualitasnya juga bagus-bagus." Kata Indri.
Setelah itu Indri pergi meninggalkan Andira. Dan setelah semua pengunjung pergi, Andira buru-buru naik ke kamarnya.
Dia menangis.
"Ya Allah, benarkah wanita tadi selingkuhannya suami ku juga. Tapi mana mungkin. Dia itu wanita yang baik dan tutur katanya juga lembut. Mana mungkin dia mau merebut suamiku. Aku masih belum percaya. Dan aku juga kemarin melihat jelas dengan mata kepalaku sendiri, kalau perempuan itu yang di rangkul Mas Gilang."Gumam Andira di tengah tangisannya.
__ADS_1
Andira menghampiri mejanya. Dia kemudian membuka buku hariannya. Dia menulis sesuatu di sana.
Dear diary.
🌹Sejak kapan cinta itu berubah menyakitkan.
🌹Bukankah cinta itu, adalah sesuatu yang membahagiakan untuk dua orang insan manusia.
🌹Aku sangat mencintai suamiku. Tapi kenapa semakin kesini, rasa cinta ini seperti duri di hatiku.
🌹Aku seperti menyimpan duri di hatiku. Yang setiap waktu, bisa menusuk-nusuk ulu hatiku.
🌹Rasanya sakit, saat mata ini menyaksikan sendiri, suamiku merangkul perempuan lain.
🌹Rasanya hancur, saat ada wanita lain datang ke rumah,dan mengakui kalau dia adalah pacarnya Mas Gilang.
🌹Kemarin Maharani, sekarang wanita berhijab, dan besok siapa lagi?
Yah, untuk saat ini, Andira masih bungkam dan tidak memberontak. Karena dia masih bisa ikhlas dan bersabar. Namun, kesabaran manusia ada batasnya.
Mungkinkah Andira kuat jika dia selalu menyimpan duri di dadanya. Bukan cinta yang dia rasa, tapi duri yang setiap saat memberi luka karena menusuk-nusuk hatinya di setiap waktu.
Andira menangis dalam kesendiriannya. Mungkin cuma itu yang bisa membuatnya tenang.
Andira melangkah ke arah kasurnya. Dia kemudian merebahkan tubuhnya. Dia kemudian terlelap.
Sore haripun akhirnya tiba.
Andira terkejut. Dia di kagetkan oleh deringan ponselnya.
Fikri calling
Andira tersenyum.
"Halo Mas Fikri."
"Lagi ngapain Andira?"
"Aku baru bangun tidur."
"Udah sholat belum?"
Andira melihat jam di dinding. Yah, ternyata Andira tertidur sudah cukup lama. Dua jam setengah Andira tidur.
"Ya ampun. Sudah jam lima lebih."
"Iya, Kamu tidurnya lama sekali. membuat aku jadi lama menunggu di sini."
"Menunggu? Mas Fikri menungguku?"
"Iya. Aku ada di bawah. Sekarang kamu mandi, sholat, dan turunlah. Aku tunggu di bawah."
"Ah, kalau di bawah, ngapain telpon. Kan bisa bangunin aku."
"Aku nggak tega bangunin ibu hamil."
"Ya udah. Aku mandi dulu yah?"
"Iya. Dandan yang cantik. Biar suami mu betah di rumah. Dan nggak ngelirik cewek lain."
"Ah, Mas Fikri bisa aja."
Setelah bertelponan dengan Fikri, Andira pun mandi dan melaksanakan sholat. Setelah semua selesai, Andira turun ke bawah.
__ADS_1
"Ya Allah Mas, kemana karyawanku?"
"Ini kan udah mau maghrib Dir, jadi mereka udah pada pulang. Kamu mau ngelembur mereka?"
Andira tersenyum.
"Iya. Biasanya jam lima juga udah aku tutup. Aku ketiduran. Sudah lama yah di sini?"
Fikri tersenyum.
Andira memandang lekat wajah Fikri. Wajah lelaki yang mirip seperti suaminya itu.
"Makasih ya Mas. Kamu udah mau perhatian sama aku."
"Iya. Sekarang kan aku kakak kamu. Kakak Gilang juga kakak kamu juga kan?"
Andira tersenyum."Iya Mas. Makasih."
Andira kemudian duduk di samping kakak iparnya itu.
Mereka saling bertatapan sejenak.
Andira, aku mencintaimu Andira. Tapi aku tidak bisa memilikimu. Tapi tak apa. Aku sudah bisa menatap senyumanmu itu, aku juga sudah bahagia Andira. Aku janji, aku akan selalu menyayangimu dan melindungimu.
Lagi-lagi Fikri memandangi wajah cantik Andira tanpa berkedip.Membuat Andira tidak enak sendiri.
"Mas, jangan ngelihatin aku seperti itu. Aku jadi malu."
"Kamu cantik Andira. Kamu juga wanita soleha. Beruntung Gilang bisa dapatin istri secantik kamu." Kata Fikri kemudian.
Andira tersenyum. Lagi-lagi ucapan kakak iparnya itu membuat getaran kecil di hatinya. Entahlah apa yang sekarang sedang Andira fikirkan.
...****************...
Sekarang Andira sudah mengenakan piama. Dia sudah memoles wajahnya secantik mungkin. Dia berharap suaminya itu akan pulang malam ini.
"Mudah-mudahan, Mas Gilang mau pulang. Dan nggak buat alasan lagi." Ucap Andira.
Andira tersenyum di depan cermin. Dia tampak memegangi perutnya yang masih datar.
Tok tok tok...
Suara ketukan dari pintu kamar Andira.
"Ya Allah,itu pasti Mas Gilang."
Andira membuka pintu rumahnya.
Ceklek...
Yah, tampaklah suaminya dengan wajah kusutnya.
"Kamu kenapa Mas?" tanya Andira yang tampak mengekori suaminya di belakang.
Gilang membuka dasinya. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya di ranjangnya.
"Aku capek Andira."
Andira duduk di samping suaminya. Andira tidak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan suaminya itu.
Gilang tampak sangat cemas. dan wajahnya kusut. Tampaknya saat ini Gilang sedang menyimpan masalah yang besar namun Andira tidak tahu apa yang membuat suaminya seperti itu.
Mas Gilang kenapa yah? Apa yang terjadi? apakah dia lagi ada masalah sama Maharan**i? Batin Andira
__ADS_1
Gilang masih termenung. Dia masih ingat kejadian waktu dinner bersama Sofi kekasihnya juga.