
Siang ini, Fikri mendapat kabar yang mengejutkan. Perusahaannya itu terancam bangkrut. Fikri benar-benar di buat bingung. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Sepertinya maslahnya kali ini memang cukup serius. Dia sudah terjebak oleh investasi bodong. Dia sudah di tipu milyaran rupiah oleh seorang lelaki yang mengaku adalah pengusaha hebat dan menawarkan investasi dengan keuntungan yang berlipat ganda. Sekarang, Fikri hanya bisa duduk dan menatap jauh ke masa depan.
Bagaimana jika perusahaan yang selama ini di rintisnya itu perlahan-lahan hancur. Dia tidak tahu harus bagaimana. Dan dia juga tidak tahu akan jadi seperti apa, seandainya perusahaannya benar-benar bangkrut. Dia akan membayar karyawannya dari mana. Dana modal di perusahaannya sudah sangat menipis. Fikri tidak boleh berlama-lama lagi untuk menanganinya.
Fikri menatap foto yang ada di depannya. Dia adalah foto Andira istrinya. Sudah lama sekali Fikri memajang foto istrinya itu. Seseorang yang sudah menemani hari-harinya, selama bertahun-tahun.
" Ah, Andira. Pusing sekali aku Andira." Ucap Fikri.
Biasanya, jika Fikri sedang ada masalah, Andiralah yang selalu menghiburnya. Andira yang selalu mendampinginya, dan mendengarkan keluh kesahnya. Namun permasalahan kali ini memang begitu sangat sulit. Jika Andira harus di kasih tahu, mungkin dia juga akan ikut kefikiran dengan nasib perusahaan.
" Tapi aku tidak boleh mengatakan ini ke kamu dan anak-anak." Ucap Fikri lagi.
Tok tok tok..
Suara ketukan dari luar kantor Fikri.
" Masuk...!"
Seseorang karyawan lelaki itu, masuk ke dalam kantor Fikri. Sepertinya dia itu akan melaporkan sesuatu pada Fikri.
" Selamat siang Pak Fikri." Ucap karyawan Fikri.
" Siang. Silahkan duduk...!" ucap Fikri mempersilahkan karyawan kantor yang memegang bagian keuangan.
" Baiklah. " Ucap Karyawan itu.
" Pak Fikri, bagaimana ini Pak...?" Tanya Pak Budi yang sudah sangat takut kehilangan pekerjaan. Karena jika saja perusahaan Fikri bangkrut, Pak Budipun akan terancam PHK.
Fikri hanya bisa menekan-nekan dahinya. Berusaha berfikir dan bersikap tenang.
" Sudah, kamu tenang saja. Saya akan berusaha, nanti saya akan cari pinjaman. Agar perusahaan ini bisa berjalan lagi seperti biasanya." Kata Fikri.
__ADS_1
" Baiklah, Pak. Ini Pak, surat-surat yang harus bapak tanda tangani."
" Terimakasih."
" Kalau begitu saya keluar dulu Pak."
Fikri mengangguk. Setelah itu diapun kembali lagi berkutat dengan laptopnya. Mengecek pemasukan dan pengeluaran uang perusahaan. Ternyata memang sekarang pemasukan dan pengeluaran lebih besar pengeluaran. Dan sepertinya, memang Fikri harus mengurangi karyawan atau PHK.
"Ah, bagaimana ini Andira." Ucap Fikri sembari membelai foto Andira.
Sudah akhir-akhir ini, perusahaan Fikri sudah mengalami penurunan. Perusahaannya saat ini seperti sudah di buat gonjang-ganjing. Fikri tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dan minta bantuan sama siapa lagi.
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu itu membuyarkan lamunan Fikri.
" Silahkan masuk...!" Ucap Fikri.
Seorang wanita berumur tiga puluh tahunan itu masuk.
" Baiklah. Saya akan segera bersiap." Kata Fikri.
Setelah berkata demikian Dina kemudian pergi lagi meninggalkan Fikri di kantornya.
Saat ini, Fikri akan bertemu dengan seorang pengusaha sukses yang tidak tertandingi seperti Arka Wijaya. Dulu Fikri juga seperti Arka Wijaya. Menjadi pengusaha sukses Namun, entah kenapa cobaan demi cobaan datang menghampiri perusahaannya. Sekarang, perusahaan Fikri sedang mengalami gonjang-ganjing. Jika harus ada pengurangan karyawan, Fikri juga tidak enak hati pada karyawan-karyawannya.
Hari ini akan ada meeting besar-besaran di kantor Fikri. Fikri harap, Fikri akan menjalin kerja sama dengan baik dengan pengusaha-pengusaha hebat seperti Arka Wijaya dan Farrel Aditama.
Mereka adalah pembisnis-pembisnis hebat di jaman ini. Arka Wijaya yang masih sepantar dengannya, sementara Farrel adalah lelaki yang masih muda namun kemampuannya dalam berbisnis itu sungguh luar biasa.
Arka Wijaya. Fikri sudah mengenal siapa Arka Wijaya. Arka Wijaya pengusaha hebat dan tidak tertandingi, memiliki cabang perusahaan di mana-mana. Dan Fikri sudah tidak asing lagi dengan Arka Wijaya. Namun Fikri masih penasaran pada seorang pengusaha bernama Farel. Katanya Farel itu pengusaha muda yang sangat di segani usianya juga masih dua puluh lima tahun.Fan Fikri belum pernah melihatnya. Dan sekarang, Farel juga akan datang di meeting penting ini. Fikri akan mengajukan kerja sama kepada kedua orang ini.
__ADS_1
***
Waktu menunjukan pukul. 14.00. Wib. Viona sudah siap-siap mau pulang dengan mamanya. Butik pun sudah Andira tutup. Tidak ada lagi yang di butik. Anna dan Watipun sudah pulang. Sekarang Andira dan Viona sudah masuk ke dalam mobilnya. Mereka pun meluncur menuju untuk pulang.
" Bagamana Viona. Kamu mau pulang, apa mau ke kantor papa. Katanya kamu pengin main juga ke kantor papa?" Tanya Andira pada anak gadis satu-satunya itu. Viona adalah anak perempuan satu-satunya yang Andira dan Fikri punya. Walau bukan darah daging Fikri, tapi Fikri sangat menyayanginya seperti dia menyayangi Zaki. Rafael dan Viona hanyalah ponakan Fikri. Bukan anak kandungnya. Fikri hanya mempunyai satu anak yaitu Zaki. Namun walaupun begitu, Rafael dan Viona juga berhak untuk mewarisi sebagian harta milik Fikri. Dan suatu saat, Fikri akan membagikannya dengan adil pada ketiga anaknya itu.
Viona diam. Dia masih tampak berfikir.
" Baiklah. Aku mau ke kantor papa. Aku juga pengin lihat kantor papa."
" Ya udah. Tapi mama tidak bisa menemanimu masuk ya Nak. Mama itu akan langsung pulang. Kamu nanti pulang bareng papa mu saja yah Nak." Ucap Andira.
Viona hanya mengangguk.
Andira kemudian mengemudikan mobilnya dengan kecepatan normal sampai ke tempat tujuannya. Yaitu kantor Fikri suaminya.
"Sudah, kamu turun sekarang...!" Ucap Andira.
" Iya Ma." Kata Viona mengiyakan.
Viona kemudian turun dari mobilnya. Setelah itu Viona menyalim tangan mamanya.
" Viona masuk dulu yah." Ucap Viona.
" Iya sayang. Hati-hati yah." Ucap Andira.
Viona berjalan ke arah kantor. Sementara Andira itu pergi menuju untuk pulang.
" Wah, ini kantor papa. Kantor papa gede banget yah. Gimana yah kalau besok aku kerja di sini." Ucap Viona sembari mengamati kantor papanya.
Sedari tadi Viona hanya berjalan tanpa memandang ke arah samping depan belakang. Tiba-tiba saja.
__ADS_1
Bruuuk.
" Auh..." Erang Viona, saat tubuhnya menabrak sebuah dada bidang kokoh. Seorang lelaki berdiri tepat di depan Viona. Lelaki itu menatap Viona dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Lelaki itu membuka kaca matanya. Betapa tampan wajahnya. Dia mempunyai tubuh yang tinggi namun tatapannya sungguh menyeramkan. Memang dia itu menyeramkan dan banyak di segani.