Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
Mulai bekerja.


__ADS_3

"Sabar Nak, apa maksud ucapanmu tadi?" tanya Oma Rusti bingung.


Fikri menatap Omanya.


"Sebenarnya, Andira itu adalah orang yang mau di jodohkan dengan Fikri Oma. Tapi karena waktu itu ayahnya Andira sakit, dan dia ingin melihat Andira menikah, jadi Gilang yang menikah dengan Andira, karena urusan Fikri di luar negeri masih banyak. Dan Fikri dan Andirapun waktu itu, belum saling mencintai. Tapi sejak pertemuan pertama ku dengan Andira, aku jadi jatuh cinta sama Andira."


"Nak, kenapa kamu harus jatuh cinta sama adik iparmu? itu salah Nak. Dia itu bukan jodohmu kalau begitu." Kata Opa Dahlan.


Fikri kemudian menatap Opa Dahlan.


"Tapi, Fikri tidak bisa menepis cinta itu dari hati Fikri Opa." Kata Fikri penuh kesedihan.


"Iya, Oma tahu itu. Kamu itu lelaki yang sangat sulit untuk jatuh cinta. Dan sekali jatuh cinta, pada adik iparmu sendiri. Oma tidak menyalahkan mu Fikri. Karena itu hati kamu." Kata Oma Rusti.


"Iya. Hati itu memang tidak pernah bisa di bohongi. Tapi sekarang Andira sudah menjadi milik adikmu. Dan adik mu itu, sepertinya cinta mati sama Andira."


"Tapi dia sudah jahat sama Andira. Dia sudah bohongin Andira terus-terusan. Aku nggak tega sama Andira."


"Iya Fikri. Gilang sudah menghamili seorang gadis, dan dia sengaja pergi dan lari dari tanggung jawab. Gilang itu tidak pantas jadi suami Andira wanita yang baik hati itu." Kata Oma Rusti.


"Ya udah, bagaimana kalau sekarang kita pergi ke Jakarta. Aku mau melihat anak ku. Sudah lama aku tidak bertemu dengan Dian. Aku rindu sama mamamu Fikri." Kata Opa Dahlan.


"Baiklah Opa. Sekarang, bersiaplah."


...****************...


Pagi ini, sinar mentari sudah terbit sempurna. Di dalam kamar sepasang suami istri masih bercanda dan bermesra-mesraan.


"Sayang, gimana menurut kamu penampilanku?" tanya Gilang.


"Kamu udah cakep sekali Mas, tubuh kamu juga sudah wangi." Kata Andira sembari membantu Gilang memasang dasinya.


"Sayang, mulai sekarang, aku akan belajar menjadi suami yang baik untuk kamu sayang."


"Iya Mas."


"Sayang, mulai sekarang, aku akan menjadi pria yang mandiri. Aku tidak mau mengandalkan Kak Fikri dan orang tuaku lagi. Aku akan buktikan kepada mereka, kalau aku juga bisa mandiri tanpa tergantung lagi pada mereka."


"Iya. Aku percaya Mas Gilang, kalau kamu itu sudah berubah." Kata Andira.


Joe yang ada di depan kamar Gilang tampak sedikit mengintip. Karena lagi-lagi Gilang sengaja membiarkan pintu itu terbuka. Supaya ada yang melihat adegan mesra mereka.


"Ah, kurang ajar. Pasti Gilang sengaja lagi nih, pamer kemesraan di depan gue. Gila lo Gilang, istri sebaik Andira, sudah lo bohongi habis-habisan. Mana lagi hamil pula. Benar-benar... Kalau saja, gue tidak banyak berhutang budi pada lo, Gue udah depak lo dari rumah gue Gilang." Geram Joe sembari mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Setelah itu, Joe pun turun ke bawah untuk sarapan.


Gilang melirik ke arah luar kamar.


Ha..ha..gue yakin, Joe pasti iri melihat gue sama Andira. Siapa suruh dia ngejomblo terus dan nggak nikah-nikah. Lama-lama bisa jadi bujang tua kalau suka pilah-pilih cewek. Bisa kayak Kak Fikri. Batin Gilang.


"Mas, ayo kita keluar. Pasti Joe sedang menunggu kita di ruang makan."


"Ayo sayang...!" Kata Gilang sembari merangkul bahu Andira.


Gilang dan Andirapun turun ke bawah untuk menemui Joe.


"Hai Joe...!"Sapa Gilang.


Joe tersenyum.


"Wah, kayak pasangan pengantin baru saja kalian ini. Romantis-romantisan terus. Buat gue iri saja."


Gilang dan Andira saling menatap. Mereka tersenyum pada Joe.


Gilang menarik kursi, dan mempersilahkan istrinya duduk.


"Ayo sayang duduk di dekat aku!" kata Gilang.


Andira kemudian duduk di samping istrinya.


"Maaf yah, Joe, kami jadi ngerepotin kamu di sini."


"Oh, nggak apa-apa Andira. Anggaplah rumah ini seperti rumah kamu sendiri." Kata Joe.


Gilang tiba-tiba saja menyodorkan sendok ke mulut Andira. Membuat Andira jadi bingung sekaligus malu.


"Ayo sayang, buka mulut kamu. Aku mau nyuapi kamu..."


Andira melirik Joe. Joe tampak sedang membuang muka.


Andira kemudian membuka mulutnya.


Aaaa...


Akhirnya Gilangpun menyuapi Andira.


Ha...ha...rasain lo Joe. Lo pasti panas sekarang. Makanya biar lo mikir, kalau punya istri itu nikmat yang luar biasa.Siapa suruh hidup menjomblo terus. Udah nggak punya orang tua, anak tunggal, nggak ada mainan wanita lagi. Malang sekali nasib lo Joe. Batin Gilang.

__ADS_1


Ehem... Joe berdehem.


"Udah dong, Gilang...mesra-mesraannya, gue seperti nyamuk aja di sini." Kata Joe.


"He..he..Maaf ya Joe...Oh iya. Kamu mau makan ya Joe. Biar aku ambilin juga yah. Biar sama kayak Mas Gilang." Kata Andira.


"Bolehlah kalau begitu." Kata Joe.


Joe kemudian menyodorkan piringnya.


"Makasih cantik...!"


Sial. Ah, dia berani menggoda Andira? awas aja dia. Dia belum tahu siapa gue.


Gilang sepertinya tampak cemburu saat Joe menggoda istrinya.


Andira cuma menganggapnya biasa saja.


Andira, Gilang dan Joe kemudian makan bersama. Sekarang Joe dan Gilang telah siap untuk beramgkat ke kantor.


"Andira sayang, Mas pergi dulu yah. Kami hati-hati di sini. Di sini juga ada pembantunya Joe. Kalau kamu butuh apa-apa tinggal bilang saja sama pembantu di rumah ini." Kata Gilang.


"Iya Mas." Kata Andira.


Gilang dan Joe kemudian berangkat bersama ke kantor.


Sekarang Andira sendiri. Dia kemudian, pergi menghampiri pembantunya Joe yang bernama Bik Murni.


"Bik, aku bantuin yah? "


"Nggak usah Bu, saya bisa sendiri kok. Ibu kan katanya lagi hamil, ibu istirahat aja di kamar."Kata Bik Murni.


"Ah, aku malas di kamar. Suntuk banget Bik Murni. Ya udahlah, aku ke taman belakang rumah. Ingin melihat-lihat bunga-bunganya Joe."


"Iya Silahkan Bu."


Setelah itu Andira pergi ke taman belakang rumah.


"Wah, Joe ternyata suka dengan berkebun? Ah, aku kenapa jadi ke ingat Mas Fikri yah. Dia itu orang yang selama ini bisa menghiburku di waktu-waktu Mas Gilang tidak ada. Tapi, untuk menghubunginya saja Mas Gilang tidak membolehkan. Aku harus gimana yah? Bagaimana keadaan Denis dan Andini? apa mereka baik-baik saja yah?" Gumam Andira.


Andira masih tampak asyik menikmati pandangan di halaman belakang rumah Joe. Sementara Joe dan Gilang sudah sampai ke kantor.


"Astaga, gue lupa lagi."Kata Joe sembari memukul keningnya.

__ADS_1


"Kenapa Lo?"


"Gue lupa bawa berlas penting itu Lang. Padahal hari ini akan ada meeting. Dan berkas-berlas itu pentong banget."


__ADS_2