Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
bersama Joe.


__ADS_3

" Terus? " tanya Gilang menatap Joe.


"Gue harus balik lagi ke rumah." Kata Joe.


"Ya udahlah, gue turun dulu." Kata Gilang sembari turun ke luar.


Joe pun, mengikuti Gilang Turun. dia kemudian, memanggil Haris karyawan bagian personalia, untuk mengantarkan Gilang ke ruangannya.


Entahlah, Joe bingung mau memberikan posisi apa ke Gilang. Karena Gilang itu mantan presdir, masa dia akan di tempatkan di karyawan biasa. Joe tidak enak sendiri.


"Ya udah Lang, gue pulang dulu. Lo ikut Haris ke ruangan gue." Kata Joe.


"Oke lah, Bro. Terimakasih banyak." Kata Gilang.


Joe kemudian pergi meninggalkan Gilang. Dia mengemudikan mobilnya sampai ke rumahnya.


Sesampai di rumahnya, Joe langsung bergegas melangkah ke arah dalam.


Dia kemudian melangkah menuju ke ruang kerjanya, mengambil berkas-berkas itu.


"Andira. Lagi ngapain wanitanya Gilang ada di situ?" Kata Joe yang melihat Andira tampak sedang melamun di kebun belakang rumahnya.


Joe menghampiri Andira.


"Hai...nyonya Gilang, lagi ngapain kamu di sini? nggak takut ke sambet melamun sendirian di sini?" Kata Joe berbisik.


Andira menoleh kebelakang.


"Joe, kamu ada di sini? mana Mas Gilang."


Joe melipat tangannya di depan dadanya.


"Kenapa Andira? baru di tinggal sebentar saja, kamu sudah kangen yah sama suamimu?"


"Ha...ha... Nggaklah Joe...! Apaan sih kamu."


Joe tersenyum.


Andira, tawa dan senyumnya manis sekali. Ah, Gilang ini, benar-benar nggak waras, orang sebaik ini tega sekali dia sakiti.


"Andira, ngomong-ngomong, apa boleh, aku ngobrol sebentar dengan kamu?" tanya Joe.


"Bolehlah, kalau kamu lagi nggak sibuk."


"Nggak kok. Aku cuma ngambil berkas ini saja, untuk meeting nanti siang."


"Ya udah. Kita duduk di sana."


Andira dan Joe kemudian duduk di kursi yang ada di dekat taman belakang.


"Gimana Mas Gilang. Apa dia sudah mulai bekerja Joe?" tanya Andira membuka percakapan.

__ADS_1


"Belum Ra. Aku bingung mau nempatin dia dimana. Dia itukan mantan presdir."


"Ah, menurut aku sih, Mas Gilang di tempatkan karyawan biasa saja. Biar belajar lagi dari nol. Kata Mas Fikri, Mas Gilang itu, kerjanya nggak pernah serius Joe...!"


"Oh, iya juga sih yah. Oya Andira. Kamu cinta banget yah sama Gilang? Apa kamu tidak menaruh curiga apa-apa pada suamimu?. Maaf kalau aku agak ikut campur... Aku cuma mau tahu aja. Soalnya, Gilang itu mantan play boy. Takutnya ada kejanggalan gitu di kehidupan keluarga kecil kalian." Kata Joe.


Andira diam. Dia tampak sedih. Yah, memang Andira masih mengingat jelas, bagaimana sosok pelakor yang bernama Maharani itu datang di kehidupannya.


Dia mendatangi rumah Andira dan mengancam mengatakan yang tidak-tidak.


Dan yang kedua, suaminya merangkul mesra wanita berhijab janda satu anak, yang pernah mampir ke butiknya.


Cuma itu yang Andira ingat sampai sekarang. Selebihnya, Andira tidak pernah tahu, wanita mana saja yang sekarang sedang Gilang dekati.


Namun, Andira tidak akan pernah mengatakan ini pada siapapun termasuk orang asing seperti Joe. Dia itu pandai sekali menyimpan aib suaminya di depan orang lain.


Sama Fikri saja dia tidak pernah cerita, mana mungkin sama Joe dia akan bercerita banyak. Andira memang sosok yang tertutup. Tidak ada bedanya dengan Fikri.


"Andira." Ucap Joe.


"Hei... Andira...! kenapa ngelamun lagi...?!" kata Joe lagi.


"Eh, joe, Maaf."


Joe tersenyum lagi. Sepertinya Joe tahu sekarang, dari mata Andira, sudah sangat terlihat, kalau Andira itu sedang menyimpan luka. Tapi entah apa, joe tidak tahu.


Andira menghela nafasnya dalam.


Joe hanya mengangguk. "Oh, begitu...!"


Andira bangkit dari duduknya. Dia kemudian menatap ke arah bunga mawar merah yang ada di pot besar milik Joe.


"Kamu suka mawar merah Joe?" tanya Andira.


"Aku suka berkebun. Aku mirip seperti almarhumah ibu ku. Dia sangat menyukai bunga."


Andira menatap Joe.


"Aku juga suka bunga Joe." Kata Andira.


"Ya udah, kamu petik aja bunga mawar itu satu tangkai."


"Emang boleh?"


"Boleh lah...!"


Andira perlahan-lahan memetik setangkai bunga mawar merah itu.


"Auh..." Pekik Andira saat tangannya terkena duri dari bunga mawar itu.


"Andira kamu tertusuk duri? Coba lihat Andira. Tangan mu berdarah." Kata Joe.

__ADS_1


Joe kemudian meraih jari Andira dan mengemut jari Andira yang masih berdarah.


Andira bingung. Dia bingung sekaligus malu, mendapat perhatian dari Joe. Karena Joe baru di kenalnya dan masih terlihat asing.


"Udahlah, nggak apa-apa Andira. Nanti juga darahnya hilang sendiri. Sakit yah...?" tanya Joe.


Andira menggeleng.


"Makasih." Ucap Andira.


"Nggak perlu sungkan sama aku. Aku ini adalah sahabat dekatnya Gilang. Bahkan sudah seperti saudara sendiri."


"Oh, sahabat waktu kuliah?" tanya Andira.


"Iya Andira. Kami sudah lama bersahabat. Tapi, sejak kecelakaan orang tuaku, aku harus pindah ke Surabaya, untuk meneruskan bisnis orang tua."


"Orang tua kamu sudah meninggal? kalau boleh aku tahu, kenapa?"


"Mereka kecelakaan Andira."


"Oh, maaf yah. Berarti nasib kita sama Joe. Kita yatim piatu."


Joe menatap Andira dalam.


"Kamu, sudah tidak punya orang tua Andira?"


Andira mengangguk."Bundaku baru kemarin meninggal, Sementara ayah ku, dia meninggal setelah aku menikah dengan Mas Gilang."


"Oh, jadi maksud kamu, kamu menikah dengan Gilang itu, karena kemauan orang tua?"


"Iya Joe. Sebenarnya orang tuaku, sudah mau menjodohkan aku dengan Mas Fikri. Tapi berhubung Mas Fikri nggak pulang-pulang, terpaksa Mas Gilang yang menikah dengan aku."


"Terus sekarang, kamu cinta sama dia?" tanya Joe.


"Banget. Dia suami yang paling bisa memanjakan aku, suami yang hangat, humoris, dan romantis." Kata Andira sembari senyum-senyum sendiri.


Aku nggak ngerti ama ini cewek, dia bisa percaya banget sama suaminya. Apa dia tidak pernah menyadari, kalau Gilang itu bukan cowok yang setia?. Apa dia tidak bisa mencurigai suaminya?. Masa suami banyak selingkuhannya wanita ini nggak curiga sedikitpun sih. Batin Joe.


Yah, bukan Andira tidak menaruh curiga, namun dia masih bisa bertahan karena anak yang ada di dalam kandungannya.


Dan sekarang, Andira masih membutuhkan Gilang, sebagai tempatnya berlindung. Anak Andira juga masih butuh ayah. Jadi Andira tidak akan berani macam-macam pada Gilang.


Joe masih menatap Andira dengan perasaan iba. Dia sangat merasa kasihan pada wanita lugu itu.


Entah terbuat dari apa hati Andira. Dia sudah berkali-kali memergoki suaminya, namun dia tidak pernah marah.


Mungkin dia masih bertahan karena bayinya. Walau hatinya perih, dia akan tetap bertahan. Walau lukanya semakin melebar, tapi akan dia tahan. Sampai anak itu lahir.


Namun Andira masih mengharapkan Gilang itu berubah. Dia menginginkan Gilang itu bisa meninggalkan wanita-wanitanya.


Apakah mungkin itu bisa? tapi Andira akan menunggu dan selalu menunggu Gilang berubah.

__ADS_1


__ADS_2