
"Kamu Gilang cucunya Bu Rusti kan?" terka wanita itu.
"Kok kamu bisa tahu nama ku?"tanya Wanita itu.
"Iya. Aku sarah tetangganya Bu Rusti."
"Oh, Sarah?"
"Apa kabar kamu? udah lama yah kamu nggak main ke sini."
"Iya Mbak. Mbak sendiri ngapain tengah malam di sini?"
"Mau beli siomay."
"Mbak lagi ngidam juga?"
"Em, nggak kok. Kata siapa aku ngidam. Sok tahu aja. Cuma lagi pengin somay aja."
"Mbak kesini sama siapa?"
"Sendiri."
"Suami Mbak?"
"Suami kerja di luar negeri. Biasa ikut kapal."
"Oh, pelayaran."
"Iya. Dia kerja di Jepang."
Wah, jadi mbak cantik ini, tetangganya Oma Rusti? dan suaminya lagi nggak ada? tapi ah, aku nggak akan dekatin dia walau dia cantik. Dia kan tetangganya Oma.
Gilang mulai lagi hatinya. Sepertinya kali ini, dia tidak tertarik dengan Sarah. Dia lebih tertarik dengan Ayana.
"Kamu sendiri mau beli siomay untuk siapa?"
"Iya. Aku mau beli siomay untuk istriku. Dia lagi hamil."
"Oh, ya udah ini aja buat kamu."
Gilang diam.Dia takut ragu-ragu untuk menerimanya.
"Udahlah, terima saja. Nanti anak kamu ileran kalau sampai nggak di kasih sekarang."
"Makasih yah." Gilang pun akhirnya menerima siomay dari Sarah.
...****************...
Ayana calling.
Gilang dengan antusias mengangkatnya.
"Halo Mas, masih ingat aku nggak?"
__ADS_1
"Em, siapa yah?"
"Ah, jangan pura-pura lupa. Kan kemarin kita baru kenalan. Dan tukeran nomer hape."
"He...Iya sayang. Kangen ya."
"Ih, apaan sih. Pangil-pangil sayang. Sekarang kamu lagi di mana Mas?"
"Lagi di rumah sayang."
"Hem, udah mau istirahat yah?"
"Hemm. Iya aku udah ngantuk."
"Ya udah deh, maaf yah,ganggu."
"Nggak apa-apa sayang. Lain kali aku telpon balik yah?"
"Iy. Bye..."
"Bye..."
Gilang pun kemudian melanjutkan menyetir. Namun tiba-tiba nada dering ponselnya berdering lagi.
Indri memanggil. Namun Gilang abaikan. tiga pangilan tak terjawab dari Indri.
Dan lagi-lagi bunyi ponsel Gilang berdering. Sofi memanggil. Gilang pun abaikan.
Dan terakhir Maharani.
"Mas, kamu di mana sih? di chat nggak pernah di balas. Di telpon hapenya nggak aktiv."
"Maaf sayang... Aku lagi sibuk."
"Sibuk apa? sibuk sama istri kamu yang nggak berguna itu?"
"Jangan ngomong gitu dong Ran,dia itu juga lagi hamil anak aku."
"Kenapa sih kamu harus hamilin istri kamu. Suruh istri kamu gugurin aja kandungannya. Terus kalian bisa cerai kan?"
"Sayang, nggak segampang itu dong..."
"Sampai kapan aku harus nunggu kamu Mas. Kamu kan janji waktu itu, sebelum menikah, kamu akan secepatnya menceraikan Andira. Kenapa keburu sampai hamil sih."
"Maaf sayang...Maaf."
"Kamu udah mulai cinta sama dia?"
"Nggak kok sayang, aku nggak cinta sama Andira. Aku cuma cinta sama kamu" Bohong Gilang.
Dulu Gilang memang terpaksa menikahi Andira. Namun, seiring berjalanya waktu, Gilang mulai jatuh cinta pada Andira. Gilang jatuh cinta saat pertama kali menyentuh Andira. Dan di dalam pernikahannya, Gilang baru memberikan haknya setelah dua bulan bulan pernikahannya. Gilang baru menyentuh istrinya. Dan memberikan nafkah batin untuk Andira sampai sekarang.
Justru, dengan adanya Maharani, Gilang merasa terus terancam hubungannya dengan Andira. Lagi-lagi, Maharani memaksanya untuk menikahinya. Seandainya dulu Gilang tidak memberikan harapan pada Maharani, mungkin sampai sekarang, Maharani tidak mengejar-ngejarnya terus.
__ADS_1
"Ya udah Ran, aku ngantuk. Aku tutup dulu telponnya."
"Ya udah sayang. Aku juga sudah ngantuk."
Tut. Gilang menutup telponnya. Setelah itu dia merenung membayangkan kejadian satu tahun yang lalu. Bagaimana dia menetang untuk menikahi Andira.
...****************...
Flash back on.
"Gilang, kita akan ke rumah sakit Nak. Kamu harus ikut." Kata Bu Dian.
"Apa? ke rumah sakit? untuk apa?" tanya Gilang Bingung.
"Nak, ini kondisinya sudah mendesak. Tidak bisa di tunda-tunda lagi." Kata Pak Danu.
"Apa maksud kalian?" tanya Gilang belum mengerti.
"Kamu harus menggantikan Fikri kakak kamu untuk menikahi Andira." jawab Pak Danu.
"Apa? Aku nggak mau. Kenapa harus aku. Kan Andira calonnya Kak Fikri. Kalian apa-apaan sih. Maksa-maksa gitu. Aku nggak cinta sama Andira. Aku juga sudah punya pacar." Ucap Gilang menolak.
"Tapi Nak. Tolonglah kami. Pak Randi adalah sahabat baik papa. Dia sekarang sedang sekarat. Dia berpesan pada papa, dia ingin melihat putrinya itu menikah di depannya. Jadi mana mungkin Andira bersama Fikri. Fikri masih banyak tugas di luar negeri. Lagian Fikri juga belum pacaran sama Andira dan belum pernah ketemu Andira. Fikri pasti ikhlas jika kamu sama Andira." Ujar Pak Heru.
"Iya Nak, turuti apa kata papa kamu. Ayolah sayang, mama nggak mau mengecewakan keluarga mereka."
"Tapi Ma, Pa, "
"Gilang, papa tegaskan sekali lagi, putuskan pacar kamu dan menikahlah dengan Andira. Jika tidak, papa tidak akan menganggapmu anak lagi, dan silahkan kamu angkat kaki dari rumah ini."
Gilang diam. Jika itu sudah keputusan papanya, itu berarti sudah tidak bisa di tolak. Gilang biasa hidup mewah, bisa gonta-ganti mobil dan motor, semua itu juga uang dari papanya.
Gilang bisa foya-foya dan bersenang-senang itu semua karena kekayaan orang tuanya. Seandainya Gilang harus di usir dan tidak di anggap anak, pasti hidup Gilang akan sangat menderita. Dia akan menjadi gembel di jalanan. Dan mungkin saja tidak akan ada wanita yang mau berhubungan dengannya lagi.
"Baiklah pa. Kalau begitu Gilang mau."
Tanpa fikir panjang lagi, Gilang pun mau menuruti orang tuanya untuk menikahi Andira.
Nggak apa-apa deh, Andira juga cantik. Nggak jelek-jelek amat. Jika aku pamerin sama teman-temanku juga nggak akan malu-maluin kok.
Gilang sekarang berpakaian resmi ala pengantin. Gilang dan orang tuanya menuju ke rumah sakit untuk acara ijab qobulnya.
Sementara di rumah sakit, Andira sudah memakai kebaya pengantin.
Andira sudah harap-harap cemas Menunggu Gilang dan penghulu datang. Mudah-mudahan waktu ayahnya masih panjang. Syukur-syukur setelah pernikahannya itu, ayah Andira akan sembuh dan bisa kembali pulih dari penyakit ganas itu.
"Duh, Mas Gilang kenapa nggak datang-datang sih Bun? " Kata Andira cemas.
"Sabar Nak.Sebentar lagi juga mereka datang. Mungkin lagi kena macet." Kata Bunda Andira.
Andira, Bunda Andira, dan kedua adik Andira sudah tampak bersiap untuk menyaksikan Andira menikah. Yah, menikah dengan Gilang orang yang sama sekali tidak pernah di cintainya. Ngobrolpun jarang, ketemu juga baru tiga kali.
Jantung Andira berdegup kencang. Dia tidak pernah membayangkan sebelumnya, kalau ijab qabul pernikahannya itu, akan di adakan di rumah sakit.
__ADS_1
Andira masih gugup. Walaupun pernikahannya itu cuma di hadiri orang terdekatnya, tapi Andira gugup dan bingung. Bagaimana caranya dia bisa hidup dengan lelaki yang belum pernah di kenal sebelumnya. Akan seperti apa rumah tangganya nanti.