Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
kecemasan Gilang.


__ADS_3

Andira sekarang sudah berbaring di kamarnya bersama Gilang.


"Sayang, aku pengin anak kita nanti cowok."Kata Gilang.


"Sama, aku juga penginnya cowok dulu. Biar nanti bisa jagain adik nya yang cewek."


Sembari berbaring Gilang mengelus perut Andira.


"Wah, rasanya Mas udah nggak sabar sayang pengin melihat anak ini lahir. Seperti apa yah wajahnya?"


"Pasti akan mirip kamu Mas.Cakep."


Gilang menarik hidung Andira.


"Apaan sih Mas. Sakit tahu!"


"Mas itu gemes banget tahu sih punya istri seperti kamu. Mas sangat beruntung dan bahagia banget bisa mendapatkan kamu." Kata Gilang.


Andira tersenyum.


Yah, sangat beruntung bagi Gilang, karena Andira wanita yang gampang sekali di bohongi dan di bodohi oleh lelaki seperti Gilang.


Gilang dan Andira pun sama-sama terlelap.


drrrt...drrrrt...


Getaran ponsel Gilang mengejutkan Gilang. Gilang terbangun.


Papa calling.


"Halo..." Ucap Gilang dengan berbisik. Dia takut istrinya bangun. Karena Andira baru saja terlelap.


"Di mana kamu Gilang? kenapa hape mu nggak aktif. Dan, di rumah kamu juga sepi. Kamu di mana sekarang?"


"Pa, ada apa sih, malam-malam gini nelpon?"


"Gilang, kamu harus jawab dengan jujur. Apa benar kamu telah menghamili wanita yang bernama Sofi?"


Deg. Jantung Gilang berdegup kencang. Dia menegak salivanya.Dia masih belum percaya kalau papanya juga tahu hal itu.


Gilang langsung keluar kamar dan mencari tempat aman untuk bercakap dengan papanya.


"Pa, apa maksud Papa? Gilang setia sama Andira. Bagaimana mungkin aku menghamili wanita lain, sementara aku sudah jatuh cinta sama Andira Pa."


"Gilang, Papa pengin kamu jujur. Kamu nggak usah bohong lagi sama Papa."


"Pa, Gilang nggak bohong. Gilang nggak kenal sama yang namanya Sofi. Mungkin saja yang namanya Sofi itu mau menjebak Gilang dan mau menghancurkan rumah tangganya Gilang."


"Ya udah kalau gitu. Sekarang kamu pulang! dan jelasin pada orang tuanya Sofi. Biar masalah ini kita bereskan bersama."


"Gilang nggak bisa. Gilang sekarang lagi di luar kota sama Andira."


"Apa, di luar kota? Di mana kamu sebenarnya?"

__ADS_1


"Pokoknya Gilang nggak mau pulang. Dan Gilang juga nggak mau bertanggung jawab dengan ke hamilan wanita itu Pa. Gilang nggak kenal sama dia, apa lagi sampai menghamilinya. Gilang itu cuma korban fitnah saja."


"Apa yang kamu katakan bisa papa percaya Gilang?"


"Gilang itu memang playboy Pa. Tapi itu dulu. Sejak Gilang menikah, Gilang sudah berubah Pa. Gilang nggak pernah berhubungan lagi sama cewek manapun."


"Tapi Nak, Papa bingung. Mereka akan menuntut kamu Gilang."


"Pokoknya Gilang tetap nggak mau tanggung jawab. Papa seharusnya mikir dong. Aku masih punya Andira. Dia lagi hamil. Masa papa tega suruh aku nikah sama wanita yang nggak jelas, yang cuma ngaku-ngaku doang. Gilang nggak mau pulang. Gilang juga nggak mau tanggung jawab.Orang Gilang nggak ngerasa tidur sama siapapun kecuali sama istri Gilang."


"Tapi Nak."


Tut.


Gilang memutuskan telponnya.


Papa Gilang membasuh wajahnya kasar. Dia kemudian tampak berfikir.


Benar juga yah, kalau sampai Gilang menikahi sofi, bagaimana perasaan menantuku. Dia kan lagi hamil, dan baru kehilangan ibunya. Kasihan dia.


Sementara di sisi lain, Gilang masih berfikir keras. Dia tidak ingin kabar ini sampai ke telinganya Andira. Dia tidak mau kehilangan Andira dan anak yang di kandung Andira. Gilang masih ingin bertahan dengan Andira.


"Duh gimana ini?"Gilang terlihat cemas.


"Mas."Ucap Andira tiba-tiba membuat Gilang terkejut.


Andira menoleh kebelakang.


"Barusan kok. Lagi ngapain mojok di sini, nggak takut malam-malam di bawah pohon besar begini?"


Gilang dengan sigapnya langsung memeluk Andira.


"Sayang, Mas cinta sama kamu. Tolong jangan tinggalin Mas sayang, apapun yang terjadi. Mas tidak bisa hidup tanpa kamu. Tanpa cinta kamu sayang."


"Iya Mas. Aku janji. Kamu kenapa ngomong itu terus sih."


Gilang kemudian melepaskan pelukannya. Dia menangkup wajah Andira. Dia kemudian mencium kening dan ke dua pipi Andira.


"Makasih yah sayang."


"Iya. Asal Mas janji yah, jangan nikah lagi. Aku pengin jadi istri satu-satunya. Aku nggak mau berbagi suami dan nggak mau berbagi cinta."


"Iya sayang. Mas janji akan setia sama kamu. Mulai dari sekarang. Kita buka lembaran hidup baru di sini. Mas dan kamu sementara akan tinggal di sini. Nemenin Oma sama Opa."


"Oya Mas. Mas itukan suamiku, Jadi sudah seharusnya aku mematuhi semua yang kamu perintahkan dan mengikuti kemanapun imam ku pergi."


Gilang tersenyum. Dia kemudian merangkul Andira untuk masuk ke dalam.


"Sayang, kenapa kamu terbangun?"


"Karena aku pengin sesuatu Mas. Anak kita lagi pengin sesuatu."


"Sesuatu apa sayang?"

__ADS_1


"Nggak aneh-aneh kok. Aku cuma pengin siomay. Tapi ada nggak yah, siomay jam segini."


"Ada. Di alun-alun. Di sana kan banyak macam-macam orang jualan."


"Oya? ya udah, belikan Mas."


"Apa kamu mau ikut? Andira?" tanya Gilang.


"Boleh deh aku mau."


Gilang dan Andira kemudian bersiap-siap untuk pergi mencari pedagang siomay.


"Kalian mau kemana?" tanya Oma Rusti.


"Mau nyari siomay Oma." jawab Gilang.


"Ya udah. Biar Gilang aja yang nyari. Andira nggak usah ikut. Pamali wanita hamil keluyuran malam-malam." Kata Oma Rusti.


Andira menghela nafasnya dalam. Padahal sebenarnya dia pengin ikut. Sudah lama juga suaminya tidak ngajakin dia jalan. Apalagi ke alun-alun kota. Namun karena Andira tidak enak dengan Omanya Gilang, jadi Andira cuma bisa menurut saja.


"Ya udah deh Oma, nggak apa-apa. Aku di rumah saja."


"Iya. Biar Oma temanin kamu ya Nak." Kata Oma Rusti.


Setelah itu Gilang pun pergi meluncur untuk mencari Siomay.


...****************...


Gilang masih menyetir mobilnya. Namun di tengah jalan, dia melihat ada pedagang siomay yang masih mangkal di pinggir jalan.


"Ah, syukurlah. Nggak usah ke alun-alun. Ternyata itu juga ada orang jualan siomay."


Gilang kemudian turun dari mobilnya.


"Mang,siomaynya Mang." Ucap Gilang.


"Yah, Maaf Mas. Siomay nya sudah habis." Kata Paman tukang siomay.


"Yah, kok habis sih Mang."


"Ini kan udah jam sepuluh malam. Saya jualan kan udah sejak sore. Terakhir mbak ini yang beli."


Gilang menoleh ke arah seorang wanita yang sedang berdiri di sampingnya.


Cantik cewek ini. Tapi aku nggak suka. Penampilannya norak banget. Masih cantik Andira. Tapi kalau dia nggak pakai daster , dan pakai baju modis kayak Maharani, mungkin dia pasti akan kelihatan cantik.


Gilang masih mengamati cewek yang ada di sampingnya itu.


Cewek itu memandang Gilang.


"Gilang." Ucap wanita itu membuat Gilang tersentak.


Gilang gugup sekaligus malu. Ternyata cewek itu mengenalnya.

__ADS_1


__ADS_2