
"Oh. Gitu yah. Ya udah. Terimakasih."
Tut. Fikri kemudian menutup telepon nya.
"Oh. Jadi Andira sama Joe." Kata Fikri.
...****************...
Pagi ini Joe akan mengantarkan Andira pulang ke Jakarta. Dia sudah siap untuk mengantar Andira pulang.
Joe membawakan barang Andira dan di naiakn barang-barang itu ke mobilnya.
"Bik Imah. Saya pergi dulu yah."
"Iya Non. Hati-hati. Nanti kalau sudah sampai Jakarta kabarin yah."
"Iya Bik"
Andira kemudian masuk ke dalam mobilnya. Di ikuti Joe yang masuk juga. Setelah itu merekapun meluncur untuk pergi ke Jakarta.
"Andira. Kamu mau pulang ke mana? Mau pulang ke rumahmu atau ke rumah mertuamu."
"Aku pulang ke rumah ajalah. Kasihan adik-adik ku."
"Ya udah aku pasti akan antar kamu yah."
Sesampai di Jakarta, tidak sengaja Joe dan Andira melihat Gilang bersama Maharani.
Andira tampak emosi sekali.
"Sabar Dir."
"Joe. Itu Mas Gilang sama Maharani kan?"
"Kamu udah pernah kenal dan melihat Maharani yah?"
"Iya. Dia itukan selingkuhannya suami ku, yang tempo lalu datang dan ngancam- ngancam aku. Ini nggak bisa di diamin. Mas Gilang udah benar-benar kelewatan sekarang."
Andira buru-buru turun dari mobilnya. Dia kemudian melangkah menuju ke arah suaminya.
"Oh...jadi ini yang kalian lakukan di belakang aku Mas. "
Gilang dan Maharani menoleh ke arah Andira.
"Duh. Perang dunia ke tiga sudah di mulai. Ayo Dir. Aku di sini. Tunjukan kalau kamu itu kuat. Jangan jadi wanita yang lemah. Aku akan selalu mendukungmu."
Plak...
plak...
Andira menampar pipi Maharani dua kali.
"Heh, pelakor. Sekarang kamu bisa menang. Karena kamu sudah bisa merebut suami orang. Tapi kamu jangan pernah berharap, kamu akan bisa hidup bahagia selamanya di atas penderitaan orang"
Maharani masih memegangi pipinya yang memerah.
"Heh, Andira. Kenapa kamu menamparku. Kamu aja yang jadi istri nggak pernah becus ngurusin suami. Makanya suami kamu cepat berpaling."
"Heh, Maharani. Jaga mulut kamu yah. Bukan aku yang tidak becus ngurus suami. Tapi lelaki brengsek ini yang sudah banyak mempermainkan wanita. Ingat yah kalian berdua. Karma itu ada. Jangan main-main kalian dengan dosa. Aku tahu apa yang kalian perbuat selama ini. Kalian sudah sering berbuat mesumkan di belakang aku. Aku tahu semuanya."
Gilang hanya bisa diam.
"Apa maksud kamu"
__ADS_1
"Emang kalian kira aku itu wanita bodoh yang bisa terus-menerus di bodohi. Kalian itu mestinya punya otak dong. Walau aku diam, tapi aku tahu semuanya "
Andira menatap Gilang dengan tatapan Nanar.
"Aku juga tahu Mas. Kalau kamu telah menghamili wanita bernama Sofi, dan sekarang kamu lemparkan semua kesalahanku itu pada kakak ku sendiri. Benar-benar lelaki biadab kamu Mas."
"Kamu ke...ke..Napa bisa tahu semuanya Andira."
Andira kemudian mengambil ponselnya.
"Lihat ini. Ini ponsel baru aku. Dan aku tahu semuanya dari Kak Fikri. Puas kamu Mas Gilang. Puas kalian berdua sudah membohongiku selama ini. Sekarang, terserah kalian mau ngapain saja. Aku sudah tidak perduli. Setelah anak ini lahir, bersiaplah Mas. Kita akan bertemu di pengadilan."
Setelah menuntaskan semua unek -unekanya
Andira pun pergi dan kembali ke mobil.
Setelah itu Joe dan Andira pun melanjutkan perjalanan.
"Ah, kenapa bisa ketahuan gini sih "
"Kenapa kamu Mas."
"Andira Ran. Andira sudah tahu semuanya."
"Ya bagus dong."
"Apa. Kamu bilang bagus,?"
"Iya. Itu Artinya hidup kita akan tenang Mas. Tanpa gangguan dari Andira lagi. Kita akan jadi suami istri yang sesungguhnya. Kalau Andira ceraikan, kita bisa menikah secara hukum negara."
Gilang menghela nafasnya dalam. Yah, dia kecewa sekali dengan keputusannya menikahi Maharani. Dia sekarang sudah harus siap kehilangan Andira istri terbaiknya dan anaknya. Dan bisa juga dia akan jadi orang miskin bersama Maharani, karena Gilang tidak akan berani pulang ke rumahnya.
...****************...
"Andira. Kamu hebat sekali tadi. Kamu bisa melawan Maharani."
"Aku kesal Joe. Sudah berkali-kali aku di bohongi terus."
"Kamu udah nyadar sekarang. Dan kamu udah tahu, kalau Gilang itu telah menghamili seorang gadis."
"Iya. Aku tahu dari Kak Fikri."
"Sabar yah Dir."
"makasih ya Joe. Kamu udah mau bantuin aku untuk selama ini "
"Iya Andira. Sama-sama."
...****************...
Setelah kejadian itu, Andira dan Gilang sudah tidak pernah bertemu lagi.
Andira memutuskan untuk hidup sendiri bersama dengan calon buah hatinya. Dan waktu tak terasa, sekarang usia kandungan Andira sudah menginjak sembilan bulan.
Andira masih ada di ruangannya. Yah, ruangan tempat di mana Andira biasa menghabiskan waktu- waktunya untuk sendiri di butiknya.
Drrrrt...drrrt...
Suara deringan hape Andira. Andira kemudian mengangkatnya.
"Andira. Istriku... Andira... hiks...hik..."
Fikri tampak menangis.
__ADS_1
" Istri kamu kenapa Mas?"
"Istriku meninggal."
"Inalilahi wainailaihirojiun, Sofi meninggal Mas.?"
"Iya Andira. Dia meninggal setelah operasi Caesar."
"Jadi, Sofi meninggal setelah melahirkan."
"Iya Andira."
"Ya ampun Mas. Yang sabar yah."
"Iya. Andira."
"Dan apa jenis kelamin anaknya Mas Gilang?"
"Dia laki-laki Andira "
"Tapi bayinya sehat kan?"
"Bayinya juga kondisinya sangat lemah Andira."
"Ya udah. Nanti aku akan ke sana yah Mas."
"Nggak usah Andira.Kamu lagi hamil besar. Kamu nggak boleh bolak-balik. Nanti kamu bisa kecapean."
"Nggak apa-apa Mas. Aku pengin melihat bayinya Mas Gilang."
"Ya udahlah dia mirip sama Gilang Ra."
"Oya. Berarti dia mirip juga dong sama kamu. Bukankah kalian berdua sangat mirip. Seperti saudara kembar saja. Selamat yah. Pak Fikri sekarang anda sudah menjadi seorang ayah."
"Kenapa kamu memberi selamat ke aku. Sejak kapan aku menjadi seorang ayah. Menyentuh perempuan aja aku nggak pernah."
"Oh yah. Lalu istrimu."
" Andira. Aku nikah sama Sofi, itu cuma bohongan Ra. Setelah Sofi melahirkan kita sudah sepakat akan bercerai."
"Benar-benar gila kalian itu yah "
"Gila kenapa? Orang kami nggak pernah saling mencintai."
"Ya udahlah, terserah kamu saja. Kalau begitu aku tutup dulu yah telponnya. Aku mau bantuin Anna. Kayaknya toko aku sudah mulai ramai. Kasihan Anna dan Wati. Mereka tampak keteteran."
"Iya. Semoga sukses terus yah sayang..."
"Apa? sayang?"
"Ups. Maaf. Keceplosan lagi Andira."
"Huh, ada-ada aja mas Fikri."
Setelah bertelponan Andirapun dengan oerlahan menuruni anak tangga. Dia masih kepikiran dengan kabar meninggalnya Sofi.
Yah, walaupun dia tidak terlalu dekat dengan Sofi, tapi dia iba juga pada Sofi. Dia harus hamil di usia muda dan harus meninggal setelah melahirkan anaknya.
...****************...
🙁🙁😁
Author mau nanya nih, ini kalian maunya apa. Mau ini cerita di perpanjang apa mau di perpendek...
__ADS_1
Ini kan cerita ide dari pembaca. Pembaca maunya Fikri ya nanti author satuin Fikri dengan Andira.