Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
Kehamilan Sofi.


__ADS_3

Flashback on.


Malam ini, adalah malam yang sangat menyulitkan untuk Gilang.


Seorang gadis sembilan belas tahun, tiba-tiba saja mengajaknya dinner dan dia tiba-tiba saja meminta pertanggung jawaban pada Gilang.


"Mas, aku hamil Mas. Aku hamil anak kamu." Ucap Sofi.


"Apa? mana mungkin Sofi kamu hamil. Kitakan baru berhubungan dua bulan Sofi."


"Tapi ini nyata Mas. Aku hamil anak kamu. Akupun tidak pernah berhubungan dengan lelaki manapun, kecuali kamu."


"Aku nggak bisa Sofi. Aku yakin itu bukan anak aku. Mungkin kamu pernah menjalani hubungan dengan pria lain."


"Aku bersumpah Mas, kalau ini darah daging kamu. Kenapa kamu tidak percaya sih! Aku pengin kamu nikahin aku Mas. Kamu harus tanggung jawab!."


Gilang menggeleng


"Tidak Sofi, aku tidak bisa bertanggung jawab. Maafkan aku?"


"Tapi kenapa Mas? Bukannya kita saling mencintai?"


"Maafkan aku Sofi, aku sudah membohongimu. Sebenarnya aku itu sudah punya istri Sofi."


Deg. Hati Sofi bagaikan tertancap pisau tajam, sangat nyeri rasanya, mendengar penuturan dari Gilang kalau Gilang itu sudah beristri.


" Apa, kamu sudah punya istri Mas! terus kenapa kamu bohong selama ini? aku fikir kamu itu belum menikah."


Sofi menangis tersedu-sedu. Dia belum bisa menerima semua kepahitan ini, kalau ternyata, Gilang lelaki yang di cintainya itu sudah beristri. Dan dia tidak mau bertanggung jawab dengan anak itu. Padahal jelas-jelas Gilang telah beberapa kali mengajaknya kencan dan mengajaknya menginap di hotel.


"Sudahlah Sofi, jangan menangis! Kalau bisa, kamu gugurin aja kandungan kamu itu."


"Kamu sudah menghancurkan ku Mas. Menghancurkan masa depan ku. Kenapa kamu lakukan itu. Kamu renggut kesucianku. Dan sekarang kamu buang aku selayaknya sampah. Tega sekali kamu." Ucap Sofi. Air matanya menetes sangat begitu derasnya.


Gilang tiba-tiba saja menghilang dari pandangannya.


Sekarang Sofi masih terduduk sendiri. Dia tidak tahu dengan apa yang akan terjadi pada masa depannya. Yah, mungkin Sofi akan menjadi bahan olokan orang kalau dia hamil di luar nikah. Mungkin dia akan jadi gunjingan anak sekampus jika sampai mereka tahu kalau Sofi hamil.


"Ya Allah, aku takut. Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku katakan pada Mama dan Papa. Aku ini hamil di luar nikah. Dan lelaki yang menghamiliku, tidak mau bertanggung jawab karena dia sudah beristri. Hiks...hiks..."


Sofi menangis.

__ADS_1


Flash back Off.


Gilang masih melamun. Andira tersenyum.


"Kenapa Mas, ada masalah apa? kenapa kamu melamun aja dari tadi?." tanya Andira.


Gilang menatap Andira lekat.


"Sayang, aku nggak apa-apa. Kamu nggak perlu khawatir. Aku mencintai mu sayang. Tolong berjanjilah padaku , untuk selalu setia denganku." Ucap Gilang.


Andira mengangguk.


"Berjanjilah, untuk tidak meninggalkan aku apapun yang terjadi." Kata Gilang.


Lagi-lagi Andira mengangguk.


"Iya Mas, aku juga mencintaimu."


"Baiklah, kamu cantik sekali Andira, apakah sedari tadi kamu menunggu ku?"


Andira mengangguk.


"Oke bagus. Aku mau mandi dan bersiaplah kamu sayang, aku akan memberikanmu kepuasan malam ini, tanpa menyakiti anak yang ada di dalam perutmu. Aku akan lakukan dengan hati-hati." Ucap Gilang.


Gilang kemudian pergi ke kamar mandi. Dia buru-buru untuk mandi.


Sementara di ranjang, Andira tersenyum bahagia, tanpa dia tahu, kalau ternyata di luar sana ada seorang wanita yang sedang mengandung anaknya Gilang juga.


...****************...


Andira masih dengan wajah berseri-seri. Dia sudah mengenakan gamis dan hijabnya. Dia siap untuk meluncur ke butiknya.


"Bu, kelihatanya ibu ceria banget Bu, hari ini?" Kata Mbak Muti.


"Ah, Mbak ini, biasa aja kali Mbak. Dari kemarin-kemarin juga aku seperti ini. Iya, hidup itu harus di buat happy. Sudahlah, nggak usah banyak fikiran apa-apa." Kata Andira. Setelah itu dia duduk di ruang makan.


"Mbak, udah buatin aku susu belum?"


"Belum Bu. Habisnya ibu lama keluarnya. Keburu susunya dingin."


"Ya Udah, sekarang buatin yah? aku mau langsung ke butik."

__ADS_1


"Iya Bu."


"Oya Mbak. Tadi pagi, Pak Gilang makan apa?" tanya Andira.


Yah, dari tadi pagi, Andira memang mengurung diri di kamar. Itu semua karena perutnya terasa mual lagi. Sehingga dia tidak bisa menemani suaminya makan.


"Ah, biasa Bu, ngabisin nasi kemarin. Aku buatin aja Pak Gilang nasi goreng. Tapi nampaknya, Pak Gilang itu lahap Bu makannya." Jawab Mbak Muti.


Andira tersenyum. Yah, lagi-lagi dia melupakan kalau suaminya itu pernah menyakitinya. Entahlah hati Andira terbuat dari apa. Dia melihat suaminya bermesraan di pinggir jalan dengan wanita lain, dia cuma bisa menangis saja. Tanpa dia melabrak suaminya itu.


Dan sekarang, dia juga sudah memaafkan semua kesalahan suaminya. Dan akan menunggu suaminya itu menyadari semua perbuatannya. Namun sampai kapan? akankah Gilang bisa berubah.


"Aku senang Mbak. Akhir-akhir ini, Mas Gilang itu, jadi betah di rumah. Benar apa kata Mas Fikri. Mas Gilang akan betah di rumah kalau melihat istrinya cantik."


Mbak Muti tersenyum sembari menguber susunya.


"Yah, memang seharusnya begitu Bu." Kata Mbak Muti sembari melangkah ke arah majikannya itu.


"Aku akan selalu memaafkan kesalahan suamiku mbak. Mungkin saat ini, dia sedang khilaf. Tapi suatu hari aku yakin, dia pasti akan berubah."


Ah, ibu ini ternyata orang yang berhati mulia. Jelas-jelas suaminya jarang di rumah, malah dia mau memaafkan. Kalau aku jadi ibu sih, udah kabur dari pertama Maharani datang ke sini. Batin Mbak Muti.


Andira kemudian meminum susu hamilnya itu. Setelah itu, dia meraih tas kecilnya dan melangkah keluar. Dia menyambar kunci mobilnya dan meluncur pergi.


Andira menyetir mobilnya.Dia menuju ke butik. Namun kali ini, Andira melewati jalan pintas untuk menghindari kamacetan. Tiba- tiba saja Andira menabrak seorang lelaki. Entah kenapa tiba-tiba saja lelaki itu menyebrang dengan tidak hati-hati. Andira terkejut. Dia kemudian turun dari mobilnya dan mau membantu lelaki itu.


" Aduh Mas, maaf...aku nggak sengaja." Ucap Andira penuh sesal. Dia memang tidak sengaja menabrak orang itu.


Orang itu tampak kesakitan, membuat Andira panik sendiri.


" Mbak. Gimana sih? kalau jalan tuh lihat-lihat dong!" Kata seorang lelaki yang tiba-tiba datang menghampiri Andira.


Andira panik.


"Maaf aku kan udah bilang, kalau aku nggak sengaja..." ucap Andira tampak kesal.


"Mbak harus ganti rugi dong! Kasihan nih teman saya." Kata lelaki yang baru datang itu lagi.


"Iya saya akan ganti rugi."Kata Andira.


"Baiklah." Kata lelaki itu

__ADS_1


"Ayo mas-masnya masuk ke mobil. Saya akan antarkan kalian ke rumah sakit."


"Nggak perlu Mbak. Kita mau uang saja." Kata lelaki yang di tabrak.


__ADS_2