Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
membawa Andira pergi.


__ADS_3

Sore ini, Gilang tampak sedang mengepaki barang-barang yang akan di bawanya pergi.


"Mas, banyak sekali barang-barang yang akan kita bawa." Kata Andira.


"Iya sayang, Kita akan lama di sana."


"Kok gitu Mas, terus gimana dengan butik ku?"


"Ya, serahkan saja sama Dini dulu."


"Dini kan masih sekolah Mas, kalau sore dia juga kerja kan. Dia juga masih remaja."


"Sudahlah Andira, patuhi saja apa kata suami mu ini. Menurutlah dan jangan jadi istri yang membangkang dan melawan sama suami.!"


"Iya Mas, Maaf."


Andira akhirnya tidak bertanya macam-macam lagi. Dia menurut saja dengan apa yang Gilang perintahkan.


Andira masih berdiri di belakang suaminya. Dia cuma bisa mengamati suaminya saja. Karena sedari tadi dia memang pusing kepalanya.


Setelah selesai mengepaki barang-barangnya, Gilang menyeret kopernya keluar. Gilang membawa semua pakaian Andira. Membuat Andira jadi bingung.


"Sebenarnya Mas Gilang mau kemana sih? kenapa semua bajuku di bawa semua." Gumam Andira pelan.


Gilang mengangkat kopernya ke bagasi mobil. Dan dia juga membawa barang-barang yang lain.


"Kita mau kemana sih Mas, sebenarnya? Kenapa semua baju-baju ku di bawa semua. Kita mau pindah rumah?" tanya Andira.


"Andira, aku nggak suka kamu dekat dengan kakak ku. Aku ini lelaki Andira, aku tahu kalau Mas Fikri itu tertarik padamu." Kata Gilang membuat alasan.


Padahal sebenarnya bukan itu alasan Gilang. Gilang akan membawa Andira ke tempat yang jauh, supaya dia bisa bebas pacaran dengan wanita manapun, tanpa harus Andira tahu.


Karena bagaimana pun juga, Gilang mencintai istrinya dan tidak mau di pernikahanya itu ada yang namanya perceraian.


Setelah itu Gilang membawa Andira pergi dari rumanya. Itu semua tanpa sepengetahuan keluarganya.


Yah, sekarang Gilang akan meluncur ke Surabaya. Mungkin dia akan membawa Andira ke kampung halaman mamanya, yah di Surabaya.


Lelah sungguh lelah, perjalanan yang sangat melelahkan. Tiba-tiba saja mobil Gilang mogok di tengah jalan. Waktu telah menunjukan jam sepuluh malam. Andira masih terlelap di dalam mobilnya.


Gilang turun dari mobilnya. Dia kemudian mengecek mobilnya.


"Ah, sialan. Kenapa ban mobilnya kempes sih...!"Gerutu Gilang.


Gilang kemudian mengambil alat dan akan mengganti ban mobilnya itu. Tak lama kemudian Gilang tampak melihat seorang wanita hampir tertabrak mobil. Dengan sigap Gilang langsunh berlari dan menyelamatkan seorang wanita yang hampir terserempet mobil itu. Untunglah wanita itu dan Gilang selamat.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Gilang.


"Nggak apa-apa." Jawab wanita itu sembari membersihkan tubuhnya dari kotoran yang menempel karena dia dan Gilang tadi jatuh terhuyung ke tanah.


Gilang memandang wanita itu lekat-lekat. Wanita yang bertubuh seksi seperti Maharani itu juga memandang Gilang.


"Terimakasih yah, udah nyelamatin aku tadi."Kata wanita itu.

__ADS_1


"Iya sama-sama." kata Gilang.


Gilang langsung mengulurkan tangannya.


"Aku Gilang."


Wanita itupun mengulurkan tanganya.


"Ayana." Ucap Wanita itu.


"Oh, kamu mau kemana tengah malam ada di sini? Tadi kamu hampir terserempet mobil lho."


"Iya. Aku baru pulang kantor. Mobil ku mogok. Aku mau minta bantuan tadi. Makanya aku akan menyebrang kesana. Siap tahu ada bengkel dua puluh empat jam yang buka."


"Nggak usah ke bengkel Ayana. Gimana kalau aku saja yang benarin mobil kamu." Kata Gilang mengusulkan.


"Oh, boleh deh Mas Gilang. Kalau kamu bisa."


"Yah, aku juga sama ban nya lagi kempes."


Gilang akhirnya tidak jadi mengganti ban mobilnya. Dia justru membantu Ayana. Gilangpun akhirnya pergi bersama Ayana. Mereka melangkah menjauh dari mobil Gilang.


Beberapa saat kemudian, Andira terbangun. Dia kemudian melihat ke kanan kiri, silau lampu jalan, dan lampu mobil gemerlapan. Yah,sekarang Gilang masih berada di jalan raya, setelah lama melewati jalan tol yang berliku.


"Mas Gilang kemana? ya ampun, kok aku tidur nggak di bangunin malah di tinggalin sih. Rese banget deh."


Andira kemudian membuka pintu mobilnya. Namun ternyata memang Gilang mengunci pintu itu, supaya Andira tidak bisa keluar.


"Ah, Mas Gilang kemana sih? dan udah sampai mana ini?" Kata Andira sembari mengucek matanya yang masih mengantuk.


Andira akhirnya menunggu dengan setia di dalam mobil.


Drrrrt drrrrt..


Ponsel Andira bergetar. Notifikasi masuk dari Fikri.


Dek, kamu di mana?kamu lagi sama Gilang nggak? Aku pengin telpon.


Andira pun membalas chat dari Fikri.


Mas Gilangnya lagi nggak ada Mas. Kalau mau telpon, telpon aja yah.


Fikri kemudian menelpon Andira.


"Assalamu'alaikum Andira."


"Wa'alaikum salam Mas."


"Andira, Mas nggak bisa ke rumah mu. Mas nggak enak sama Gilang. Gilang itu kan pencemburu sekali. Sama Mas aja selalu salah sangka."


"Iya aku tahu. Ada apa Mas?"


"Dek, besok sore aku mau pergi Jerman."

__ADS_1


"Mendadak sekali."


"Iya. Ada pekerjaan yang harus aku urus."


"Lama yah?"


"Nggak kok Dek. Paling lama ya, tiga bulan."


"Oh, tugas dari papa yah?mendadak sekali."


"Iya Dek. Kalau tugas yang besar-besar, pasti papa akan melemparkannya ke Mas Fikri. Karena Gilang kalau kerja itu, cuma untuk main-main. Nggak pernah serius."


"Ya udah, Mas Fikri hati-hati yah di sana."


"Seharusnya Mas yang bilang begitu Dek. Kamu jaga diri baik-baik yah, selama Mas nggak ada kamu harus rutin periksa kandungan kamu. Kamu ingat yah, harus dandan yang cantik biar suamimu betah di rumah."


"Ha...ha...kalau itu nggak usah di ajari Mas."


"Iya, iya...kamu itu memang wanita yang paling pintar soal berdandan sekarang."


"Makasih ya Mas, untuk dukungan kamu selama ini. Aku juga lagi dalam perjalanan."


"Mau kemana?"


"Nggak tahu nih Mas Gilang bawa barang-barang banyak. Katanya sih mau ngajak jalan. Tapi aku nggak tahu mau di ajak kemana."


Andira masih bertelponana dengan kakak iparnya. Sementara di sisi lain, Gilang sedang bersama Ayana.


"Mas, sebenarnya kamu mau kemana sih?" tanya Ayana.


"Aku sama adik ku mau ke surabaya. Mau ngunjungi Oma."


"Oh, kamu bawa adik? adik perempuan yah?"


"Iya." Kata Gilang sembari tangannya masih mengotak-atik mesin mobil bagian depan.


Setelah selesai, Gilang terasa sangat kelelahan. Keringatnya menetes.


"Mas, kamu berkeringat." Ucap Ayana.


Ayana mengambil sapu tangannya. Dia kemudian mengelap dahi Gilang dengan sapu tangannya.


"Makasih yah Ay, tungu sebentar. Sebentar lagi pasti mobilnya akan jalan kok."


Ayana tersenyum.


Setelah semua selesai, Gilang mencoba mobil Ayana. Dan akhirnya mobil Ayana menyala juga.


"Makasih yah Mas."Ucap Ayana.


"Iya sama-sama."


"Oh iya. Mas Gilang kan dari jakarata? pasti capek dong. Gimana kalau kita nyari tempat untuk nongkrong. Sekalian ngopi-ngopi gitu."

__ADS_1


"Boleh." Gilang menyetujui.


Gilang dan Ayanapun kemudian pergi ke cafe dekat situ.


__ADS_2