
"Baiklah sayang. Ayo kita temui mereka!" Kata Gilang sembari merangkul bahu istrinya.
Sesampai di ruang makan, Opa Dahlan dan Oma Rusti tersenyum.
"Wah, cucu Opa ini. Kompakan sekali yah."Kata Opa Dahlan.
Andira tersenyum.
"Kalian itu memang pasangan serasi." ucap Oma rusti.
He..he.. Gilang terkekeh.
"Iya dong. Cucu siapa dulu dong..." Kata Gilang dengan bangganya.
Gilang menarik kursi dan mempersilahkan Andira duduk.
"Ayo sayang dudulah!" Pinta Gilang.
"Makasih Mas."
Setelah Andira duduk, Gilang pun ikutan duduk. Betapa bahagia hidup Gilang dengan Andira saat ini. Mereka sangat merasa aman dan nyaman tinggal di rumah Kakek dan neneknya tanpa perduli dengan masalah yang ada di Jakarta.
"Hem...kayaknya enak nih." Ujar Gilang sembari matanya menelusuri area meja makan. Di meja makan sudah tampak berbagai macam sayur lauk pauk dan buah-buahan.
"Iya dong enak. Ini kan istri kamu yang masak. Bukan Oma." Kata Oma Rusti.
"Wah, nggak salah lagi. Kalau sayang ku yang masak, di cium dari kejauhan aja masakannya sudah harum sekali baunya." Puji Gilang
"He..he..Mas Gilang bisa aja." Kata Andira merasa bangga. Yah, dia bangga dengan dirinya sekarang. Dia merasa sudah menjadi seorang istri yang sempurna untuk Gilang. Dia sudah bisa memberi keturunan dan dia juga sudah bisa memberikan ketulusan cinta untuk Gilang.
Yang pasti, yang Andira tahu saat ini, suaminya itu sudah berubah semenjak ada di Surabaya.
Dia selalu di manja oleh suaminya waktu di rumah Oma rusti. Gilang tak sedikitpun meninggalkan Andira.
Gilang juga sudah berjanji dan berucap, kalau dia akan memulai hidup baru di Surabaya bersama Andira dan anaknya. Agar dia jauh dari Maharani.
Begitulah yang di ucapkan Gilang pada istrinya. Padahal di dalam hatinya, ada ke busukan yang telah dia lakukan dan dia akan menyimpan kebusukanya itu rapat-rapat dari Andira.
Andira mengambi piring Gilang dan menyendok kan nasi untuk suaminya.
"Kamu mau apa sayang?" tanya Andira.
"Mau capcay sama ayam gorengnya sayang." Jawab Gilang.
Andirapun mengambilkan apa yang suaminya minta.
__ADS_1
Yah, dari dulu Andira itu memang sangat perhatian sekali pada suaminya. Sudah sejak awal, dia mencoba menjadi istri yang baik untuk suaminya.
Sudah sejak hari pertama dia menikah dengan Gilang, dia sudah memasak, mencuci, dan mempersiapkan segala kebutuhan Gilang. Bagi Andira surganya sekarang itu ada di suaminya.
Jadi dia tidak mau durhaka, apa lagi sampai menentang dan melawan keinginan suaminya.
Mungkin karena itu, Gilang jatuh cintta pada Andira dan tidak ingin kehilangan orang sebaik Andira. Mungkin seribu satu di dunia ini orang seperti Andira. Dia tidak pernah membantah apapun yang suaminya katakan. Termasuk berpoligami.
Apa lagi sekarang. Dia sudah tidak punya orang tua. Dan hidupnya sudah tergantung pada Gilang. Dan mungkin Andira tidak bisa berpaling dari Gilang. Mungkin jika Gilang memutuskan untuk berpoligami Andira tidak akan bisa berkutik. Karena sekarang dia akan punya anak dan anaknya itu masih butuh seorang ayah.
"Andira, Oma senang banget sayang. Sepertinya sejak Gilang menikah, Gilang sudah semakin dewasa." Kata Oma Rusti.
"Oya?" Ucap Andira di sela-sela kunyahannya.
"Iya Andira. Opa juga senang. Gilang sudah menjadi suami yang bertanggung jawab.Lihatlah sekarang, dia mau bekerja keras banting tulang untuk memenuhi semua kehidupan istrinya."Kata Opa Dahlan.
"Iya Opa. Andira tahu. Mas Gilang memang sudah berubah." Kata Andira.
Setelah selesai makan Andira dan Gilangpun masuk ke kamar. Mereka kemudian berbaring di ranjangnya.
Beberapa lama kemudian Gilang pun terlelap.
Andira masih menatap langit-langit kamar. Hatinya tampak berdebar. Entah ada apa dengan dirinya. Tiba-tiba saja dia teringat ke dua adiknya. Dia juga teringat dengan Fikri. Sudah empat hari dia tidak bisa mengabari Fikri. Karena ponsel Andira Gilang yang pegang. Andira sudah tidak di izinkan pegang hape lagi.
"Ya Allah... Apa kabar mama dan papa...Apa kabar juga mas Fikri dan adik-adik ku. Kenapa Mas Gilang egois banget sih. Kenapa pegang hape aja nggak boleh. Kenapa Mas Gilang jadi cemburuan banget sih sekarang." Gumam Andira.
"Duh, kemana sih Mas Gilang menyembunyikan hape ku. Bete banget aku kalau nggak boleh pegang hape." Kata Andira.
Andira sudah berkeliling mencari hape itu dan dia tidak mendapatkan hasilnya.
"Ah, sial, kemana lagi aku harus mencari." Gumam Andira.
Andira kemudian melangkah ke arah jaket yang tergantung di tembok kamarnya. Andira meraihnya.
"Alhamdulilah...akhirnya aku menemukan juga." Kata Andira.
Andira kemudian mengaktifkan hapenya. Dan tiba-tiba saja Gilang terbangun. Dia mengerjapkan matanya.
Hoam... Gilang menguap.
"Eh Mas..." kata Andira terkejut.
"Andira. Kamu lagi ngapain di situ? kenapa kamu berdiri di situ. Apa yang sedang kamu lakuakan?"
Andira masih mennyembunyikan hapenya di belakang tubuhnya. Dia takut suaminya itu akan marah padanya.
__ADS_1
Gilang menghampiri Andira.
"Andira, apa yang kamu sembunyikan?"
Andira menegak salivanya.
"Coba Mas lihat."
Akhirnya Gilangpun tahu kalau sedari tadi Andira itu mengambil hapenya.
"Andira. Apa yang kamu lakukan. Kenapa kamu tidak mau menuruti apa kata suamimu. Mulai sekarang kamu jangan pegang hape Andira...!"
Hiks...hiks... Andira menangis.
"Mas. Maaf kan aku. Aku kangen sama adik-adik ku Mas."
Mata Gilang melebar. Dia marah besar.
"Andira...! aku tahu apa yang kamu lakukan. Kamu pasti akan menelpon kakak ku kan? apa kamu suka juga dengan Fikri Andira?" Kata Gilang dengan nada tinggi.
Andira menangis. Kenapa Gilang begitu tega menuduh Andira kalau Andira suka sama Fikri.
"Mas Gilang, aku tidak pernah suka sama Kakak mu. Aku cuma menganggapnya kakak saja. Nggak lebih Mas."
"Baiklah kalau gitu. Sini hapenya."
"Mas. Tolong jangan seperti itu. Aku juga pengin ngabari adik ku dan pengin tahu ke adaan butik ku." Kata Andira.
"Andira...! berikan hapenya padaku...!" Bentak Gilang.
Bentakan Gilang yang membuat Andira ketakutan dan menangis.
"Ini Mas." Kata Andira sembari memberikan hapenya pada Gilanng suaminya.
Dia kemudian berlari ke ranjangnya. Dia kemudian berbaring dan menangis. Gilangpun mendekatinya.
"Sayang...maafkan Mas yah." Ucap Gilang.
Hiks...hiks...
" Mas. Kenapa kamu sekarang jadi berubah. Kenapa kamu selalu mengekangku."
"Andira. Maafkan Mas yah. Mas nggak mau kehilangan kamu sayang. " Kata Gilang.
Gilang kemudian berbaring di sisi istrinya dan memeluk istrinya yang masih menangis.
__ADS_1
"Mas cinta sama kamu Andira. Mas tidak suka kalau kamu dekat dengan Mas Fikri."