
"Baiklah." Kata Sofi.
Fikri dan Sofi kemudian pergi ke taman samping rumah. Tiba-tiba saja Fikri mendadak dingin.
"Sofi. Aku mau nikahin kamu itu untuk sementara aja. Sampai adik aku kembali. Setelah itu, aku akan menceraikan kamu setelah anak kamu lahir. Tidak akan pernah ada pernikahan secara hukum negara di antara kita. Karena aku akan selalu mencari Gilang. Dan setelah Gilang ketemu, aku akan nikahkan kalian berdua."
Sofi diam.
"Iya. Aku juga nggak mau nikah sama kamu. Emang aku cinta sama kamu. Aku cuma cinta sama Mas Gilang."
"Kamu sama Gilang itu nggak ada bedanya. Sama-sama bodoh."
"Apa kamu bilang. Kamu bilang aku bodoh...?"
"Iya. Bodoh. Kamu itu sudah di butakan oleh cinta yang tidak pasti. Sampai kamu hamil di luar nikah. Jelas-jelas Gilang sudah punya istri. Kamu mau aja sama dia. Mau di tiduri pula. Wanita macam apa kamu. Kamu bersanding dengan ku aja sangat tidak pantas."
"Heh, Mas Fikri. Jaga mulut kamu kalau bicara. Siapa yang suruh kamu nikahin aku. Akupun tidak sudi menikah dengan kamu. Kamu itu beda dari Mas Gilang. Dan emang aku tahu, kalau Mas Gilang itu sudah punya istri."
"Oke Sofi. Aku mau untuk pernikahan kita, aku akan jadikan pernikahan ini, pernikahan kontrak. Tidak akan pernah ada cinta di antara kita. Hubungan kita cuma sebatas suami istri jika berada di luar. Karena aku nggak ikhlas dan nggak rela dengan pernikahan ini. Aku melakukan semua ini, untuk mamaku."
"Oke. Aku setuju."
Akhirnya Fikri dan Sofipun menyetujui kalau pernikahan mereka akan menjadi pernikahan kontrak.
Satu minggu kemudian.
Sah.
Sah...
"Alhamdulilah..." Ucap semua keluarga mempelai.
Mereka sudah bahagia melihat Fikri dan Sofi menikah. Tanpa mereka tahu di pernikahan itu sudah ada perjanjian kontrak antara Fikri dan Sofi. Karena dua hari yang lalu, Fikri sudah menulis perjanjian kontrak tersebut yang isinya.
Mereka berjanji tidak akan ada yang saling jatuh cinta sampai pernikahan mereka berakhir.
Mereka akan menjadi pasangan suami istri di depan keluarga mereka saja.
Sofi mencium punggung tangan suaminya. Setelah itu Fikri mencium kening Sofi. Yah, walaupun pernikahan mereka hanya sebatas pernikahan kontrak, tapi mereka juga harus bisa menyembunyikan dari keluarga mereka.
Mereka tidak akan pernah membiarkan satu orang pun tahu kalau pernikahan mereka adalah pernikahan kontrak.
Setelah itu Fikri menyematkan cincin mas kawinnya di jari manis Sofi.
Kedua pengantin itu, kemudian meminta doa restu kepada orang tua mereka masing-masing.
...****************...
Sekarang Sofi sudah ada di kamar bersama suaminya. Yah, tepatnya suami kontrak. Saat ini Sofi ada di atas ranjangnya, sementara Fikri ada di Sofa.
__ADS_1
Fikri terlelap. Sepertinya dia sangat lelah. Sementara Sofi masih tidak bisa tidur. Yah, dia tidak nyaman saja tidur sekamar dengan Fikri.
Sofi menatap Fikri yang sudah terlelap.
"Kalau lagi pules gitu, Mas Fikri, mirip Mas Gilang banget. Apa iya, aku nggak akan jatuh cinta sama dia. Tapi, dia dingin banget orangnya.Kasihan Mas Fikri. Aku kasih selimut ajalah." Kata Sofi.
Sofi kemudian mendekat ke arah suaminya. Dia kemudian menyelimuti tubuh Fikri. Sofi masih memandangi Fikri.
"Kasihan sekali dia." Ucap Sofi.
"Sandra...Sandra...Sandra....Tolong Sandra jangan tinggalin aku...
Sandra....!!!" Fikri menjerit di tengah igauannya. Membuat Sofu terkejut.
Fikri kemudian terbangun. Fikri meneguk salifanya. Lagi-lagi Sandra mendatanginya. Yah siapa Sandra? Sandra adalah seorang wanita masa lalu Fikri yang meninggal karena bunuh diri.
Walau Fikri sudah sepenuhnya melupakan Sandra, namun sosok wanita cantik bernama Sandra itu masih terus menghantui di mimpinya.
Keringat Fikri bercucuran.
Sofi mendekat."Mas Fikri kenapa? mimpi buruk yah?"
Fikri membasuh wajahnya kasar.
"Dan siapa Sandra...?"
"Baiklah Mas."
Fikri kemudian keluar dari kamarnya. Dia melangkah menuju ke dapur untuk mengambil minum.
Fikri kemudian menuang segelas air. Dan ternyata waktu sudah menunjukan jam dua belas malam.
"Jam dua belas? Sofi jam segini belum tidur?" Gumam Fikri.
"Ah, Sandra. Kenapa dia datang lagi dalam mimpi aku. Ah, Andira ku, cuma kamu yang bisa mengobati luka hati ku Andira. Luka yang telah di buat oleh Sandra sehingga aku takut untuk jatuh cinta lagi sama wanita."
...****************...
Malam ini, Andira masih tertidur pulas di atas tempat tidurnya bersama suaminya.
Yah, Gilang juga masih terlelap di samping istrinya.
Drrrrt...drrrrt...
Suara ponsel Gilang bergetar.
Maharani calling.
Gilang dengan mata yang masih mengantuk, segera mengangkat telpon dari Maharani.
__ADS_1
"Halo..."
" Mas Gilang...Ini aku Maharani. Aku kangen banget Mas sama kamu."
Hoaaam. Gilang menguap.
Gilang kemudian beringsut duduk.
"Iya tunggu dulu. Aku keluar."
Gilang kemudian keluar dari kamarnya. Dia melangkah ke samping rumah.
"Sayang, kamu ada di mana sekarang?"
"Em, maaf Ran, aku nggak bisa kasih tahu kamu dimana aku sekarang. Aku belum bisa pulang ke Jakarta."
"Kenapa?"
"Karena, ceritanya panjang Ran."
"Gilang, aku sudah tahu masalah kamu.Tapi aku mau kamu pulang ke Jakarta. Aku kangen banget."
"Kamu sudah tahu apa?"
"Aku sudah tahu, kalau Kak Fikri sudah menikahi orang yang sudah kamu hamili."Kata Maharani.
"Oh, jadi kamu udah tahu?"
"Iya. Dan aku tidak akan pernah membocorkan masalah kamu ini ke istri kamu, kecuali kalau kamu mau nikah denganku."
"Apa. Kamu mengancamku Ran?"
"Iya. Aku mau nagih janji kamu yang dulu. Kamu kan sudah bilang, kalau dulu kamu akan menikahi ku dan akan menceraikan Andira. Sekarang buktikan dong...!"
"Nggak bisa gitu dong Ran. Mana mungkin aku menceraikan Andira. Dia lagi hamil Ran."
"Pokoknya aku nggak mau tahu. Kamu harus nikahin aku."
"Ah, kamu gila Ran. Aku saja lagi kabur dari orang tua. Mana mungkin aku bisa menafkahi dua istri sekaligus."
"Ya udah, aku akan bilang ke Andira. Kalau suaminya menghamili wanita lain, dan dia tidak mau tanggung jawab."
"Baik...baik...baik. Aku akan menikahi kamu. Tapi aku belum bisa untuk bercerai dengan Andira."
"Oke. Sekarang Andira jauhkan. Jadi kita bisa menikah tanpa ada gangguan dari Andira. Kamu harus pulang ke Jakarta. Terus kita bisa nikah. Kalau nggak, aku akan mengatakan yang sebenarnya tentang kebusukan kamu Gilang."
"Baik. Oke aku akan nikah sama kamu. Tapi tolong. Jangan ganggu Andira dan calon anak ku."
"Bagus. Aku cuma mau nikah sama kamu, dan kita mulai kehidupan baru kita."
__ADS_1