Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
Kepergian Gilang


__ADS_3

"Gue yakin, Joe tidak akan mecam-macam sama Andira." Kata Gilang lagi.


...****************...


Malam ini Andira kembali sendiri. Dia masih melamun di ruang tengah. Yah, Andira merasa kesepian. Dia tidak boleh pegang hape oleh suaminya. Bagaimana dia tidak bete, padahal hape itu sangat penting untuk Andira. Belum lagi Andira pengin tahu kabar tentang butiknya bagaimana selama dia tinggal.


"Hei...kenapa kamu ngelamun aja?" tanya Joe sembari duduk di samping Andira.


Andira menoleh.


"Oh, Joe. Aku nggak ngelamun kok. Aku cuma lagi sedih aja. Kenapa sampai sekarang aku belum boleh pegang hape."


"Kamu tenang saja bersama ku. Aku akan pinjamkan hape untuk mu. Bila perlu aku kasih hape baru." Kata Joe.


Andira memandang Joe. "Benarkah? kamu mau pinjamin hape kamu Joe."


"Iya. Benar."


"Makasih yah Joe."


"Iya sama-sama."


Joe lagi-lagi menatap Andira. Yah, tatapan iba itu selalu menyelimutinya. Dia tidak percaya pada Gilang sedikitpun. Joe tahu mungkin Gilang kembali ke Jakarta untuk menemui pacar-pacarnya.


"Oh iya Ra.Kamu mau nelpon sekarang?"


"Nggak usah. Aku lapar Joe."


"Ya udah. Tunggu apa lagi. Ayo kita makan. Tuh bibik sudah nyiapin kamu makanan. Kita tinggal makan saja."


"Iya Joe."


Andira dan Joe kemudian beranjak pergi menuju ke ruang makan.


"Ayo Andira. Makan yang banyak. Kamu harus bisa jaga kondisi kesehatan kamu dan bayi kamu."


"Iya Joe."


"Tuh, aku sudah nyuruh bibik masakin sayur, lauk pauk dan sediain buah-buahan untuk kamu Dir. Biar kamu dan bayi kamu sehat."


"He..he...Makasih ya Joe. Kamu udah mau perhatian sama aku."


"Iya Andira. Sama-sama."


Andira dan Joe kemudian makan bersama.


"Katanya kamu punya butik sendiri di Jakarta?" tanya Joe di sela-sela kunyahannya.


"Hemm. Itu benar."


"Terus sekarang kamu tinggalin?"


"Iya. Itu semua karena Mas Gilang. Dia maksa aku untuk tinggal di rumah Oma. Eh, malah sekarang dia pindahin aku ke sini."


Joe tersenyum.


"Nggak apa-apa kamu di sini. Biar aku punya teman. Nanti kalau kamu mau telpon Gilang, boleh kok pakai hape aku. Nanti kapan-kapan aku akan ajakin kamu jalan untuk beli ponsel baru."


"Wah, yang benar? terimaksih yah Joe."

__ADS_1


"Iya. Nanti aku akan ajakin kamu jalan. Kalau aku udah ada waktu longgar."


Selesai makan Andira pun membereskan piring-piring kotor dan mencucinya. Setelah itu dia pergi ke taman samping rumah Joe. Yah, taman favoritnya yang penuh dengan keindahan.


Malam ini, langit tampak suram. Andira menatap ke atas langit. Tak ada cahaya bintang ataupun bulan yang tampak di malam ini.


Hanya semilir angin dan cuaca dingin dan mencekam yang dapat Andira rasakan.


"Dira. Udah malam. Kenapa kamu masih berdiri di sini...?" tanya Joe.


Andira menoleh ke arah Joe.


"Joe, aku masih pengin di sini."


Joe mendekat ke arah Andira. Dia menyodorkan hapenya.


"Ini. Barangkali kamu mau telpon suamimu."


"Makasih ya Joe..." Ucap Andira sembari tersenyum. Yah, senyuman seorang istri yang selalu mau di bohongi suaminya.


Andira memencet nomer Gilang. Tapi hape Gilang nggak aktiv. Sudah beberapa kali Andira menghubungi, namun hape Gilang tidak aktif. Mungkin karena ngedrop, atau karena Gilang memang sengaja tidak mengaktifkannya.


"Kenapa Andira?"


"Nggak aktif Joe."


"Oh, kenapa bisa begitu."


"Mungkin hapenya ngedrop Joe."


Mungkin saja Andira. Mungkin saja Gilang sengaja menon aktivkan ponselnya .


"Nanti Joe. Aku mau telpon adik aku." Kata Andira.


"Ya udah." Kata Joe.


Setelah itu Joepun duduk menunggu Andira.


Andira menulis nomer ponsel adiknya di ponsel Joe.


Andira kemudian memencetnya.


"Halo..asalamualaikum. Ini siapa yah." Suara orang di sebrang sana.


"Halo Dini... wa alaikum salam. Ini Kak Dira."


"Oh, Kak Dira apa kabar? Kak Dira di mana sekarang? Dini kangen."


"Kakak juga kangen sama kamu Dini. Kakak sekarang ada di Surabaya. Kakak ikut Mas Gilang ke sini."


"Kok bisa di Surabaya. Bukannya di rumah kalian berdua..?"


"Nggak. Udah dua bulan kakak di sini. Mas Gilang juga kerja di sini."


"Oh, gitu. Tapi kenapa baru ngabarin?"


"Iya. Soalnya kakak nggak boleh pegang hand phone oleh Mas Gilang."


"Ih, kok Mas Gilang jadi suami gitu sih. Keterlaluan banget."

__ADS_1


"Udahlah. Biarin aja. Mas Gilang itu lagi cemburu sama Mas Fikri. Karena Mas Fikri akhir-akhir ini, jadi perhatian sama kakak. Padahal kakak sama Mas Fikri kan nggak punya hubungan apa-apa."


"Oh, jadi gitu ceritanya. Lucu banget sih Kak Gilang. Kakaknya sendiri di cemburuin."


"He...he...Ah, kamu ini. Itu karena Mas Gilang terlalu cinta sama Kak Dira."


"Oh. Iya mungkin yah Kak."


Joe sedari tadi masih menguping pembicaraan Andira dan adiknya.


Cih cinta. Kenapa sih di dunia ini ada wanita sebodoh dia. Benar-benar Andira. Aku jadi kesal sendiri kalau lihat Andira. Kenapa dia nggak nyadar kalau Gilang itu udah selingkuhin dia. Aku juga yakin. Gilang ke Jakarta pasti akan menemui selingkuhan-selibgjuhanya itu. Awas aja kau Gilang...! Geram Joe dalam hati.


Setelah bertelponan dengan Dini, Andirapun mengingat-ingat nomer Fikri. Namun dia lupa nomer kakak iparnya itu berapa. Yang dia ingat cuma nomernya Anna, Karyawannya.


"Ah, aku lupa lagi nomer Mas Fikri. Aku telpon Anna aja deh."


Andira kemudian menelpon Anna.


"Halo...asalamualaikum Anna, ini aku Andira."


"Eh, Mbak. Kemana aja? kok nggak pernah kabarin."


"Gimana butik?"


"Lancar kok mbak alhamdulillah. Nanti kalau Mbak pulang, mbak bisa lihat sendiri kemajuannya."


"Wah, hebat kamu Anna."


"Bukan aku yang hebat. Tapi doa mbak yang manjur. Kita udah banyak banget lho dapat keuntungan."


"Iya Anna. Aku percayakan semuanya sama kamu yah."


"Iya Mbak. Terimakasih. Mbak ada di mana sekarang? kapan Mbak pulang?"


" Aku nggak bisa pulang sekarang Anna. Suamiku kerja di Surabaya sekarang. Tapi nanti aku akan bujuk suamiku Anna, biar kita pindah ke Jakarta lagi."


"Oh, di Surabaya?"


"Iya. Ya udah dulu yah Anna. Aku sekarang lagi nggak pegang hape. Tolong untuk sementara kamu yang menghandle semuanya dulu."


"Iya Mbak. Selama ada aku, butik Mbak Andira insya Allah aman."


"Makasih yah Anna. Asalamu alaikum."


"Wa alaikum salam."


Tut Andira memutuskan sambungan telponnya.


Hoam...


Joe menguap. Sepertinya dia sudah mulai mengantuk.


"Maaf Joe. Nunggu lama yah?"


"Oh, Nggak apa-apa kok Ra. Udah terusin aja telponnya."


"Udah kok Joe. Terimakasih yah udah mau minjamin telponnya."


"Iya Ra. Sama-sama."

__ADS_1


__ADS_2