Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
salah tebak.


__ADS_3

"Biarkanlah lelaki itu akan mendapatkan hukuman yang setimpal karena telah menyia-nyiakan kamu dan anak kamu Sof. Yang penting kamu jangan tambahin dosa lagi, karena kamu harus gugurin kandungan kamu itu."


"Iya Denis. Tapi sekarang aku takut sama Mama dan Papa. Bagiamana kalau mereka tahu tentang ini?."


"Sof. Lebih baik kamu jujur sama orang tua kamu. Kalau kamu itu hamil. Dan kamu katakanlah yang sejujurnya, sebenarnya siapa orang yang telah menghamili kamu. Biar orang tua kamu bisa mengusut kasus ini dan lelaki itu bisa bertanggung jawab atas kehamilan kamu itu."


"Iya Den terimakasih." Ucap Sofi.


Setelah itu, Sofi dan Denis pergi dari tempat itu. Yah, Sofi dan Denis itu adalah teman dekat. Mereka dekat sudah sejak duduk di bangku SMA.


Sudah sejak lama Denis mencintai Sofi. Tapi Denis tidak pernah mau mengutarakan isi hatinya. Denis minder pada Sofi. Sofi itu anak orang kaya. Sementara Denis anak orang biasa.


...****************...


Sore ini waktu sudah menunjukan pukul empat sore. Andira masih membolak-balik kan majalah di kamarnya.


Andira kemudian meraih ponselnya. Andira tampak mengotak-atik ponselnya. Tak ada kabar juga dari Gilang. Dia ingin menghubungi Gilang,tapi ponsel Gilang selalu tidak aktif.


"Ah, Mas Gilang kemana sih? Katanya dia mau pulang hari ini. Kenapa dia juga belum sampai." Gumam Andira.


Yah, Andira masih merasa kesepian. Walaupun dia di rumah adiknya, tapikan adiknya itu tidak akan pernah menemaninya 24 jam. Karena ke dua adiknya itu sibuk. Kalau di rumahnya sendirikan ada Mbak Muti. Mbak Muti yang bisa di ajak berbagi.


"Ah, jenuh banget di sini. Nggak ada Bunda, rumah jadi sepi begini." Gerutu Andira lagi.


Sesaat kemudian, terbersit ide untuk menelpon Fikri kakak iparnya.


"Ah, aku baru ingat Mas Fikri. Iya aku akan menelponnya. Barang kali dia tidak sibuk." ucap Andira.


Andira memencet nomer Fikri.


"Halo...Assalamu'alaikum Andira?"


Ucap Fikri yang selalu penuh kesejukan.


"Wa'alaikum salam Mas. Maaf yah, aku ganggu."


"Nggak...kamu nggak ganggu sama sekali sayang."


"Hah...sayang....?!"


"Aduh maaf. Aku keceplosan Andira maaf...Nggak sengaja."


"Oh, iya nggak apa-apa."


"Kenapa Dek?"


"Mas, Kok Mas Gilang telponnya nggak aktif lagi sih. Katanya dia mau pulang hari ini."


"Em, mungkin lagi ada di pesawat Dek."


"Iya juga yah?"


"Kenapa? kamu udah kangen yah sama suamimu itu."


"Ah, Mas Fikri bisa aja. Aku lagi sendiri Mas. Lagi butuh teman. Bingung mau ngobrol sama siapa."


"Adik-adik kamu kemana.?"

__ADS_1


"Mereka kerja Mas. Nyari sampingan buat tambahan uang jajan."


"Jadi sekarang kamu sendiri?"


"Hemm."


"Ya udah deh, nanti Mas kesana yah. Kamu butuh teman kan?"


"Iya. Mas mau kesini nemenin aku?"


"Iya. Oya Dek. Kamu pengin apa? Biasanya kan kalau orang hamil itu, ada keinginan khusus gitu."


"Ah, nggak, aku cuma pengin buah yang asem-asem aja. Denis udah beliin kok."


"Ya udah sekarang Mas kesana yah?"


"Iya Mas."


Setelah itu, Fikri kemudian bersiap dari kantornya menuju ke rumah orang tua Andira.


"Frans, gue pulang dulu yah."


"Jam segini udah mau pulang?"


"Iya. Gue lagi nggak enak badan. Kamu bisa kan gantiin gue?"


"Ya tentu dong."


...****************...


Fikri mengendap-endap masuk dan setelah sampai di belakang Andira, Fikri menutup kedua mata Andira dengan ke dua tangannya. Yah, seperti yang selama ini suaminya lakukan.


"Ih...Mas Gilang...lepasin aku. Senang banget sih ngusilin aku. Aku capek tahu nungguin kamu dari kemarin."


Fikri tersenyum.


Setia banget kamu sih Dek sama Gilang. Aku fikir kamu nungguin aku. Kan kamu yang nyuruh aku datang ke mari. Batin Fikri.


Fikri melepas tangannya. Membuat Andira menoleh ke arahnya.


"Ciluk baa.." Ucap Fikri.


"Mas Fikri...! Ya ampun, aku fikir Mas Gilang."


Fikri tersenyum lebar. Begitu juga Andira. Dia jadi malu sendiri karena sudah salah menebak.


Fikri kemudian duduk di samping Andira.


"Kamu kesepian yah?" tanya Fikri.


Andira mengangguk.


"Yah, sekarang Mas udah temanin."kata Fikri.


"Makasih yah."


...****************...

__ADS_1


Malam ini, Andira masih tampak berkutat di dapurnya. Di sampingnya berdiri, ada Fikri yang masih setia menemani Andira.


"Masak apa sih...?" tanya Fikri.


"Ini, sup buntut kesukaan adik-adik aku." Ucap Andira.


"Kamu jago sekali yah masak. Beruntung sekali adik ku bisa mendapatkan wanita sebaik kamu."


"Jangan terlalu banyak memuji. Nanti aku bisa jatuh cinta." kata Andira dengan polosnya.


Padahal kan Andira cuma bercanda. Tapi membuat jantung Fikri berdegup kencang dan jadi salah tingkah.


"Kamu jatuh cinta sama aku?" tanya Fikri tampak menanggapi.


Andira menoleh dan tersenyum.


"Bercanda Mas. Masak aku jatuh cinta sama kamu Mas. Jelas-jelas kamu itu kakak ipar aku. Mana mungkin aku akan jatuh cinta sama kakak ipar aku sendiri. Itu namanya cinta terlarang."


"Jatuh cinta juga nggak apa-apa kok."


"Ha...ha... Mas Fikri. Ngarep apa ngarep...?"


Andira tertawa lepas. Yah, untuk saat ini, dia bisa tertawa dan sedikit melupakan suaminya.


Fikri sedari tadi masih setia menemani Andira. Yah, Andira memang adik iparnya, namun dia sudah bisa membuat Fikri jatuh cinta dan tidak bisa pindah kelain hati.


Setelah selesai memasak, Fikri dan Andira duduk di ruang makan. Waktu telah menunjukan jam tujuh malam. Padahal waktu itu sudah saat nya makan malam. Tapi Andira sedih, karena kedua adiknya itu belum pulang juga.


"Ah, kemana Denis dan Dini yah? kenapa mereka belum pulang-pulang juga."


Fikri masih diam-diam curi pandang. Dia memandangi wajah adik iparnya yang sejuk.


Ya Allah, masih ada nggak yah di dunia ini stok istri seperti Andira? jika saja ada, tolong pertemukanlah hamba dengan wanita yang seperti Andira lagi, supaya aku bisa jadikan dia istri. Batin Fikri.


"Mas...kamu nggak makan?" tanya Andira.


"Nanti. Nungguin kamu makan."


"Lho, kenapa? Aku lagi nungguin adik-adik aku lho. Kamu kalau udah lapar, makan dulu yah."


"Iya Dir. Nanti saja Mas makannya."


Andira tersenyum.


Fikri menggenggan erat tangan Andira, membuat Andira bingung.


"Ada apa Mas? " tanya Andira.


"Mumpung Gilang belum pulang, Mas mau ajakin kamu jalan. Bagaimana?"


"Jalan kemana Mas?" tanya Andira.


"Ada deh, Akhir-akhir ini, kamu jarang kan jalan-jalan. Gimana kalau aku ajakin kamu jalan."


"Bolehlah Mas. Kalau Mas mau ngajakin aku jalan."


"Baiklah, ayo sekarang kamu dandan yang cantik dan nanti kita jalan-jalan!."

__ADS_1


__ADS_2