
Pagi ini sinar matahari sudah bersinar sempurna. Hari pertama di kampung, sungguh sangat membahagiakan. Viona masih asyik bersihin kamar yang saat ini sedang di tempatinya.
Viona sekarang sedang melipat baju-bajunya yang sudah dia bawa. setelah itu dia akan memasukan baju-bajunya itu ke dalam lemari pakaiannya yang sudah di sediakan di rumah Omanya.
Viona itu anak yang penurut, dia itu anak yang rajin dan taat beribadah. Apalagi dia itu lulusan pesantren. Jadi dia itu tahu tentang ilmu agama. Sehingga dia itu selalu patuh pada kedua orang tuanya. Dia tidak pernah sedikitpun membantah orang tuanya itu.
Setelah memasukan semua baju-bajunya itu ke dalam lemari, Viona kemudian mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk mandi membersihkan tubuhnya.
Selesai mandi, Viona mencari bajunya dan memakai bajunya. Seperti biasa Viona itu memakai gamis dan hijab lebar. Selesai berpakaian dan berhijab, Viona kemudian keluar dari kamarnya untuk menuju ke ruang makan.
Di ruang makan, tampaknya belum ada makanan apapun. Viona kemudian menuju ke dapur. Di dapur dia melihat mamanya tampak sedang memasak. Viona mendekat ke arah Andira.
" Mama lagi masak apa?" Tanya Viona pada mamanya.
" Masakan sederhana aja Vi. Tumis kangkung, sama tahu, tempe, dan ayam goreng."
Viona tersenyum.
" Aku bantuin yah Ma." Kata Viona.
" Iya."
Viona memang anak perempuan satu-satunya yang Fikri dan Andira punya. Mereka sangat beruntung mendapatkan anak seperti Viona. Anak yang sangat berbakti dan taat pada kedua orang tuanya.
Viona dan Andira kemudian masak bersama di dapur.
__ADS_1
" Oh iya Ma. Papa dan Rafael belum bangun yah." Tanya Viona sembari masih mengiris bawang merah.
Andira tersenyum" Papa dan kakak kamu itu lagi lari pagi Vi." jawab Andira.
" Oh, kenapa nggak ajakin aku?" Kata Viona yang sepertinya dia itu tampak sedih jika saja papa dan kakaknya itu tidak mengajaknya lari pagi.
" Yah, mereka kira kamu itu nggak mau. Biasanya kan kalau kamu belum mandi, kamu itu tidak mau."
"Ya udah deh. Nggak apa-apa."
***
Rafael dan ayahnya mereka sepertinya sedang berolah raga. Tiba-tiba telpon Fikri berdering. Fikri langsing mengangkatnya.
" Siapa Pa?" Tanya Rafael.
Fikri kemudian mengangkat telpon itu sembari mencari tempat duduk yang nyaman untu bertelponan.
" Halo," Ucap Fikri.
" Halo, Pak Fikri. Ini saya Pak. Apa bapak masih ingat sama suara saya?" Tanya Farrel.
" Oh, ini benar Pak Farrel...? Pak Farrel Raditya Wiguna?"
" Iya Pak Fikri. Itu aku."
__ADS_1
" Oh, saya ada di Surabaya Pak Farrel."
" Yah saya juga."
" Oh iya. Kalau begitu kebetulan dong."
" Saya sedang meninjau lahan saya yang ada di sini Pak Fikri."
" Oh, begitu?'
" Iya. Sepertinya saya akan membangun cabang perusahaan saya di sini ?"
" Oh, begitu?"
" Iya Pak Fikri. Kalau Pak Fikri mau, saya akan menawarkan kerja sama. Bagaimana kalau kita kerja sama."
" Oh, wah, itu tawaran yang benar-benat menggiurkan. Saya sungguh salut kepada anda Pak Farrel. Anda itu mengingatkan saya sewaktu saya masih muda. Sekarang saya itu sudah tua, tapi anak-anak saya belum ada yang bisa mengelola perusahaan. Jadi saya harus turun tangan sendiri untuk mengelola bisnis saya."
" Oh, tidak masalah itu Pak Fikri. Anda juga pengusaha yang sangat berbakat."
" Iya. Anda itu memang benar-benar seperti Pak Arka. Sampai saat ini juga Pak Arka itu masih mengolah perusahaan itu sendiri tanpa bantuan dari siapapun. Dan perusahaannya itu semakin berkembang."
Rafael masih berlari sedari tadi tanpa dia melihat ke arah ayahnya. Dia tidak pernah perduli tentang ayahnya. Dia hanya perduli dengan duanianya sendiri seperti menjadi seorang model. Tanpa dia mau turun tangan dengan perusahaan ayahnya itu.
Awalnya Fikri itu memang tidak mau dan tidak setuju kalau Rafael itu menjadi model. Karena Fikri ingin Rafael itu menggantikanya di kantor.
__ADS_1
Apa harus menunggu Zaki?Sementara Zaki itu masih SMP. Dan dia juga masih lama berada di pesantren.