Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
Kepulangan Gilang


__ADS_3

" Oh...ya udah, tinggal di sini dulu nggak apa-apa." Kata Mama Fikri.


"Makasih ya Ma." Ucap Andira.


Mama Fikri tersrnyum.


"Nggak usah sungkan-sungkan sama mama. Mama itu kan mamanya Gilang, mamanya Gilang juga mama kamu kan? apa lagi kamu itu kan, anaknya sahabat lama papa. Anggap saja saya ini ibu kandung kamu."


"Iya Ma." Kata Andira.


Mama Fikri mengangguk dan tersenyum."Ya udah, mama tinggal dulu yah, mama udah ngantuk."


Setelah itu mama Fikri melangkah ke kamarnya.


"Mas, kamu mau tidur juga?" tanya Andira.


"Nggak. Nanti aja. Kamu udah ngantuk Dek?" tanya Fikri.


"Iya." jawab Andira singkat.


"Ya udah aku antar ke kamar yah." kata Fikri.


Fikri kemudian mengantar Andira ke kamarnya.


Sesampai di depan kamar, mereka saling menatap. Entah apa yang sedang mereka fikirkan.


"Sekali lagi, aku mau ngucapin terimakasih yah, karena selama ini, kamu sudah mau nemenin aku, di saat Mas Gilang nggak ada."


Fikri tersenyum. Yah, senyuman khas Fikri, senyuman tulus seorang lelaki yang mencintai Andira, bukan senyuman lelaki pendusta seperti suami Andira.


"Iya. Itu memang sudah ke wajibanku sebagai seorang kakak. Kamu pengin punya kakak kan? anggaplah aku ini kakak kandung kamu. Selamat tidur yah Andira. Semoga mimpi indah."


"Iya Mas."


Setelah itu Fikri pergi dari kamar Andira. Sementara Andira masuk ke dalam kamarnya. Dia kemudian mengunci pintu itu.


Andira sekarang sudah berbaring di ranjangnya. Dia kemudian mengelus perutnya. Perutnya yang masih rata. Namun dia bahagia, jika dia akan punya anak dari lelaki yang di cintainya.


"Aku akan selalu menunggu Mas Gilang pulang." Kata Andira.


Setelah itu Andira pun terlelap.


...****************...


Satu minggu kemudian, Gilang pun pulang. Dia pulang ke rumah mamanya. Dia menemui istrinya di sana.


"Sayang, ternyata kamu di sini? sudah berapa lama kamu tinggal di sini?" tanya Gilang.


"Satu minggu Mas." jawab Andira.


"Oh...satu minggu?"

__ADS_1


"Hemm."


"Sayang, aku mau ngajakin kamu liburan. Apa kamu mau?" tanya Gilang.


Andira melebarkan senyumnya.


"Wah...yang benar Mas. Jadi kamu mau ngajakin aku liburan. Kemana?" tanya Andira.


"Ada deh, nanti kamu juga tahu kok."


"Iya. Aku mau banget." Andira sangat antusias.


Andira kemudian memeluk Gilang. Mungkin itu adalah pelukan seorang istri yang merindukan suaminya, merindukan belaian, dan perhatian dari suaminya. Istri mana yang tidak rindu, jika setengah bulan dia di tinggal jauh oleh suaminya. Apa lagi posisinya itu, dia sedang mengandung.


Gilang memeluk istrinya dengan erat. Sepertinya Gilang juga rindu pada kehangatan pelukan istrinya.


Setelah beberapa lama mereka berpelukan, mereka melepaskan pelukan itu.


"Hemm...Sayang, kamu cantik sekali. Kamu wangi..."


Andira tersenyum" Iya. Aku kan habis mandi Mas. Mungkin ini wangi sampo."


"Sayang, Mas Fikri nggak macam-macam kan sama kamu?"


"Macam-macam apa sih Mas, dia kan kakak kamu. Dia juga orang baik, mana mungkin dia macam-macam."


"Ah, aku nggak percaya sama dia Andira. Bisa jadi dia naksir sama kamu."


"Ah, cemburu yang nggak masuk akal." Kata Andira sembari pergi menghampiri tempat tidurnya. Andira merebahkan tubuhnya di ranjangnya di ikuti Gilang di sampingnya.


Sekarang mereka sedang bersandar di kepala ranjang. Andira masih menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Sayang, kemana aja kamu Mas? aku kangen banget sama kamu." Ucap Andira.


"Iya. Aku juga kangen sama kamu." Kata Gilang sembari membelai mesra rambut Andira.


Andira menghela nafasnya dalam. Dia sangat menikmati kebersamaan dengan suaminya. Mungkin, inilah saat-saat yang Andira tunggu, suaminya akan menyentuhnya di malam ini dan Andira masih berharap, kalau Gilang itu bisa berubah.


"Mas, aku mau nanya sama kamu."


"Nanya apa sayang?"


"Apa kamu akan menkahi Maharani?"


Gilang menatap lekat istrinya.


"Sudahlah Andira, aku sudah bilang, jangan bahas lagi masalah itu."


"Mas, aku ingin menjadi istrimu satu-satunya. Aku nggak mau berbagi suami. Apalagi berbagi cinta."


Gilang diam. Entah apa yang sedang dia fikirkan. Yang pasti Gilang tidak akan pernah memikirkan hatinya Andira. Dia cuma memikirkan dirinya saja.

__ADS_1


Dia akan membawa Andira pergi dan dia akan menikahi Maharani tanpa sepengetahuan Andira.


...****************...


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam." Ucap mama dan papa Fikri bersamaan.


"Ma, Pa, Andira mana? Aku udah belikan dia martabak." Kata Fikri sembari duduk dan meletakan kantong plastik yang berisi martabak itu ke atas meja.


"Apa itu?" tanya Papa Fikri.


"Martabak." jawab Fikri singkat.


"Buat siapa?" tanya Mama Fikri.


"Buat Andira lah siapa lagi."


"Lho, pilih kasih sekali kamu. Masak cuma Andira saja yang di kasih. Kami tidak?" tanya papa.


" Iya. Semua kebagian kok. Buat kalian ada di dapur." Kata Fikri.


"Perhatian sekali kamu Nak, sama Andira." Kata Mama Fikri.


"Papa tahu. Kamu itu kepengin sekali punya adik perempuan. Jadi kamu sangat perhatian sama adik iparmu." Kata Papa Fikri kemudian.


Iya pa, Ma, Andira memang adik iparku. Tapi rasa cintaku ini bukanlah rasa sayang kakak kepada adiknya. Tapi lebih dari itu. Fikri sangat mencintai Andira dan tidak bisa melupakannya. Batin Fikri.


"Oya, Andiranya mana? di kamar yah?" tanya Fikri.


"Iya. Sudahlah, biarin mereka. Biarkan mereka bersama. Mungkin mereka lagi kangen." Kata Mama kemudian.


"Gilang sudah pulang?"


"Iya. Dia baru nyampe. Dan dia sudah ada di kamar."Kata Papa.


Fikri tersenyum kecut. Betapa antusiasnya dia membelikan banyak kue untuk Andira. Tapi sesampai di rumah, hatinya malah di buat sakit dengan kepulangan Gilang.


"Ya udah. Aku ke kamar dulu. Aku capek."Kata Fikri.


Fikri kemudian beranjak ke kamarnya. Dia menghempaskan tubuhnya ke ranjangnya.


"Ya Allah, kenapa hati ini rasanya hancur sekali, saat mendengar Andira sedang ada di kamar bersama Gilang. Kenapa perasaan ini, tidak bisa aku buang jauh-jauh. Aku tahu ini salah. Aku tidak boleh mencintai adik ipar ku sendiri. Tapi hati itu tidak bisa di bohongi. Jika hati telah memilih, siapa yang akan sanggup menepisnya."Gumam Fikri.


Tes. Setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.


Hati Fikri menangis. Dia menangis dalam diamnya.


Apa salah ku jika aku mencintai Andira. Ini memang hatiku. Dan hati tidak bisa di bohongi. Tapi kan aku bertahan dengan cinta ini. Dan aku tidak akan pernah merebut apa yang sudah menjadi milik orang lain, kecuali dia menyerahkannya langsung pada ku. Batin Fikri.


Setelah itu Fikri melepas dasinya, dan melepas jas juga sepatunya, dia bergegas untuk mandi dan melakukan sholat isya.

__ADS_1


"Ah, aku nggak boleh memikirkan Andira terus. Andira itu sudah milik Gilang." Ucap Fikri sebelum pergi mandi.


__ADS_2