Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
meminta pertanggung jawaban.


__ADS_3

"Oh...jadi namanya Gilang. Kalau kamu tidak mau menunjukan siapa Gilang itu, baiklah, papa sendiri yang akan turun tangan untuk mendapatkan lelaki brengsek itu."


Sofi terdiam. Dia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kehamilannya itu. Sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai, pasti akan ketahuan juga kan baunya.


Begitu juga dengan Sofi. Dia tidak akan bisa menutupi kehamilannya itu terlebih pada orang tua kandungnya sendiri.


...****************...


"Allahu akbar...Allahhu akbar..."


Adzan subuh menggema. Mengusik tidur Andira.


Andira kemudian membangunkan suaminya.


"Mas, bangun Mas!. Kita cari masjid untuk sholat subuh."


Gilang mengucek matanya.


"Iya sayang. Emang udah subuh yah?"


"iya itu kan Mas dengar suara adzan."


"Iya aku dengar."


Gilang dan Andira pun keluar dari mobil. Dia kemudian jalan ke depan untuk mencari masjid.


Sesampainya di masjid, Andira masuk ke dalam masjid. Dia mengambil wudhu dan ikut sholat berjamaah. Sementara Gilang mengambil tempat yang aman untuk tidur lagi. Sepertinya dia memang sedang ngantuk berat saat ini.


"Kenapa Andira harus bangunin aku sih."Geram Gilang. Setelah itu Gilang tidur lagi di emperan masjid.


"Hei...anak muda. Kenapa kamu tidur di sini?" tanya seorang lelaki.


Gilang tersentak.


"Eh, maaf Pak." Ucap Gilang.


"Nak, itu sholatnya udah mau di mulai. Kenapa kamu malah tidur. Sholat itu lebih baik dari pada tidur Nak." Kata bapak itu lagi.


"Iya Pak, Aku tahu. Terimakasih yah Pak, sudah mengingatkanku.


"Iya. Sama-sama."kata Bapak itu sembari pergi meninggalkan Gilang sendiri.


Setelah bapak itu pergi, Gilang pun akhirnya buru-buru ke kamar mandi untuk berwudhu. Dia berwudhu dan ikut berjamaah.


Usai sholat, Andira masih melanjutkan untuk mendengar kultum. Begitu juga dengan Gilang. Sambil menunggu istrinya itu, dia ikut mendengarkan kultum tersebut.


Namun apalah yang di bahas di dalamnya. Ustad itu membahas dosa orang berzina. Membuat sesak nafas Gilang dan nyeri ulu hatinya. Betapa banyak dosa yang dia goreskan pada hati para perempuan di masa lalu.


Selesai itu semua,bAndira keluar. Dia masih mendapati suaminya sedang melamun.

__ADS_1


"Ayo Mas! kita lanjutin lagi perjalananya. Ngapain malah bengong!. " Kata Andira.


"Iya Dek. Ayo...!" Kata Gilang.


Setelah itu, merekapun pergi meninggalkan masjid itu.


Gilang dan Andira langusng menghampiri mobil mereka yang masih dalam keadaan kempes ban nya.


"Mas, gimana ini? ban kamu bocor gitu. Mending kita ke bengkel saja."


"Siapa yang mau dorong sampai ke bengkel sayang? Kamu?" tanya Gilang.


Andira tampak brrfikir. Yah, mungkin saat ini Gilang itu masih dalam ke adaan lelah.


"Ya udah. Aku mau nyari bengkel."Kata Andira sembari melangkah pergi. Gilang buru-buru mencekal tangan Andira.


"Tunggu sayang. Nggak usah. Kamu tunggu di sini. Biar aku saja yang manggil orang untuk bantuin kita."Kata Gilang.


Setelah itupun Gilang pergi mencari bantuan.


...****************...


Malam ini, Fikri sudah terbang ke Jerman. Mama Fikri dan Papa Fikri masih tampak ada di ruang tengah.


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu dari depan rumah.


Mama Fikri kemudian melangkah menuju ke ruang tamu. Dia akan melihat siapa yang datang.


Mama Fikri membuka pintu. Dan di lihatnya Sofi bersama orang tuanya.


"Assalamu'alaikum." Ucap ke dua orang tua Sofi dengan ramah. Sepertinya mereka akan bicara baik-baik perihal ke hamilan Sofi.


"Wa'alaikum salam."Ucap Bu Dian Mama Fikri.


"Mau cari siapa yah?" tanya Bu Dian.


"Ini Benar dengan rumahnya Gilang?" tanya papa Sofi.


"Iya benar. Ada perlu apa yah?" tanya Bu Dian.


"Begini Bu, saya ada perlu sama Gilang."


"Perlu apa yah?" tanya Bu Dian lagi. Dia bingung dengan kehadiran orang asing itu.


"Maaf. Kita tidak bisa ngomongin di sini." Kata mama Sofi.


"Oh, baiklah,ayo kita masuk." Ucap Bu Dian mempersilahkan tamunya masuk.

__ADS_1


Sofi dan orang tuanya masuk. Bu Dian kemudian mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu. Bu Dian yang masih tampak bingung itu, memanggil suaminya.


"Pa. Ada tamu. Mereka nyariin Gilang. Kira-kira ada apa yah?" Ujar Bu Dian.


Pak Danu Papa Fikri mengernyitkan alisnya.


"Siapa Ma, malam-malam gini yang bertamu?."


"Mama juga nggak tahu. Mama nggak kenal sama mereka."


Bu Dian dan Pak Danu kemudian menghampiri tamunya di ruang tamu. Sebelum duduk, Bu Dian dan Pak Danu tersenyum ramah pada tamunya. Mereka tidak tahu apa sebenarnya tujuan kedatangan tamunya itu.


" Maaf sebelumnya, Bapa dan ibu ini siapa yah?" tanya Pak Danu.


"Perkenalkan. Nama saya Widodo, dan ini istri saya Mia."


"Ada perlu apa yah mencari anak saya?" tanya Pak Danu.


"Kedatangan kami ke sini, ingin bertemu anak ibu dan bapak,Gilang."


"Aduh, Gilangnya udah nggak tinggal bersama kami lagi. Dia sudah beristri, jadi dia sudah memutuskan untuk tinggal sendiri di rumahnya."


Bu Mia dan Pak Widodo saling menatap.


"Ya udah, kami ngga perlu basa-basi lagi sama kalian. Kami datang ke sini ingin meminta pertanggung jawaban dari Gilang.Putri saya satu-satunya ini hamil karena ulahnya Gilang."Kata Bu Mia yang sudah tampak emosi.


Bu Dian pak Danu merasa sangat terkejut sekali. Tiba-tiba saja Bu Dian jatuh pingsan. Membaut kedua orang tua Sofi ikut panik.


"Maaf saya tinggal sebentar. Saya mau membaringkan istri saya ke dalam."Kata Pak Danu.


Setelah Pak Danu membaringkan Bu Dian ke kamarnya, Pak Danupun kembali menemui orang tua Sofi. Masalah sebesar ini, memang harus di hadapi secara kekeluargaan supaya tidak menyebar ke luar. Apalagi Pak Widodo dan Pak Danu adalah sama-sama pengusaha sukses.


"Pokoknya Gilang harus tanggung jawab dan menikahi Sofi anak saya, kalau tidak, kami akan tuntut masalah ini." Kata Bu Mia.


Sekarang justru Bu Mia yang sangat kesal dan emosi.


"Baiklah, kami pasti akan bicara dengan Gilang. Dan aku pastikan, Gilang tidak akan lari dari tanggung jawab." Kata Pak Danu kemudian.


"Saya pegang omongan bapak yah. Pokoknya Gilang harus menikahi Sofi. Kami malu, mau di taruh di mana nama baik keluarga kami. Ini semua juga karena ulah anak bapak." Kata Bu Mia.


Pak Danu diam. Dia benar-benar merasa terpukul hatinya. Ternyata anak yang selama ini sudah dia didik dan dia sekolahkan tinggi-tinggi, sekarang telah melempar kotoran ke muka ayahnya.


Seandainya Pak Widodo dan Bu Mia itu menuntut Gilang, pasti berita itupun akan tersebar luas.


"Ya udah kalau begitu, saya permisi dulu." Kata Pak Widodo.


Pak Widodo dan Bu Mia kemudian pulang. Sementara Pak Danu masih terdiam seperti patung.


"Tuan, Nyonya sudah sadar Tuan. Dia mau bertemu Tuan." Kata Bik Rumi mengejutkan.

__ADS_1


"Oh, baiklah saya ke sana."


Setelah itu Pak Danu ke kamarnya untuk menemui istrinya.


__ADS_2