
Liburan semester kali ini, Fikri dan Andira akan mengajak anak-anak nya untuk pergi ke Surabaya. Dia akan berkunjung menemui Zaki anak bungsunya itu di pesantren. Rasanya, Fikri dan Andira itu sudah sangat kangen sama Zaki. Karena Zaki memang anak kandung Fikri, jadi kasih sayang Fikri ke Zaki itu lebih besar dari pada ke Rafael dan Viona. Namun Fikri tetap berusaha untuk adil pada ketiga anaknya itu. Karena yang kedua anaknya itu adalah anak tiri sekaligus keponakannya, anak kandung dari kakaknya yang sudah meninggal.
Di meja makan, Fikri, istri dan kedua anaknya itu sudah berkumpul. Mereka sepertinya sedang menikmati makan malam kali ini. Fikri masih tampak menikmati makanannya. Fikri memang tidak suka masakan pembantu. Dia lebih suka masakan istrinya. Begitu juga dengan Rafael. Dia juga suka masakan mamanya. Dia ingin selalu di bawakan bekal untuk ke kampus. Itu semua yang membuat Andira repot sendiri, karena harus mengurus semuanya.
" Raf," Ucap Fikri di sela-sela kunyahannya.
" Iya."
" Kamu mau nggak ikut ke Surabaya?" Tanya Fikri.
Rafael diam. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Mungkin saja Rafael itu masih banyak kerjaan. Mungkin dia masih mempunyai banyak jadwal syuting di liburan semester.
" Rafael nggak tahu Pa, bisa ikut atau nggak." Ucap Rafael setelah lama berfikir.
" Kamu nggak bisa ikut lagi? Semester kemarin kamu nggak ikut. Sekarang, kamu juga nggak mau ikut lagi? Kamu nggak pengin nengokin Oma dan Opa kamu? mereka kangen lho, sama kamu." Andira begitu sangat kesal.
Andira itu benar-benar harus ekstra sabar menghadapi anak yang keras kepala seperti Rafael. Rafael benar-benar mirip Gilang. Kalau ikut, pasti dia harus ikut. Kalau dia bilang nggak, dia juga pasti tidak akan ikut.
" Siapa yang bilang nggak akan ikut sih Ma, aku kan bilang nggak tahu, aku bisa ikut atau nggak." Kata Rafael dengan nada tinggi. Sepertinya dia sedikit emosi kali ini.
" Pasti semua ini gara-gara pekerjaan kamu itu kan. Apa untungnya sih Raf, jadi seorang model." Kata Fikri.
"Rafael, mending kamu berhenti aja jadi seorang model. Nggak ada untungnya Raf. Mending kamu fokus ke kuliah kamu dulu, setelah lulus, kamu nanti bisa bantuin papa kamu di kantor. Iya kan Pa." Ucap Andira sembari menatap sejenak suaminya.
Bruaaak. Rafael tiba-tiba saja menggebrak meja makannya.
__ADS_1
" Cukup...! kalian itu tidak usah membahas kerjaan Rafael. Rafael mau jadi model, mau jadi apa itu urusan Rafael. Bukan urusan kalian. Karena ini kehidupan ku. Bukan kehidupan kalian. Tidak ada yang berhak untuk ngatur kehidupan ku, termasuk kalian. Apa lagi kalian itu bukan orang tua kandung ku." Ucap Rafael.
Ucapan Rafael itu seperti menusuk ke hati Andira dan Fikri. Setelah Rafael tahu, kalau Andira dan Fikri itu bukan ayah dan ibu kandungnya, Rafael jika marah, selalu mengungkit kata-kata itu. Kalian itu kan bukan orang tua kandung ku.
Itu semua membuat sakit hati Fikri dan Andira. Padahal, selama ini mereka itu yang sudah merawat Rafael dari Rafael bayi sampai sekarang Rafael berusia 18 tahun.
Viona hanya bisa geleng-geleng kepala. Dulu Rafael tidak seperti itu. Tapi setelah mengetahui kalau Andira dan Fikri itu bukan orang tua kandungnya, Rafael jadi sangat kecewa karena merasa di bohongi oleh Fikri dan Andira. Karena Fikri dan Andira itu tidak pernah menceritakan yang sebenarnya pada Rafael. Rafael juga tidak pernah di kasih tahu, di mana makam Gilang ayahnya dan makam Sofi ibunya.
Andira dan Fikri hanya bisa saling menatap.Rafael sedari tadi masih menatap makanannya tanpa dia makan.
" Rafael. Cukup Rafael. Jaga mulut kamu. Jaga bicara mu. Walau kami bukan orang tua kandung mu, tapi kami adalah orang tua yang sudah merawatmu sejak kamu bayi sampai sekarang. Dam kamu itu tidak boleh bicara seperti itu. Apalagi di depan mama Andira. " Kata Fikri.
Jika Rafael marah dan emosi, Andira tidak bisa berbuat apa-apa. Dia juga merasa bersalah pada Rafael karena sudah menyembunyikan identitas aslinya Rafael. Rafael selama ini selalu mengira Andira dan Fikri itu adalah orang tua kandungnya.
"Aku itu kecewa. Kenapa selama ini kalian itu bohongin aku. Kenapa kalian tidak mengenalkan ku pada ibu kandung dan ayah kandung ku. Kenapa kalian merahasiakan semuanya. Kalian tidak pernah mengajak ku ke makam ayah ku Gilang dan ibu ku Sofi." Kata Rafael sembari membanting sendoknya.
Rafael kemudian beranjak dari duduknya. Dia tidak melanjutkan makannya. Dia seperti sudah hilang selera makannya gara-gara orang tuanya.
" Rafael, mau kemana kamu? papa belum selesai bicara..!" Seru Fikri yang sudah melihat Rafael pergi.
Andira hanya bisa menangis. Jujur dia itu sakit hati saat melihat pembangkangan Rafael. Rafael sudah benar-benar berani sama orang tua yang sudah merawatnya sejak dia masih kecil dan sampai sekarang.
Viona menatap mamanya. Dia kemudian mendekat ke arah mamanya.
" Sabar yah Ma. Biar Vio yang bicara sama Rafael." Ucap Viona.
__ADS_1
Viona menatap Papanya. Fikri yang di tatap hanya mengangguk.
" Iya coba kamu bicara sama Rafeal. Siapa tahu dia mau dengar." Kata Fikri
Setelah itu Vionapun pergi meninggalkan meja makan. Dia menyusul Rafael yang ada di kamarnya.
Rafael masih tampak duduk di sofa. Dia terdiam. Entah apa yang ada dalam fikirannya.
" Rafael." Ucap Viona setelah dia sampai di kamar Rafael. Viona mendekat ke arah Rafael. Setelah itu Vionapun duduk di samping Rafael.
" Kamu kenapa Raf?" Tanya Viona
Rafael yang di tanya hanya diam.
" Raf, aku tahu perasaan kamu. Kamu pasti kecewakan sama mama dan papa karena mereka sudah membohongi kamu? Kamu selama ini selalu berfikir kalau mama Andira itu mama kamu. Tapi setidaknya, mereka juga orang tua kita. Mama Andira yang telah memberikan ASI kepada mu. Kamu seharusnya tidak boleh seperti itu. Dan Papa Fikri juga bukan orang lain. Dia itu Om kita Raf. Adik dari almarhum papa."
" Tapi kenapa dia harus menyembunyikan makam mama ku. Mama yang telah melahirkan ku."
" Mungkin mereka belum siap untuk cerita sama kamu. Mereka akan cerita kalau kamu itu sudah besar."
" Apa bedanya aku masih besar atau masih kecil. Nggak ada bedanya kan?"
" Tapi Raf, kasihan mama Andira. Dia sedih banget kalau kamu jadi anak pembangkang seperti itu.
Rafael menghela nafasnya dalam. Dia mencoba untuk menahan emosinya. Dia tidak mau emosinya itu menjadikan hubungannya dengan orang tuanya itu tidak baik.
__ADS_1