
"Fikri, sekarang, pergilah kamu! Carilah Gilang...!" Kata Pak Danu.
"Baiklah Pa. Aku akan ke Surabaya. Tolong Pa. Jagain Mama." Kata Fikri.
Fikri kemudian pergi mencari Gilang ke Surabaya. Dia meluncur dengan mobilnya dari Jakarta sampai ke Surabaya.
...****************...
Gilang sekarang sudah ada di rumah Joe. Gilang masih ada di teras depan rumah Joe. Dia tampak sedang menikmati teh hangat bersama sahabat karibnya.
Sementara Andira masih ada di kamarnya. Andira masih kebingungan.
"Kenapa Mas Gilang bawa aku kesini? Kenapa? Ini kan rumah temannya Mas Gilang. Ngapain juga kita harus tinggal di sini." Gumam Andira sembari mengepaki baju-bajunya ke dalam lemari.
Joe, dialah sahabat karib Gilang yang sudah tidak mempunyai orang tua. Dia masih lajang dan masih jomblo.
Dia memang tidak begitu tertarik pada wanita. Bukan karena apa-apa. Itu semua karena Joe lagi mau fokus dengan karirnya.
Dia ingin terus mengembangkan seluruh perusahaan, warisan dari orang tuanya.
Joe tidak kalah cakep ketimbang Gilang. Tapi joe sangat teliti dalam memilih cewek. Dia tidak akan memilih cewek yang berpenampilan glamour dan cewek-cewek seksi seperti yang selama ini Gilang pacari.
Joe menginginkan seorang istri soleha yang bisa menjadi guru untuk anak-anaknya kelak.
Joe menyereput kopinya. Dia tampak menikmati udara di pagi ini.
"Ada masalah apa sebenarnya Lang? Kenapa Lo, sepertinya pusing banget."
"Gue nggak bisa ceritakan sekarang. Gue nggak mau istri gue dengar masalah ini. Ini masalah gue dengan cewek gue."
"Benar-benar lo Lang. Lo masih sama kayak dulu. Nggak ada yang berubah. Sudah punya istri secantik Andira, lo masih main saja dengan wanita."
"Jangan kencang-kencang ngomongnya. Gue takut Andira dengar."
"Sob, Lo cinta nggak sama istri lo?"
"Gue cinta sama dia."
"Tapi lo jangan begitulah, lo itu sudah mau jadi ayah. Lo tinggalin aja semua wanita lo..."
"Gue belum bisa bro. Seandianya gue bosan dengan Andira, gue butuh wanita yang enak di ajak ngobrol dan berbagi."
"Tapi yah, buat sahabat ajalah, ngga perlu lo pacarin dan tidurin. Itu namanya lo gila."
" Terserahlah Lo mau ngomong apa. Gue juga penginnya seperti itu. Tapi gue belum bisa. Gue juga belum bisa berhenti mencintai Maharani. Dia yang sudah mengenal gue luar dalam."
"Kenapa lo nggak nikahin dia?"
"Gue kan udah bilang, gue menikah dengan Andira bukan kemauan gue, tapi kemauan orang tua sob,"
__ADS_1
mcek... Joe mendecak dan geleng-geleng kepala. Joe mendekat ke arah Gilang.
"Kalau Lo, mau sia-siain istri lo, kenapa nggak lo serahin aja dia buat gue. Gue kan masih jomblo bro."
Plak.
Gilang menabok bahu Joe.
"Ha...ha...ha..." Joe tertawa.
"Sssssstttt... Diam lo...! ngapain ketawa?"
"Benar-benar manusia nggak punya hato lo. Manusia serakah lo Gilang," Kata Joe memaki.
Gilang menatap Joe nanar. Sepertinya Gilang sudah mulai terpancing dengan ucapan demi ucapan yang Joe lontarkan.
Joe kembali menyeruput kopinya. Dia menatap ke depan.
Rumah Joe yang sangat luas itu, dengan kebun di depan rumah yang tampak bunga yang berwarna-warni itu, membuat kenyamanan tersendiri untuk penghuninya. Yah, Joe memang orang yang sangat suka berkebun.
Istri Gilang sangat cantik, dia wanita berhijab, dia sepertinya istri yang penurut dan berbakti sama suaminya. Dia ajak kabur aja nurut. Ah, kasihan Andira, harus punya suami playboy macam Gilang. Harusnya Gilang beruntung, bisa punya wanita secantik dan sebaik Andira. Seandainya Gue yang jadi Gilang, gue pasti akan jaga Andira baik-baik.
"Gue ke dalam dulu bro. Mau bantuin istri gue."
"Yah silahkan..." Kata Joe.
Gilang kemudian pergi meninggalkan Joe.
Ceklek...
Gilang tampak membuka pintu.
Di lihatnya Andira tampak sedang membereskan baju-bajunya ke lemari.
Gilang memeluknya dari belakang.
"Sayang, mau aku bantuin?" tanya Gilang.
"Mas, lepasin. Kenapa kamu pagi-pagi gini main peluk-peluk sih...!" Kata Andira.
Joe ternyata ada di depan kamar Gilang. Dia menatap Gilang dan Andira sedang berpelukan.
" Ah, Gilang rese, kenapa mereka berpelukan nggak nutup pintu. Apa Gilang sengaja mau pamer kemesraan di depan aku. Aku kan masih jomblo." Gumam Joe pelan.
Joe mendekat ke arah Gilang.
"Ehem..." Joe berdehem.
Membuat Gilang dan Andira tersentak.
__ADS_1
"Bisa nggak sih kalau bermesraan tutup pintu. Jangan bikin aku iri saja deh."
Andira tersipu malu. Sementara Gilang hanya tersenyum bahagia. Yah, memang dia sengaja pamer kemesraan di depan Joe.
"Maafkan kami Joe," Kata Andira gugup.
Joe tersenyum.
"Nggak masalah Andira. Gilang, Andira, sekarang kita turun ke bawah yah, kita sarapan bareng." Kata Joe.
"Iya Joe. Terimakasih untuk semua kebaikan kamu."
Beberapa menit kemudian, Joe, Gilang dan Andira tampak ada di ruang makan. Mereka tampak menikmati sarapan di pagi ini.
Joe masih curi-curi pandang ke arah Andira. Sepertinya Joe sedikit merasa iba pada Andira. Karena apa, karena Joe itu tahu siapa Gilang. Gilang itu tidak akan pernah berhenti jadi play boy.
Kasihan wanita ini, dia sangat lugu. Dia tidak tahu menahu apa yang sering suaminya lakukan di belakangnya.
"Em, Gilang, mulai besok, kamu sudah bisa kerja di kantor aku." Kata Joe.
"Thanks banget Joe. Lo memang sahabat terbaik gue."Kata Gilang.
Andira diam saja. Dia tidak tertarik sama sekali dengan obrolan ke dua lelaki yang sekarang sedang makan bersamanya.
Andira malah di sibukan memikirkan Fikri.
Mas Fikri lagi ngapain yah? pasti sekarang Mas Fikri lagi cemasin aku.Maafkan aku Mas, mama Dian, papa Danu, aku belum bisa ngabarin kalian. Pegang hape saja aku nggak boleh. Batin Andira.
Andira masih melamun. Dia cuma mengaduk-aduk makanan yang ada di depannya.
"Andira, kamu kenapa. Makanannya nggak enak yah?." Tanya Joe.
Andira yang di tanya diam saja. Dia masih melamun. Fikirannya sekarang tidak bersamanya.
"Sayang, kamu lagi mikirin apa?" tanya Gilang.
"Eh, Mas, nggak apa-apa kok. Aku cuma lagi ingat mama Dian Mas. Tiba-tiba saja, perasaan aku jadi nggak enak."
"Sudahlah di makan makanannya. Apa kamu masih belum makan nasi? " tanya Gilang.
"Aku nggak lagi mual sih Mas, tapi aku memang belum aja suka makan nasi." Kata Andira.
"Ya udah Andira. Apa kamu suka jus buah? Biar Bik Uni buatin untuk kamu."
"Em, kayaknya enak yah Joe. Jus buah. Boleh deh...Aku mau jus buah."
"Baiklah nanti saya panggil Bik Uni." Kata Joe.
Joe kemudian melangkah ke arah dapur untuk memanggil asisten rumah tangganya.
__ADS_1
"Bik, tolong buatin jus buah untuk Andira."
"Tapi buah apa Den?"