Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
Hampir Kejambret.


__ADS_3

"Baiklah, berapa yang kalian minta?" tanya Andira.


Lelaki itu saling menatap. Andira kemudian mengambil tas kecilnya yang berisi dompet.


"Kami mau semuanya." Jawab lelaki itu.


Andira terkejut. Dia tidak mengerti apa yang ke dua orang itu katakan.


"Maksud kalian apa?" tanya Andira.


"Saya mau minta anda memberikan semua uang anda kepada kami." kata seorang lelaki yang di tabrak.


"Apa maksud kalian? apa kalian mau merampok."


Ha...ha.. ke dua lelaki itu tertawa. Kemudian dia menjabret tas dan dompet Andira. Mereka berduapun lari.


"Tolong...tolong... jambret...jambret..." Andira menjerit dan dia mencoba mengejar penjambret itu.


Tiba-tiba saja seorang pemuda yang berpakaian resmi seperti orang kantoran itu mengejar perampok itu.


"Hei, kembalikan tas wanita itu!." Kata pemuda itu.


Kedua penjambret itu, tiba-tiba saja menghajar pemuda itu.


"Kurang ajar. Siapa lu, jangan berani ikut campur masalah kita." Kata salah satu dari penjambret itu.


Pemuda itu menghajar ke dua penjambret itu. Setelah itu, pemuda itu akhirnya mendapatkan tas Andira. kedua penjambret itu akhirnya kabur dari tempat itu.


" Ah, ini pasti tas wanita itu. Aku akan mengembalikannya."


Pemuda itu kemudian pergi menghampiri Andira.


Andira tampak kepanasan. Karena waktu ini matahari sudah mulai panas. Jam sudah menunjukan jam sebelas siang.


Pemuda itu mendekat.


"Ini tas kamu kan?" Tanya pemuda itu.


Andira tersenyum. Mualnya sedari tadi tidak tertahankan. Kepalanya sangat nyeri. Entah kenapa? Mungkin karena dia shock dengan kejadian penjambretan tadi.


Andira meraih tasnya.Tiba-tiba saja pandangannya kabur dan tubuhnya pun ambruk.Untunglah pemuda itu, dengan sigap langsung menangkapnya.


"Aduh, gimana ini? kenapa wanita ini mesti pingsan sih?!"


Pemuda itu tanpa fikir panjang lagi, mengangkat tubuh Andira. Dia kemudian mengantar Andira ke rumah sakit.


...****************...


"Bagaimana keadaan wanita itu Dok?" tanya pemuda itu.


"Dia nggak apa-apa. Cuma kecapean aja. Biasa, wanita hamil itu tidak boleh stres dan kecapean."


"Oh, jadi wanita itu lagi hamil."


"Apa dia istrimu Pak?"


Pemuda itu menggeleng.


"Dia wanita yang barusan aku tolong." Kata Pemuda itu.


Setelah dokter itu pergi, pemuda itu kemudian masuk ke ruangan Andira. Pemuda itu mendekat.


"Kamu sudah sadar? " tanya pemuda itu.


"Iya. Makasih yah, kamu udah mau menolongku."


"Iya sama-sama."


pemuda itu kemudian mengulurkan tanganya.

__ADS_1


"Oya, kenalin. Aku Faisal."


Andira tersenyum. Namun dia tidak menjabat tangan Faisal.


"Maaf. Aku tidak terbiasa bersalaman dengan lelaki. Aku Andira."


"Oh,nggak apa-apa." Ucap Faisal.


Andira beringsut duduk.Matanya menelusuri tempat itu.


"Kamu nyari tas kamu. Tas kamu aku taruh di laci." Kata Faisal.


Faisal kemudian membuka laci dan meraih tas Andira.


"Makasih yah, tadi kamu sudah menyelamatkan aku." Ucap Andira tersenyum.


"Iya sama-sama."Kata Faisal.


Andira kemudian merogoh ponselnya yang ada di dalam tasnya.


"Kamu mau telpon suami kamu?"tanya Faisal.


"Iya." Jawab Andira singkat.


Andira kemudain menelpon Gilang.


" Ih, Mas Gilang, kenapa sih, lagi-lagi nomer kamu mati." Gerutu Andira.


"Kenapa Andira? apa kamu mau pulang? kalau mau pulang, biar aku antarkan." Faisal mengusulkan.


"Nggak usah. Aku mau telpon kakak ku aja. Biar dia jemput kesini."


"Oh, ya udah."


Andira kemudian menelpon Fikri.


Andira tersenyum."Wa'alaikum salam."


"Ada apa Andira?"


"Mas, kamu lagi sibuk yah?"


"Nggak kok Dek, ada apa memang?"


"Mas bisa nggak jemput aku?"


"Jemput kamu di mana Dek?"


"Di rumah sakit Mas."


Fikri terkejut.


"Apa Dek, kamu di rumah sakit? "


"Iya. Aku nggak apa-apa kok Mas, aku cuma pingsan saja."


"Emang Gilang kemana?Nggak nemenin kamu?"


Andira menggeleng.


"Nggak Mas. Mas Gilang, di telpon nggak aktif nomernya."


"Ya udah, tungguin Mas yah Dek,Mas nanti ke situ."


"Iya Mas, terimakasih. Assalamu'alaikum.


"Wa'alaikum salam."


tut. Fikri kemudian memutuskan sambungan telponnya.

__ADS_1


Fikri begitu sangat mengkhawatirkan Andira. Dia cepat-cepat mengambil mobilnya yang ada di parkiran kantor. Dia kemudian meluncur ke arah rumah sakit.


Sesampai di sana, Fikri melihat Andira yang wajahnya tampak memucat.


"Andira, kamu kenapa?kamu nggak apa-apa kan?" tanya Fikri penuh ke khawatiran.


Andira tersenyum dan menggeleng.


"Nggak apa-apa Mas."


"Ya syukurlah."


Andira kemudian memperkenalkan Faisal dengan Kakak iparnya.


Faisal dan Fikripun berjabat tangan


Wah, lelaki ini cakep banget, apakah mungkin, Andira tidak akan tergoda. Batin Fikri.


Yah, mungkin saja saat ini, Fikri di landa cemburu.


"Kamu suaminya Andira yah?" tanya Faisal.


"Iya saya suaminya." Ucap Fikri penuh keyakinan. Membuat Andira jadi bingung.


Mas Fikri apaan sih? kenapa dia ngaku-ngaku jadi suamiku. Ada-ada saja. Batin Andira.


"Tadi, saya menemukan istri bapak di jalan, dia kejambretan. Untunglah aku datang. kalau aku datang nggak tepat waktu. Entahlah apa yang akan terjadi dengan istrimu. Pasti dia akan kehilangan semua barang-barangnya."


Fikri tersenyum."Terimakasih yah?"


" Iya Pak Fikri, Andira, aku pergi dulu yah. Jaga kandunganmu baik-baik." Ucap Faisal sebelum pergi.


Andira mengangguk.


Faisal kemudian pergi.


Dan di kamar rumah sakit, tinggalah Fikri dan Andira.


Fikri dan Andira sama-sama terdiam.


"Andira, kamu benar nggak kenapa-napa? Aku sangat khawatir banget sama kamu." Ucap Fikri.


"Sudahlah, aku nggak apa-apa. Aku cuma kecapean aja kok. Mas Fikri nggak usah khawatir!"


"Gilang kemana?"


" Aku nggak tahu Mas.Tapi dari tadi ponselnya nggak aktif."


"Oh, iya."


Ah, aku tahu Andira, kalau Gilang itu pasti menemui pacarnya.Aku udah tahu karakter adik ku. Karena dia memang mata keranjang. Aku juga nggak tahu, kenapa punya adik bisa kayak gitu. Tapi aku nggan mau mengatkan apa-apa dulu. Lebih baik Andira nggak tahu dulu. Dari pada dia tahu, dia pasti akan tambah banyak fikiran." Batin Fikri.


"Kita akan pulangkan Andira?" tanya Fikri.


"Iya Mas. Aku juga mau mengambil mobilku dulu di jalan itu."


"Oh, ya udah. Aku antar kamu ambil mobil kamu yah." Kata Fikri.


"Setelah itu kita pulang."Ucap Fikri.


Yah, lagi-lagi Fikri yang mau tulus menemani Andira. Bagaimana jika Gilang harus menikahi perempuan lain. Belum menikahi wanita lainpun Gilang sudah main mengilang saja.


Bagaimana kalau Andira benar-benar akan mempunyai madu. Apakah Andira sanggup, jika harus selamanya tersakiti. Mungkin saja tidak. Tapi untuk kali ini, dia harus bertahan demi anaknya. Jika saja mereka harus berceraipun, harus menunggu anak mereka lahir dulu. Nggak mungkin kan orang hamil di ceraikan.


"Dir, kamu kenapa? Kok diam saja." tanya Fikri.


"Aku nggak apa-apa Mas."Ucap Andira berbohong.


Padahal sedari tadi, dia memikirkan Gilang. Entah kenapa yang selama ini Andira fikirkan hanya Gilang. Hanya Gilang yang terus saja dia fikirkan.

__ADS_1


__ADS_2