Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
POV Viona


__ADS_3

Aku sangat salut sama mama ku Andira. Dia adalah wanita yang sangat pekerja keras. Dia mampu membesarkan aku dan Rafael tanpa seorang pembantu.


Aku masih ingat. Se waktu aku bayi, Mama ku setiap hari memasak di dapur untuk menyiapkan sarapan buat papa. Setelah itu, dia memandikan kami dan membawa kami ke butiknya. Dan di sana,kami itu di baringkan di box bayi kami. Dan box bayi itu masih ada di sana. Mama Andira selalu menyimpannya. Dan mama Andira di lacinya juga selalu menyimpan foto kenangan papa Gilang. Pokoknya, banyak kenangan yang di simpan di sana oleh mama Andira.


Setelah kami sekolah, mama Andira itu seperti biasa setiap hari, dia itu selalu memasak, beresin rumah, dan dia mengantar jemput aku dan Rafael sekolah. Menurutku, papa Fikri itu beruntung sekali jika mendapatkan wanita se mulia mama Andira. Mama Andira itu sudah yatim piatu semenjak dia masih muda. Dan itu yang membuatnya menjadi wanita kuat dan mandiri.


" Viona sayang..." Ucap Mama Andira sembari mendekat ke arah ku.


Mbak Wati dan Mbak Anna menatap ku dan tersenyum.


" Wah, dia Viona yah Bu?" tanya Mbak Anna.


" Iya Anna. Dia Viona. Dia anak ku." jawab Mama Andira


" Sudah sebesar ini Viona ya Bu ?" Ucap Mbak Wati sembari memegangi kedua bahu ku.


" Wah, aku nggak nyangka bisa melihat Viona lagi. Berapa tahun kamu tidak kemari Viona.?" Tanya Mbak Ana kepada ku.


" Sudah enam tahun mungkin Mbak Ana." Kata ku.


Aku sangat mengenal betul Mbak Anna dan Mbak Wati. Dia adalah karyawan terbaik di butik mama Andira. Butik yang sudah mama Andira bangun dari dia masih gadis, sekarang sudah berkembang pesat. Dan sudah banyak cabang yang mama Andira dirikan. Itu juga tidak lepas dari dukungan papa Fikri dan papa Fikri selalu membantu mama Andira. Menurut ku, mereka adalah pasangan yang serasi. Dan mereka itu rumah tangganya sangat harmois. Sampai membuat ku iri. Kalau nanti aku berumah tangga, aku juga kepengin seperti mereka. Selalu harmonis, sampai tua. Aku juga selalu mengharapkan, kalau suatu saat nanti, aku akan bertemu dengan lelaki seperti papa Fikri. Yang tampan, pekerja keras, dan tanggung jawab.


Mbak Anna dan Mbak Wati itu kemudian memeluk ku. Dia seperti kangen sama aku. Karena mama Andira bos yang teramat baik, jadi Mbak Wati dan Mbak Anna itu betah sekali kerja di tempat mama ku. Mereka tidak pernah memandang gaji. Yang mereka pandang adalah mama Andira.

__ADS_1


" Ayo sayang. Kita naik ke atas...!" ucap Mama ku, yang seperti biasa, dia akan mengajak ku ke atas. Karena di atas itu ada sebuah kamar dan ruang kerja mama ku.


" Gimana tadi kuliah mu...?" Tanya mama Andira.


." Baik-baik aja kok Ma." jawab ku.


" Semoga kamu betah yah, kuliah di situ. Mama dan papa memilihkan universitas yang bermutu untuk kamu. Di kampus itu adalah orang-orang elit semuanya. Tapi kamu tidak usah khawatir. Karena di situ, sangat di siplin aturannya. Tidak akan ada siswa yang brutal di situ."


" Ah, mama nggak tahu sih. Ini kan Jakarta Ma. Mungkin adalah siswa yang sedikit pembangkang. Kita kan tidak tahu betul gimana luar dalamnya."


" Mama juga nggak tahu sih. Tapi, mama itu kan dapat cerita dari Rafael."


" Ah, Rafael aja di percaya. Mana ada sih Ma, semua siswa baik semua. Pasti salah satu dari mereka, pasti akan ada yang buat onar. Entah itu siapa."


Sebenarnya, sejak aku pertama kali menginjakan kaki di universitas itu, aku itu pernah di ejek oleh seseorang yang sekarang menjadi teman sekelas ku. Aku di ejek dan di bilang kampungan oleh Elis. Entahlah, mungkin karena penampilan ku yang selalu tertutup. Dan selalu mengenakan hijab. Sementara kebanyakan dari anak kampus itu, mereka semua berpenampilan netral. Mereka jarang ada yang berhijab. Dan mungkin agama di universitas ku semua itu campuran. Ada yang muslim dan non muslim. Mungkin itu semua karena universitas yang aku tempati itu adalah universitas internasional.


Sekarang aku masih berada di kamar mama Andira. Aku menatap ke sekeliling kamar mama Andira yang ada di atas butiknya. Aku merasa dari dulu sampai sekarang, tidak ada yang berubah dari kamar itu. Kamar yang masih terlihat wangi, kamar yang masih terlihat nyaman. Dan aku juga merasa sangat nyaman di butik mama ku.


Aku naik ke tempat tidur mama ku. Aku kemudian membaringkan tubuh ku dia atas tempat tidur mama Andira. Kamar yang masih sama seperti dulu, sewaktu aku masih anak-anak. Dan sekarang aku bisa merasakan kenyamanannya lagi.


" Mama, kamar mama masih sama seperti dulu." Ucap ku sembari berbaring di tengah kasur.


" Sama gimana?" tanya Mama Andira.

__ADS_1


" Sama. Nggak ada yang berubah Ma."


Mama Andira tersenyum. " Iya. Untuk apa di rubah-rubah Vio? Kalau seperti ini sudah membuat kita nyaman, untuk apa di rubah-rubah." Kata mama Andira.


Aku tersenyum.


Mama Andira kemudian mendekat ke arah ku.


" Kamu mau minum apa...?"


Aku menggeleng. " Nggak usah Ma. Aku ngantuk. Aku pengin tidur." Ucap ku.


" Ya udah sayang, tidur saja di sini. Nanti pulang bareng mama yah." Ucap Mama Andira.


Setelah itu mama Andira pergi meninggalkan ku di kamar sendiri. Aku benar-benar bahagia, karena aku bisa pulang kembali ke rumah ku di Jakarta. Kumpul bersama dengan Rafael, mama Andira dan papa Fikri.


Aku masih menatap ke atas. Aku masih memandang ke atas. Betapa nyamannya aku di kamar mama Andira. Kamar yang sejak kecil aku tinggali. Sat aku ikut di buti mama Andira.


" Eh, gimana kabar Om Denis dan Tante Andini yah?" ucap ku saat mengingat Om Dan Tante ku yang sekarang aku tidak tahu di mana keberadaan mereka. Setahu ku, mereka itu sekarang tidak tinggal di Jakarta lagi.


Om Denis ikut istrinya tinggal di Bandung. Sementara Tante Dini tinggal di Bali. Mereka sudah tidak tinggal di Jakarta lagi. Dan mama Andira di Jakarta sendiri. Kedua adiknya itu jauh darinya.


Sementara Oma dan Opa ku orang tua dari ayah ku itu sekarang sudah menetap di Surabaya. Kampung halaman Oma ku. Di sana mereka menghabiskan masa tuanya Bersama. Karena di sana, banyak saudara dari Oma ku. Dan sekarang adik ku Zaki yang sekarang ada di pesantren. Dia di masukan ke pesantren tempat aku nyantri dulu.

__ADS_1


__ADS_2