Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
POV Rafael.


__ADS_3

Tapi, itu semua memang sudah hobi ku. Selain jadi model, aku juga seorang pembalap. Aku sering balapan dengan sahabat-sahabat kampusku. Terkadang, balapan kami itu juga aku jadikan ajang taruhan. Kadang aku jadikan untuk taruhan memperebutkan cewek, kadang juga untuk taruhan yang lain.


" Bukan gitu Raf, ah kamu ini. Di nasihati selalu salah. Maksud aku itu cuma mengingatkan. Kalau mau makan jangan langsung caplok saja. Baca doa dulu." Kata ku.


Aku tidak mau memperpanjang perdebatan ini. Aku kemudian menatap ke arah makanan ku dan menghabiskan semua makanan ku.


" Rafael." Ucap Papa ku


" Iya Pa."


" Nanti libur semester, papa akan ngajakin kamu ke Surabaya. Kita akan main ke rumah Oma. Sekalian, kita nengokin Zaki adik kamu di pesantren. Betah nggak dia itu di sana." Kata Papa Fikri pada ku.


" Iya Pa."


" Kamu harus ikut yah Rafael." Ucap Mama Andira.


" Yah, kalau sempat Ma. Kalau aku ada pemotretan lagi, ya mungkin aku nggak jadi ikut." Kata ku.


" Ya terserah kamu itu. Mau ikut mau nggak. Kamu itu susah sekali untuk di bilangin. " Kata Papa Fikri yang sepertinya sudah mulai sedikit emosi.


Papa Fikri itu tegas dalam mendidik ku. Namun dia itu tidak galak. Dia itu sangat menyayangi ku. Dia tidak pernah membeda-bedakan aku dengan Zaki atau Viona. Bagi papa Fikri, ketiga anaknya itu sama. Tapi, terkadang aku juga merasa iri pada Viona dan Zaki. Kalau mama Andira dan papa Fikri itu selaku memuji-muji mereka


" Ayo habisin. Kamu mau ikut aku nggak ke kampus." Kata ku kepada saudari tiriku. Viona.


" Iya iya..." Ucap Viona yang sekarang sedang terburu-buru menghabiskan makanannya.


Viona itu memang gadis yang cantik, lemah lembut, perhatian, dia mirip seperti mama Andira. Walaupun dia cuma saudara tiri, tapi aku juga selalu menghormatinya, dan aku juga akan selalu menjaganya. Walau, memang tampak tidak ada kecocokan di antara kami, tapi kami selalu mencoba untuk rukun.


Selesai makan, akupun bangun dari duduk ku. Aku kemudian berdiri dan mengambil kunci mobil ku.

__ADS_1


" Pa, papa mau ke kantor nggak?" Tanya ku pada Papa Fikri.


" Nggak dulu. Papa pengin istirahat Nak." Ucap Papa Fikri.


" Ya udah. Kalau gitu berarti,Viona ikut bersama ku yah."


" Oh, ya udah. Kamu jaga adik mu itu baik-baik yah." Kata Andira.


Adik. Yah, begitulah yang selalu mama Andira sebutkan. Dia selalu menyebut Viona adalah adik ku. Mungkin karena aku dan dia lahirnya aku duluan, jadi mama Andira suka manggil Viona itu adik aku. Dan aku itu adalah kakaknya. Tapi, terserahlah apa yang mau mama ku katakan.


Sebelum pergi, aku kemudian mencium tangan kedua orang tua ku, di ikuti Viona di belakang ku. Setelah itu kami pun bergegas berangkat bersama menuju ke kampus.


Aku sudah semester dua, begitu juga Viona. Kami itu, baru menginjak semester dua. Itu artinya, kami masih lama menunggu lulus. Umur kamipun masih 18 tahun. Kami itu hanya beda satu bulan saja.


Aku melangkah ke arah garasi. Kulihat mobil ku sudah terparkir cantik di garasi rumah ku. Aku paling malas kalau harus pakai supir. Jadi, kemanapun aku pergi, aku selalu menyetir sendiri. Dan selama aku duduk di bangku kampus, aku selalu berangkat dan pulang bareng sama Viona. Terkadang, banyak yang mengira aku itu pacaran sama Viona. Karena wajah kita itu tidak seperti kakak beradik. Karena Viona sekarang lebih mirip Mama Andira. Semantara aku lebih mirip dengan papa Gilang. Seandainya Viona itu mirip dengan papa Gilang, pasti Vioan akan mirip sama aku.


" Ayo masuk...!" Ucap ku pada Viona.


Setelah itu akupun menyetir mobilku dengan kecepatan sedang. Aku menyetir menerjang kepadatan lalu lintas. Polusi dan kemacetan memang tidak bisa di hindari. Namun, itu semua sudah tidak asing lagi untuk ku.


" Ah, kenapa jadi macet banget begini sih...!" Gerutu ku.


" Sabar Raf." Ucap Viona.


Lagi-lagi dia menyuruh ku untuk bersabar. Aku itu memang orang yang tidak pernah sabaran. Aku mirip papa Gilang. Orang yang tidak pernah sabaran, egois dan keras kepala. Namun walaupun banyak orang yang mengatai ku seperti itu, aku tidak pernah menganggap omongan orang-orang itu.


Aku melihat lampu hijau nyala kembali. Setelah itu akupun berjalan kembali. Aku melajukan kendaraan ku sampai ke patkiran kampus.


Aku dan Viona kemudian turun dari mobil kami. Aku berjalan bersama dengan Viona

__ADS_1


Setelah sampai di kelas Viona, akupun melangkah lagi untuk sampai ke kelas ku.


Aku masuk ke dalam kelas ku. Kelas ku sudah tampak ramai sekali. Teman-teman ku sudah pada menyambutku bahagia.


" Hai Bro. Akhirnya Lo berangkat juga." Kata Radit sahabat dekat ku. Aku sudah bersahabat dengan dia sewaktu kami masih duduk di bangku SMA. Radit adalah sahabat yang paling baik untuk ku. Kami selalu melewati suka duka bersama. Dan sekarang, aku di pertemukan lagi di kelas yang sama saat kami memasuki universitas. Kebetulan, Radit itu satu jurusan dengan ku. Kami mengamil jurusan bisnis. Karena orang tua kami pengusaha. Dan kami akan sama-sama menjadi seorang pembisnis sukses.


" Kenapa emang. Lo udah kangen yah sama gue. " Ucap ku.


" Iya nih. Gue mau pinjam catatan Lo." Ucap Radit.


" Oke. Tunggu sebentar." Kata ku.


Aku kemudian mengambil buku yang ada di tas ku. Kemudian aku serahkan buku itu pada Radit.


" Ini, buku gue. Lo salin aja semua catatan yang ada di situ." Kata ku.


" Makasih yah Bro." ucapnya.


" Eh, si Miko udah berangkat belum?" Tanya ku.


" Aku belum lihat dari tadi. Sepertinya sih belum" jawab Radit.


Beberapa saat kemudian bel masuk berbunyi semua mahasiswa masuk ke dalam kelas mereka masing-masing. Setelah itu, kami mahasiswa pun kemudian mengikuti jam pelajaran mereka masing-masing.


Beberapa menit kemudian, Pak Dion dosen ku datang. Dia kemudian mengajar di kelasku.


Rasanya, aku ngantuk sekali. Mata ini sudah tidak bisa di toleran. Dan aku pun tertidur pulas di jam mata kuliah Pak Dion.


" Raffael...!" Seru Pak Dion memanggil-manggil ku. Namun aku yang tertidur, tidak tahu kalau sedari tadi dosen ku itu sudah ada di samping ku.

__ADS_1


Teman -teman sekelas ku itu diam. Mereka diam jika melihat Pak Dion itu marah. Karena mereka tahu, kalau Pak Dion itu memang dosen killer di kampus ku.


Namun, aku tetaplah seorang lelaki yang tidak takut apapun termasuk hukuman apa yang akan di berikan dosen killer itu padaku.


__ADS_2