
Sepulang kampus, aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku akan mampir dulu ke toko buku. Aku masih berdiri di depan kampus. Menunggu mama Andira menjemputku. Biasanya, dia itu akan menjemputku.
Drrrt...drrrt...
Suara getaran dari ponsel ku. Aku kemudian merogoh ponsel ku yang masih ada di dalam tas. Aku kemudian mengajar telpon dari mama Andira.
" Halo Ma..."
" Sayang, maafkan Mama yah. Mama tidak bisa jemput kamu. Soalnya, mama lagi sibuk banget nih. butik lagi ramai banget. Kamu pulan sendiri saja yah. Atau sama Rafael."
" Aduh Ma. Rafael nggak mau aku tumpangi. Katanya dia mau langsung ke pemotretan. Aku naik taksi saja yah."
" Jangan sayang. Nanti Mama telpon supir kantor saja. Biar dia jemput kamu. Jangan pulang sendirian sayang."
" Baiklah Ma."
Akupun kemudian memutuskan sambungan telpon ku. Setelah itu, akupun berdiri menunggu sopir ku.
Beberapa saat kemudian, seorang lelaki bertubuh tinggi, dan berpenampilan keren menghampiri ku.
" Hai..." Sapanya.
Aku tersenyum. Mencoba seramah mungkin pada mahasiswa di sini. Karena aku di sini adalah mahasiswi baru. Aku tidak mau punya masalah dengan mahasiswa di sini.
Sosok lelaki itu kemudian membuka helmnya. Dan aku terkejut saat melihat wajah tampannya. Baru kali ini, aku melihat makhluk tampan seperti dia. Aku sedikit terpana padanya. Dia sungguh lelaki yang terlihat perfeck dan bertubuh proposional. Sangat indah di pandang mata.
" Hai..." Saoanya lagi membuat aku tersentak.
" Eh, Kak." Ucap ku.
Cowok itu tersenyum menampakan deretan gigi putihnya.
" Kamu mau pulang yah?" tanyanya.
Aku hanya mengangguk." Iya." ucap ku.
__ADS_1
" Pulang bareng aku aja yuk?" ajaknya.
" Nggak usah deh Kak. Aku mau di jemput sopir kok." Kata ku.
" Benar nih nggak mau pulang bareng? Naik motor lebih enak dan lebih cepat lho." Dia masih saja menawari ku untuk pulang bareng.
Tapi,.bagaimana mungkin aku mau memboncengnya. Dia itu kan bukan muhrim ku. Aku selalu di ajarkan sewaktu di pesantren untuk jaga jarak dengan lelaki yang bukan muhrim ku. Dan seorang lelaki yang ada di hadapan ku itu adalah lelaki yang tampan. Yang menurutku, ketampanannya itu melebihi Rafael.
" Nggak usah Kak. Benaran aku mau di jemput sopir."
" Ya udah deh, aku nggak akan maksa lagi. Oh iya. Ngomong-ngomong, kamu itu anak baru yah? kok aku baru pernah lihat yah."
Aku hanya mengangguk." Iya. Aku anak baru di sini." Ucap ku.
" Oh iya. Boleh nggak aku kenalan. Kenalkan, aku Aryan." lelaki yang telah memperkenalkan namanya sebagai Aryan itu mengulurkan tangannya pada ku.
Namun aku tidak membalasnya. Karena kata kyai di pesantren, aku tidak boleh berjabat tangan dengan seorang lelaki.
" Aku Viona. Maaf yah,aku nggak bisa jabat tangan." Kata ku.
Aku masih berdiri dengan Aryan di samping ku. Aku tidak tahu kenapa Aryan masih berdiri di samping ku. Mungkinkah dia juga sedang menunggu seseorang, atau dia memang lagi menemani ku. Karena aku memang sedang sendiri sekarang.
Beberapa saat kemudian, sopir kantor ayah ku itu datang. Aku tersenyum bahagia. Karena mobil yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Pak Banu sopir pribadi ku akhirnya muncul. Dia kemudian keluar dari mobil. Setelah itu, dia mengajak ku untuk pulang ke rumah.
" Ayo Non. Kita pulang." Ajaknya.
" Baik Pak." Ucap ku.
Aryan masih menatap ku. Aku merasa tidak enak sendiri, jika ada seorang lelaki yang menatap ku. Padahal, aku selalu memakai gaun tertutup dan hijab yang lebar saat keluar rumah. Namun mungkin kecantikan ku, yang membuat banyak lelaki ingin mengenal ku lebih jauh, dan kebanyakan dari mereka, banyak yang mau pdkt sama aku. Entah itu waktu di pesantren,atau waktu di mana pun. Yah, aku sama dengan Rafael. Rafael banyak di kagumi wanita, dan aku banyak di kagumi lelaki. Rasanya, sekarang aku juga masih tidak percaya kalau aku ini, sudah menetap di Jakarta setelah enam tahun aku tinggal di pesantren. Yah, waktu lulus SD aku itu di kirim ke pesantren di Surabaya. Kampung tempat Oma dan Opa ku tinggal sekarang.
Aku kemudian menatap Aryan sebelum aku pergi.
" Jemputan ku sudah datang. Aku pergi duku yah." Ucap ku sebelum pergi.
__ADS_1
Aryan hanya mengangguk dan tersenyum. " Iya. Hati-hati yah dijalan." Ucapnya.
Setelah itu, akupun pergi dengan Pak Banu meninggalkan kampus ku. Aku sekarang akan pergi menuju ke toko buku.
" Apakah kita akan langsung pulang Non?" Tanya Pak Banu.
" Nggak Pak. Aku mau ke toko buku dulu." Ucap ku.
" Baik Non. "
Aku bersama Pak Banu kemudian pergi ke toko buku. Aku akan membeli buku seperti biasa, untuk bahan bacaan di rumah. Aku suka membaca novel. Dan aku suka dengan novel religi. Aku juga sekarang, sedang berlatih untuk menjadi seorang penulis novel. Aku berharap, suatu saat aku akan seperti para penulis terkenal, yang karyanya bisa di nikmati semua orang.
Sesampai di toko buku, akupun kemudian turun dari mobil ku. Setelah itu akupun melangkah masuk ke dalam toko itu. Aku kemudian memilih buku-biku keluaran terbaru.
Aku menemukan sebuah buku yang sepertinya bagus untuk aku baca. Dan aku akan membelinya untuk bahan bacaan ku nanti. Setelah selesai membeli, akupun kemudian masuk lagi ke mobil ku.
" Kita mau kemana lagi Non...?" Tanya Pak Banu.
Aku diam. Aku tidak mau pulang ke rumah. Aku itu di rumah tidak punya teman. Aku juga baru di Jakarta. Jadi, aku belum banyak teman di sini. Aku kemudian berfikir bagaimana kalau aku ke tempat mama Andira. Siapa tahu, aku bisa bantu-bantu di sana.
" Pak. Kita ke butik mama Andira saja yah." Ucap ku.
Aku dan Pak Banu kemudian meluncur pergi ke tempat butik mama Andira. Sampai di sana, aku pun turun.
" Pak Banu pergi aja. Nggak usah tungguin aku. Aku mau pulang bareng sama mama." Ucap ku.
" Baiklah Non kalau begitu." Ucap Pak Banu.
Aku kemudian masuk ke dalam butik mama Andira.
" Assalamualaikum." Ucap ku.
Aku kemudian masuk menghampiri Mbak Ana dan Mbak Wati karyawan mama ku.
" Wa'alaikum salam." Ucap Mbak Wati dan Mbak Anna.
__ADS_1
" Eh, kamu siapa?" Tanya Mbak Wati yang sepertinya tidak mengenali ku. Mungkin karena aku sudah lama sekali tidak ke butik mama ku. Jadi, karyawan -karyawan mama ku sampai lupa sama aku. Padahal, dulu sewaktu masih bayi dan sewaktu aku masih kecil, aku itu selalu di bawa ke butik. Dulu aku dan Rafael, selalu di ajak ke butik saat Papa Fikri di kantor dan mama Andira itu harus mengurus butiknya.