Suamiku Playboy

Suamiku Playboy
Doa Andira.


__ADS_3

"Iya Mbak. Aku akan mencoba bersabar demi anak ini. Aku pasti kuat untuk mempertahankan rumah tangga ini dengan Mas Gilang. Aku lakukan ini demi anak ku yang masih dalam kandungan."


"Iya Bu." Kata Mbak Muti penuh iba.


Andira hanya bisa bercerita sama pembantunya. Yah, pada siapa lagi kalau bukan sama Mbak Muti. Di rumah Andirakan, cuma ada Mbak Muti.


...****************...


Malam ini Andira bersimpuh di atas sajadah lebarnya. Dia mengangkat ke dua tangannya. Serangkai kata terucap dari bibir mungilnya


"Ya Allah, kuatkanlah aku, berikanlah aku kesabaran dan ke ikhlasan, supaya aku bisa mempertahankan rumah tangga dengan Mas Gilang, demi anak ini. Aku nggak mau anak ini terlahir tanpa seorang ayah di sisinya." Itulah lantunan doa Andira yang selalu dia panjatkan seusai sholat.


Setelah sholat isya selesai, Andira mengaji. Di saat-saat sulit seperti ini, mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mendekat kan diri pada Rabbnya. Dia akan mengadu semua pada Tuhannya.


Setelah selesai mengaji dan sholat, Andira bangun dan melepas mukenanya. Dia melirik ponselnya. Namun belum ada tanda-tanda kalau Gilang memberi kabar.


"Ah, syukurlah. Pasti Mas Gilang akan pulang. Dia juga belum memberi kabar. Biasanya kan kalau nggak pulang, dia pasti akan kasih kabar."


Setelah selesai Sholat, Andira berbaring di ranjangnya. Dia kemudian terlelap.


Drrrrt drrrtt drrrrt.


Suara getaran ponsel Andira. Andira terperanjak. Dia kemudian membuka whatsapp nya.


*Sayang ku Andira. Mas nggak bisa pulang. Mendadak Mas ada meeting. Mas kayaknya pulangnya besok yah*


Andira tersenyum kecut.


"Mas Gilang, Mas Gilang. Emang kamu fikir, aku anak kecil yang bisa kamu bohongi terus-terusan. Mana ada malam-malam gini meeting. Ada juga meeting ama pacar."


Andira lagi-lagi menangis. Akankah dia menggugat cerai Gilang, sementara dia itu lagi hamil. Akankah Andira kuat tersiksa sampai sembilan bulan?


"Kenapa sih, semuanya jadi seperti ini. Tega sekali dia mempermainkan ku begini. Mana ada jam sepuluh malam meeting." Gumam Andira di sela-sela tangisnya.


...****************...


Pagi ini Andira sudah tampak siap pergi ke butiknya. Dia sudah tampak cantik dan ceria. Dengan gamis dan hijab nya, dia sudah terlihat menawan dengan make up tipisnya yang menghiasi wajahnya.


Seharusnya Gilang beruntung, bisa mendapatkan wanita secantik Andira. Bukan wajahnya saja yang cantik. Tapi dia juga mempunyai kecantikan hati dan akhlak yang baik.


"Bu, ini ada sesuatu buat ibu."

__ADS_1


"Apa?"


"Ini dari Pak fikri."


Andira meraih kantong yang di berikan Mbak Sumi. Andira kemudian membuka isinya.


Andira kemudian tersenyum.


"Susu hamil?"


"Wah, Pak Fikri begitu perhatian yah? Udah bela-belain membelikan susu untuk adiknya."


"Iya Bik. Dia itu calon Om idaman untuk anak ku kelak."


Andira kemudian ke dapur untuk menyimpan kotak susu itu.


"Ah, walau Mas Gilang nggak pernah memberikan aku perhatian, nggak apa-apa. Tapi aku senang kakaknya Mas Gilang sangat baik dengan aku dan calon ponakannya."


Andira kemudian pamit ke Mbak Muti.


"Mbak,aku mau ke butik. Jaga rumah baik-baik yah?"


"Iya Bu. Itu pasti."


"Iya. Hati-hati Bu."


Andira kemudian melangkah kan kakinya keluar rumah. Dia kemudian meluncur dengan mobilnya.


Yah, seperti biasa dia meluncur dan menerjang kepadatan lalu lintas dan jalanan yang berpolusi. Mudah-mudahan saja, perutnya tidak berulah lagi.


Di saat perjalanannya kebutik, tiba-tiba saja dia melihat sosok suaminya sedang bermesraan dengan seorang wanita.


Yah, Gilang bermesra-mesraan dengan sosok wanita lain. Yang pasti bukan Maharani. Kemarin yang Andira lihat adalah sosok Maharani yang seksi tanpa hijab. Namun saat ini pandangan Andira melihat suaminya sedang bermesraan dengan sosok wanita berhijab seperti dirinya.


Di dalam mobilnya Andira menangis. Begitu perih rasanya.


"Ternyata pelakor itu, bukan cuma satu. Tapi pelakor itu, berkeliaran di mana-mana. Tega sekali Mas Gilang. Dia selalu membodohiku. Sebenarnya wanita mana yang akan Mas Gilang nikahi. Aku bingung."


Di saat-saat seperti ini, mungkin Andira harus banyak mengalah. Dia harus mengalah demi si jabang bayinya. Dia tidak mau gara-gara dia memikirkan macam-macam, dia bisa keguguran dan akan kehilangan anaknya. Andira akan mempertahankan sekuat tenaga anaknya itu.


"Aku harus kuat. Aku nggak boleh lemah. Tapi aku sakit. Hatiku sakit...sekali. Bagaimanapun juga aku sangat mencintai Mas Gilang." Gumam Andira.

__ADS_1


Andira masih berdiam diri di mobil. Dia masih melihat jelas dari kaca sepion Gilang merangkul wanita itu dan wanita itu di ajaknya masuk ke dalam mobilnya.


"Ya Allah, itu memang Mas Gilang. Aku nggak salah lagi. Kenapa dia harus bermesraan di pinggir jalan begitu. Kayak nggak ada tempat lain aja sih."


Setelah sosok Gilang raib dari hadapan Andira, Andira melanjutkan menyetirnya sampai ke butik. Sesampainya di sana, Andira terkejut bukan main. Ternyata suaminya sudah ada di depan butiknya.


"Sayang..." Ucap Gilang sembari mendekat ke arah mobil istrinya. Gilang langsung menyambut hangat ke datangan istrinya.


Gilang mencium kening dan kedua pipi Andira.


"Sayang, aku mencintaimu. Tidak ada wanita lain di hatiku sekarang. Cuma ada kamu seorang sayang." Bisik Gilang lirih.


Lagi-lagi Andira tersenyum. Yah, itulah senyum kepahitan yang di rasakannya sekarang.


Gilang dengan sangat mesra merangkul tubuh istrinya. Mereka berdua masuk ke dalam.


"Mas, dari mana aja kamu semalam?" tanya Andira.


"Mas nginep di kantor sayang, Nggak kemana-mana." Kata Gilang menjelaskan.


"Bohong. Pasti Mas bermalamkan di rumah pacar Mas."


Gilang berdiri dari duduknya. Dia kemdian memeluk istrinya dari belakang.


"Kamu wangi sekali sayang. Pakai parfum apa? sekarang yang Mas lihat, kamu jadi semakin cantik."


Andira melepas paksa pelukan suaminya. Namun Gilang malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Lepasin Mas.!"


"Kenapa sayang, Mas kangen. Mas cuma lagi pengin meluk."


Andira mencoba melepas tangan Gilang. Dan akhirnya Gilangpun melepaskan pelukannya.


"Baiklah kalau kamu tidak mau di peluk. Mas lepasin. Tapi untuk hari ini, Mas akan ngajakin kamu untuk makan siang bareng yah."


Andira bingung harus bilang apa. Sebenarnya dia juga rindu dengan Gilang. Namun di sisi lain, dia juga merasakan sakit yang teramat sangat di relung hatinya yang terdalam.


Gilang membelai pipi Andira sebelum dia mencium Andira lagi.


"Sayang, apa yang kamu fikirkan?"

__ADS_1


Andira menggeleng."Aku nggak lagi mikirin apa-apa kok."


Gilang tersenyum. Lagi-lagi dia mencium kening Andira. Entah berapa kali dia itu mencium istrinya. Mungkin dengan beberapa ciuman itu akan membuat istrinya itu luluh. Mungkin saja sekarang Andira luluh, namun entahlah untuk ke depannya, Akankah dia masih menjadi Andira yang tegar.


__ADS_2